"No such thing as a free lunch", idiom itu kiranya tepat untuk menggambarkan program makan siang gratis yang diluncurkan tahun 2025 depan.
****
PRESIDEN dan Wapres terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka bertekad memenuhi janji kampanyenya. Memberikan makan siang dan susu gratis untuk puluhan juta pelajar Indonesia.
Simulasinya bahkan sudah digelar di beberapa daerah, dari Tangerang hingga Bogor.
Program ini akan dibahas dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 nanti.
Publik menyorot karena program ini luar biasa mahal. Sementara ruang fiskal negara sudah sempit. Apalagi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga belum rampung.
Dalam rapat kabinet bersama Presiden Jokowi di Istana Negara, akhir Februari lalu, muncul angka Rp100,8 triliun per tahun.
Rinciannya, makan siang Rp75,6 triliun dan susu Rp25,2 triliun. Sasarannya 57,98 juta siswa untuk 225 hari sekolah.
Muncul kekhawatiran, program itu akan membebani APBN. Hingga subsidi BBM dan subsidi listrik terpaksa dikurangi.
Lantas, bagaimana gen Z di Banjarmasin memandang program maksi plus susu gratis itu?
Muhammad Reza Adha mengaku selalu mendukung kebijakan pemerintah pusat.
Pemuda kelahiran Maret 2001 itu mengatakan, makan siang dan susu gratis adalah program baru yang menarik.
"Berbicara pendidikan, asupan gizi seimbang itu penting agar kemampuan berpikir anak berkembang," katanya kepada Radar Banjarmasin, Ahad (12/5).
"Karena logika tanpa logistik itu berat," tambah alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari itu.
Namun, ia menuntut program ini tepat sasaran. "Siapa yang berhak mendapat program itu? Apakah semua anak sekolah negeri dan swasta, atau hanya sekolah negeri saja. Itu masih menjadi pertanyaan," jelasnya.
Selain tepat sasaran, juga transparan. "Ini menyangkut pengeluaran negara. Harus transparan pada masyarakat," tegasnya.
"Terakhir, pemerintah juga harus punya gol yang jelas dari program ini," tutup Reza.
Berbeda dengan pendapat Abdurrahman Alghifari. Ia berharap, mumpung belum berjalan, program ini dikaji ulang secara serius.
"Apakah betul program makan siang dan susu gratis ini yang diinginkan masyarakat?" ujarnya kemarin.
Mahasiswa FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu menyoal besarnya anggaran yang dibutuhkan program ini.
Melihat pengalaman Indonesia, anggaran besar kerap menjadi bahan bancakan.
"Perhatikan juga bagaimana kondisi keuangan negara. Jangan sampai mengorbankan program lain yang jelas skala prioritasnya," tambah pemuda kelahiran Mei 1999 itu.
Baginya, kata kuncinya adalah kebutuhan. "Karena program yang sukses adalah program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat," tekannya.
Abdur berandai-andai, mengapa tidak dialihkan ke subsidi pendidikan saja. Sebab sekarang biaya kuliah sangat mahal.
"Atau kalau bisa gratiskan saja pendidikan. Saya rasa itu lebih dibutuhkan masyarakat," sarannya.
"Saya lebih mendukung program yang benar-benar dikaji untuk kemaslahatan masayarakat," tutup Abdur.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief