BANJARMASIN - Angka kematian ibu dan bayi di Kalsel tercatat masih ada. Bahkan, bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2023 tadi, jumlah kematian ibu saat melahirkan jumlahnya mencapai 195 kasus.
Sementara di tahun 2022, tercatat sebanyak 136 kasus. Mengalami kenaikan sebanyak 92 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Raudatul Jannah mengakui kenaikan itu. “Memang angkanya ada. Dan ini menjadi catatan kami (Dinkes Kalsel, red) saat rapat bersama DPRD Kalsel,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Jika dibandingkan dengan tahun 2021, kasus kematian ibu mengalami penurunan. Saat itu jumlahnya tercatat sebanyak 205 kasus. “Sempat tinggi, dan menurun selama dua tahun ini. Alhamdulillah bisa ditekan,” katanya.
Dia mengungkap faktor hipertensi paling berpengaruh. Persentasenya 55 persen. “Disusul perdarahan 27 persen,” ungkapnya.
Sementara angka kasus kematian bayi, tahun 2023 tadi tercatat 740 kasus. Angka itu naik dibanding tahun 2022, kasusnya sebanyak 630 kasus. “Kabupaten HSU tercatat tertinggi. Dengan persentase 19,7 persen, disusul Tapin dengan persentase 19,4 persen,” terangnya.
Menekan dua kasus itu, pihaknya terus berupaya menguatkan peran petugas kesehatan hingga di tingkat bawah. Seperti bidan. Tak hanya itu, pemberian gizi yang memadai terhadap ibu hamil menjadi fokus pihaknya.
Upaya pencegahan melalui mitigasi ke tempat pelayanan kesehatan, seperti puskesmas terus dilakukan. “Monitoring kehamilan menjadi penting. Untuk kontrol dan pemberian gizi,” terangnya.
Ia berharap peran keluarga harus aktif. Kontrol dan melaporkan ke pelayanan kesehatan. “Peran aktif keluarga sangat kami harapkan,” tambahnya.
Wakil Ketua Pansus IV DPRD Kalsel, Gina Mariyati menekankan pada program kerja tahun ini, Dinkes Kalsel mesti menjadikan fokus utama dalam menekan kasus kematian ibu dan bayi di Kalsel. “Angka kematian ibu dan bayi ini harus bisa ditekan. Jangan sampai terus meningkat,” pesannya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief