Jika para mahasiswa datang berziarah dengan aksi tabur bunga dan bersih-bersih area makam, berbeda halnya yang dilakukan oleh Mulyani. Pria berusia 47 ini datang ke lokasi pemakaman sambil menenteng sebuah lukisan berukuran sekitar 120x75 sentimeter.
Sambil ia membaca doa, lukisan itu kemudian diletakkannya di samping tiang penanda pemakaman massal Jumat Kelabu. Rupanya, aksi tersebut sengaja dilakukan Mulyani untuk menguatkan bahwa para korban yang dimakamkan di sana meninggal karena sebuah peristiwa kerusuhan di Banjarmasin. Setelah selesai berdoa, Mulyani menceritakan bahwa situasi mencekam yang terjadi 27 tahun silam itu terekam kuat di ingatannya.
Bahkan, ia ingat betul warna langit berubah menjadi merah akibat kebakaran hebat yang terjadi tepat 27 tahun lalu. “Waktu itu saya melihatnya dari muara Sungai Barito,” katanya, Kamis (23/5).
Lukisan dengan dominan warna gelap itu menggambarkan suasana Mitra Plaza yang terbakar. Ada banyak mayat berhamburan. Ada juga yang melakukan penjarahan.
Warga asal Banjarbaru ini mengaku menyelesaikan lukisan tersebut perlu waktu dua hari. “Setiap goresan di lukisan ini, saya seakan masuk dalam kejadian tersebut. Terbayang bagaimana mencekamnya kondisi saat itu,” sebutnya.
Semasa mudanya, Mulyani pernah bekerja di Mitra Plaza sebagai seorang waiter tempat hiburan karaoke. Satu bulan lamanya.
Tiga bulan sebelum peristiwa Jumat Kelabu, Mulyani berhenti dari tempat kerjanya. “Jadi saya tahu persis bagaimana posisi-posisi yang ada di Mitra Plaza. Meski tak melihat secara langsung ketika peristiwa,” tuturnya.
Melalui lukisan tersebut, Mulyani ingin kejadian kelam 1997 tak pernah terlupakan. Ia juga berharap peristiwa itu dapat menjadi pelajaran bagi generasi di masa mendatang. “Semoga para korban tenang di sana, dan kita harap kejadian kelam 27 tahun lalu tidak akan terulang lagi,” ucapnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief