Tragedi Jumat Kelabu di Banjarmasin pada 23 Mei 1997 memang sangat memilukan. Bukan berarti peristiwa yang memakan banyak korban jiwa itu harus dilupakan.
****
BANJARBARU - Sekali dalam setahun baru ada penziarah. Kalimat ini yang mungkin bisa menggambarkan kondisi pemakaman massal korban Tragedi Jumat Kelabu di Jalan Ahmad Yani Km 22, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.
Seperti yang terlihat pada Kamis (23/5) siang. Tempat persemayaman terakhir ratusan korban peristiwa memilukan tersebut diziarahi para mahasiswa di Kalsel
Ada dua rombongan mahasiswa yang berziarah. Salah satunya dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Mereka sengaja meninggalkan keseruan momen libur nasional dan cuti bersama perayaan Waisak tahun ini, hanya untuk mendoakan para korban kerusuhan di Banjarmasin 1997 silam tersebut.
Sembari membacakan doa, mereka juga menabur bunga di salah satu atang tanpa nama yang ada di lokasi makam massal. “Ini merupakan tahun kedua. Syukur antusias dari kawan-kawan sangat tinggi dibanding tahun lalu,” kata Ketua BEM ULM, Muhammad Syamsu Rizal.
Menurutnya, ziarah ini bertujuan untuk merawat ingatan generasi muda di Kalsel tentang Tragedi Jumat Kelabu. Meski belum lahir ketika peristiwa kerusuhan itu pecah, Rizal berharap cerita kengerian Jumat Kelabu tak pernah luntur. “Kami berharap kejadian kelam ini tidak terulang kembali di masa mendatang. Karena kejadian ini menyisakan luka yang mendalam bagi keluarga korban, dan warga yang menyaksikan secara langsung,” ungkapnya
Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari juga mendatangi pemakaman massal di Banjarbaru. Bukan hanya berdoa, mereka juga membersihkan sampah dan rumput liar di sekitaran area pemakaman massal tersebut.
“Dengan membersihkan sampah dan semak rumput yang ada di sekitar, kita harap bisa sedikit memberikan dampak,” ujar Ketua Umum Dema Fakultas Ushuluddin dan Humaniorah UIN Antasari, Siti Maimunah.
Diakuinya, bahwa Tragedi Jumat Kelabu memang jadi catatan kelam bagi Kalsel. Maimunah berharap kejadian serupa tak terulang di masa mendatang.
“Dari kejadian tersebut, kita bisa ambil hikmahnya ke depan. Masa lalu biarlah berlalu, sekarang kita fokus berbenah untuk masa depan,” tuturnya.
Ada Penziarah Lagi
Tragedi Jumat Kelabu pada 23 Mei 1997 silam masih segar di ingatan warga Kalsel, meski sudah 27 tahun berlalu. Tak ada catatan pasti mengenai jumlah korban dalam tragedi yang terjadi Banjarmasin itu. Namun yang jelas ada ratusan jasad yang dimakamkan secara massal di TPU milik Pemko Banjarmasin di Jalan Ahmad Yani Km 22, Gang PDI, Landasan Ulin, Banjarbaru tersebut.
Dari tahun ke tahun jumlah peziarah yang datang ke pemakaman massal itu terus berkurang. Hal itu diungkapkan oleh penjaga TPU Pemko Banjarbaru, Samuji. Peziarah yang datang saat ini, hanya keluarga yang merasa jika kerabatnya termasuk jadi korban tewas pada kerusuhan 27 tahun silam. "Peziarah yang datang semakin tahun semakin sepi. Baru beberapa tahun terakhir saja, ada mahasiswa yang datang," katanya.
Padahal, sepengetahuan Samuji, jumlah jasad yang dimakamkan di sana lebih dari 100 orang. "Ratusan korban tanpa identitas dimakamkan di sini (pemakaman massal, red). Tapi sayang sangat jarang ada yang menziarahi,” ungkapnya.
Minimnya penziarah membuat area pemakaman terlihat seperti tak terurus. Banyak ditumbuhi rumput liar. Bahkan plang atau penanda area pemakaman massal korban Jumat Kelabu pun tampak usang dan rusak. Meski demikian, Samuji tetap berusaha terawat. “Kami rutin memotong dan menyemprot tumbuhan liar yang di sini,” sebutnya.
Kondisi Pemakaman Tragedi Jumat Kelabu
- Pemakaman massal ratusan korban Tragedi Jumat Kelabu berlokasi di Jalan Ahmad Yani Km 22, Landasan Ulin, Banjarbaru.
- Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Gang PDI itu milik Pemko Banjarmasin.
- Jumlah peziarah semakin berkurang setiap tahun.
- Ratusan kuburan tanpa nama itu banyak ditumbuhi rumput liar.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief