BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengingatkan panitia kurban agar menjaga lingkungan pada pelaksanaan Iduladha 1445 H.
Salah satunya dengan meminimalisir penggunaan kantong plastik. Sebagai gantinya, panitia diimbau menggunakan bakul ketika membagikan daging. Atau meminta masyarakat untuk membawa wadah sendiri.
"Kami berharap panitia kurban menaati anjuran Pemko Banjarmasin, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Ketahanan Pangan Peternakan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin," ucap Ibnu, Kamis (13/6) siang di Balai Kota.
Selain meminimalisir penggunaan kantong plastik, Ibnu juga meminta agar panitia kurban bisa mengelola limbah pemotongan hewan dengan baik.
Yakni, dengan tidak membuang jeroan atau isi perut hewan kurban ke sungai. Yang tentunya, bisa mengalir kemana-mana dan dikhawatirkan justru mencemari lingkungan sekitar.
Ia menyarankan, setiap limbah hewan kurban ditangani dengan cara dikubur. Sehingga tidak menimbulkan pencemaran. "Jadi, jangan sampai membuang jeroan ke sungai, tapi ditanam di dalam tanah," tekannya.
"Lebih baik lagi bila proses penyembelihan itu dilakukan di RPH Basirih," harapnya.
Hal itu diutarakan Ibnu bukan tanpa alasan. Dengan memproses penyembelihan di RPH Basirih, daging-daging juga langsung dibungkus. "Tinggal diserahkan kepada masyarakat yang mendapatkan kupon kurban," tandasnya.
Sementara itu, tim pemeriksa hewan kurban Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin mulai melakukan pemantauan terhadap hewan kurban yang akan disembelih pada Iduladha 2024.
Lokasi yang menjadi sasaran adalah Rumah Potong Hewan (RPH) serta para pedagang hewan kurban di Banjarmasin. Petugas melihat bagian fisik, gigi dan kuku. Jika terlihat ada bermasalah, akan dilakukan pemeriksaan secara mendalam.
Kepala DKP3 Banjarmasin, Yuliansyah Effendi menjelaskan, pengecekan yang biasa dilakukan adalah antemortem yakni pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum hewan disembelih. Sedangkan, postmortem merupakan pemeriksaan yang dilakukan setelah hewan disembelih.
“Sementara ini tidak ada penyakit yang berarti, hewan kurban lesu bukan lantaran penyakit melainkan kelelahan dalam perjalanan, tapi nanti tetap dipantau petugas,” katanya, kemarin (14/6).
Meski demikian, Yuliansyah optimis semua hewan kurban yang masuk ke Banjarmasin bebas dari berbagai penyakit. Sebab, sebelum hewan-hewan bisa dibawa oleh pemiliknya, terlebih dahulu diperiksa Balai Karantina Kalsel.
Petugas karantina pasti melakukan pengawasan terhadap lalu lintas hewan ternak untuk memastikan sehat dan bebas dari penyakit. Kemudian hewan-hewan yang dibawa juga telah menjalani masa karantina selama 14-28 hari di daerah asal. “Tugas dari DKP3 hanya meyakinkan saja apa yang sudah dilaksanakan Balai Karantina,” ucapnya.
Lalu berapa jumlah hewan kurban yang masuk ke Banjarmasin pada tahun ini? Yuliansyah menyebutkan jumlahnya hingga Juni sudah 6.000 lebih. Asal hewan ternak dari Kupang, Bali, NTB, Madura, sampai Sulawesi. “Untuk Banjarmasin sekitar 2.300, sisanya dibawa pedagang ke Pelaihari, Batola, Banua Anam bahkan sampai ke Kalteng,” tutup Yuliansyah.
Editor: Sutrisno
Editor : Muhammad Helmi