BATULICIN - Sepekan lamanya banjir merendam Kabupaten Tanah Bumbu. Bupati Tanbu, Zairullah Azhar pun menyatakan kondisi daerahnya sudah darurat.
"Sudah lebih seminggu, ini sudah gawat darurat. Harus ada tindakan progresif," kata Zairullah kepada Radar Banjarmasin saat meninjau banjir di Kecamatan Kusan Hulu, Senin (10/6).
Sebagai solusi jangka panjang, Zairullah meyakini pembangunan Bendungan Kusan akan menjadi kunci utama.
"Ini imbauan kepada pemerintah pusat agar segera memperhatikan pembangunan Bendungan Kusan," ujarnya.
Proposal Bendungan Kusan diusulkan pemkab agar menjadi proyek nasional. Namun, pemkab masih menunggu izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk kawasan pinjam pakai. Sebab, sebagian kawasan bendungan masuk dalam hutan lindung.
Selain pengendali risiko banjir, bendungan ini juga bisa memasok listrik dan mengairi irigasi. Mengairi 18 ribu hektare lahan pertanian.
Sementara untuk solusi jangka pendek, Zairullah menggagas pembuatan kanal sepanjang 11 kilometer di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kusan.
"Setelah selesai peninjauan ke semua kecamatan, kami akan rapat untuk membahas bagaimana tindakan selanjutnya," pungkasnya.
Sementara itu, Camat Kusan Hulu, Abdul Jabar juga berharap bendungan dan kanal itu segera direalisasikan.
"Itu (kanal) masih belum ditindaklanjuti. Ini harus jadi prioritas untuk menangani banjir di Kusan Hulu," ucapnya.
Beberapa waktu lalu, luapan Sungai Kusan sempat melewati dinding pembatas. Akibatnya, Desa Binawara, Anjir Baru, Sungai Rukam, Lasung, dan Manuntung terendam.
Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Bumbu, Christina Dewi Untari mengatakan banjir mulai menunjukkan tanda-tanda surut.
Ditanya soal pengungsi di posko, dia mengaku belum menerima informasi terkini.
"Tim Reaksi Cepat (TRC) belum menginformasikan apakah pengungsi sudah kembali ke rumah atau belum," ujarnya, kemarin.
Disinggung soal data Pusdalops BPBD Kalsel yang menyebutkan belasan ribu jiwa terdampak banjir, Christina enggan berkomentar banyak. Menurutnya, data BPBD perlu diverifikasi dengan data Dinas Sosial.
Diberitakan sebelumnya, Sabtu (8/6), data Pusdalops BPBD Kalsel menyatakan banjir melanda 24 desa di tujuh kecamatan. Meliputi Sungai Loban, Kusan Hulu, Kuranji, Kusan Tengah, Karang Bintang, Satui, dan Batulicin.
Paling parah di Satui dengan 9.773 jiwa terdampak. Selanjutnya Kusan Tengah dengan 3.342 jiwa, Sungai Loban dengan 2.224 jiwa, dan Kusan Hulu dengan 772 jiwa. Lebih dari 200 jiwa terpaksa mengungsi.
Banjir di Martapura
Tak hanya Kabupaten Tanah Bumbu dan Tanah Laut, banjir juga mulai merendam beberapa wilayah di Kabupaten Banjar.
Pantauan Radar Banjarmasin, banjir merendam Kecamatan Martapura Kota, Martapura Timur, dan Astambul dengan ketinggian air bervariasi.
Misalnya di Desa Pekauman. Sungai Martapura meluap dan merendam jalan raya dan beberapa rumah.
"Desa Pekauman ini termasuk dataran rendah, jadi air kiriman dari Pengaron turun kemari. Apalagi sejak Sabtu hujan turun cukup deras," kata Pembakal Pekauman, Siti Aisyah kepada Radar Banjarmasin, Senin (10/6).
Aisyah menambahkan, belum ada warga desa yang mengungsi. Pembelajaran di sekolah juga masih normal. "Mudahan air lekas surut dan tidak berdampak buruk pada masyarakat," harapnya.
Senasib dengan Desa Pekauman, Desa Tunggul Irang juga terendam banjir sejak akhir pekan lalu (8/6).
Dan banjir belum menunjukkan tanda-tanda akan menyurut. "Kalau di gunung masih hujan, mungkin airnya akan lebih dalam lagi. Selain dari gunung, ini juga banjir kiriman dari Riam Kanan," ungkap warga desa, Hadi.
Hingga berita ini ditulis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi banjir.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief