Begitu banyak indikator yang harus dipenuhi sebuah kota agar mendapatkan predikat sebagai Kota Layak Anak (KLA). Sebagai ibu kota Kalsel yang baru, apakah Banjarbaru aman dihuni oleh anak-anak.
****
BANJARBARU – Salah satu indikator Kota Layak Anak adalah terkait kekerasan terhadap anak dan perempuan. Berdasarkan data DP3APMP2KB Banjarbaru, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayahnya sudah mencapai 8 orang pada bulan Januari 2024.
Rinciannya, jenis kekerasan secara psikis dialami tiga anak, secara seksual dialami tiga anak, penelantaran dialami satu anak, serta kekerasan secara psikis kepada satu perempuan.
“Kekerasan kepada anak sebanyak 7 orang, dan kekerasan pada perempuan 1 orang,” ungkap Kepala DP3APMP2KB Banjarbaru, Puspa Kencana.
Kalau mengacu data hingga pertengahan Maret 2024, setidaknya ada empat kasus kekerasan seksual pada anak di bawah umur. Pertama terjadi pada malam pergantian tahun. Korban anak perempuan yang baru berusia 12 tahun, dicabuli pria pengangguran berinisial I (24).
Beberapa hari setelahnya, anak 12 tahun juga dicabuli tiga pria dewasa F (24), MEM (20), M (23) dan satu anak di bawah umur ABH (16).
Selanjutnya kasus kekerasan seksual terjadi di lingkungan Pondok Pesantren di Banjarbaru. Korban 14 tahun mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari seniornya sendiri berinisal MRF (19).
Terakhir, kekerasan seksual melibatkan oknum ASN Instansi Vertikal di Banjarbaru, berinisial AR (42). Pelaku yang memiliki pekerjaan tambahan sebagai guru les private itu melakukan aksi bejatnya kepada muridnya sendiri yang masih berusia 9 tahun.
Para pelaku pada kasus kekerasan seksual terhadap anak tersebut dipastikan telah menjalani proses hukum.
Sedangkan pada tahun 2023, terdapat empat kasus penelantaran bayi di Banjarbaru.
Pertama di rumah warga berlokasi di Kompleks Lambung Mangkurat Regency, Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, pada 29 November 2022 lalu.
Kemudian di Jalan Trikora, tepatnya depan ruko dekat Masjid Agung Al-Munawwarah Banjarbaru, 4 Desember 2022.
Setelah itu selang empat bulan, seorang bayi lagi-lagi ditemukan oleh warga di Jalan Kebun Durian, Kelurahan Guntung Manggis dekat Panti Asuhan Ar Rahmah, 12 April 2023.
Di bulan sama pula, kasus serupa terjadi tepatnya di Jalan Pandawa, Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Senin 24 April 2023.
Dari empat penelantaran tersebut, baru satu yang berhasil diungkap. Kasus di Jalan Trikora.
Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru telah merespons peristiwa oknum guru les private yang berstatus ASN pada instansi vertikal di Banjarbaru. Disdik Banjarbaru menginstruksikan setiap satuan pendidikan untuk membentuk Tim Pencegahan Penanganan Kekerasan (TPPK). Mulai dari tingkat Kelompok Bermain (KB) hingga SMP.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Dedy Sutoyo menyebut hampir semua satuan pendidikan sudah membentuk TPPK. "Persentasenya 93 persen. Sisa 7 persennya yang belum, didominasi satuan pendidikan KB," kata Dedy belum lama tadi.
TPPK bertugas untuk memantau perilaku anak-anak saat berada di sekolah. Supaya bisa mendeteksi lebih dini tindakan kekerasan seksual pada anak.
Menurut Dedy, selain kekerasan seksual, ada dua tindakan dosa besar di lingkungan sekolah yang perlu penanganan khusus. Bullying dan juga intoleransi. "Tiga tindakan tersebut ujung-ujungnya mengandung unsur kekerasan, baik itu verbal maupun non verbal," jelasnya.
Selain melibatkan para guru, TPPK yang dibentuk juga turut melibatkan para orang tua dan psikolog. "TPPK berfungsi menjadi penyalur permasalahan kekerasan ke tim yang lebih besar. Misalnya ke DP3APMP2KB, Disdik, maupun Dinsos Banjarbaru," ujarnya.
TPPK yang sudah terbentuk diharapkan bisa menangani sekaligus melakukan pencegahan kekerasan. "Kami harap keberadaan tim ini tidak hanya sekadar menjadi lip service. Tapi, betul-betul bisa menangani tindak kekerasan pada anak," harapnya.
Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APMP2KB) Banjarbaru sebenarnya juga terus mengampanyekan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kepala DP3APMP2KB Banjarbaru, Puspa Kencana menyebut kampanye tersebut dilakukan untuk memastikan setiap anak memiliki lingkungan yang aman, dan mendukung untuk tumbuh berkembang. Ini juga sesuai dengan harapan dari program Kota Layak Anak (KLA) yang digencarkan pemerintah pusat.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan hanya sebatas pelecehan seksual, melainkan juga terhadap fisik dan psikis. Namun, diakuinya bahwa kasus kekerasan terhadap anak merupakan kasus yang harus ditangani secara komprehensif.
Dinasnya sudah memiliki bidangnya tersebut yakni Unit Pelayanan Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA). Mereka yang akan langsung menangani dan memberikan pendampingan psikologis kepada korban kekerasan.
“Ketika ada terjadi kekerasan akan segera ditangani. Tapi, sebelumnya harus dicek tim terlebih dahulu ke lapangan. Kalau terbukti benar, maka itu akan diselesaikan, dan ada pendampingan oleh psikolog,” jelasnya.
Selain itu, bagi masyarakat yang melihat maupun menemukan di sekitar lingkungannya ada terjadi kekerasan terhadap anak diminta segera menghubungi UPT PPA. “Masyarakat bisa melaporkan melalui hotline atau datang langsung ke Kantor DP3APMP2KB Banjarbaru,” ucapnya.
DP3APMP2KB Banjarbaru juga berkomitmen untuk memberikan keadilan kepada anak dan perempuan atas tindakan kekerasan yang mereka alami. Puspa mengakui kekerasan terhadap perempuan dan anak masih saja terjadi.
"Kami hadir untuk memberikan hak pendampingan kepada pada korban. Di samping itu selalu melakukan tindakan pencegahan," katanya.
Puspa berharap melalui gencarnya kampanye dapat membawa perubahan positif dalam membangun lingkungan lebih aman dan ramah anak. Puspa juga menginginkan kesejahteraan anak dan perempuan menjadi prioritas utama dalam pembangunan Kota Banjarbaru.
"Kami terus mengupayakan perlindungan anak dan perempuan. Apalagi sekarang Banjarbaru sedang dalam proses menuju Kota Layak Anak (KLA) dengan predikat Nindya," jelasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief