Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rokok Mengandung Bahan Kimia Pembunuh, Uap Vaping Bikin Begini

Sheilla Farazela • Senin, 15 April 2024 | 07:59 WIB

 

Ilustrasi Rokok
Ilustrasi Rokok

Rokok memang memberikan sensasi senang dan tenang sesaat, tetapi itu semu. Merokok membawa banyak bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Staf KSM Paru RSUD Ulin, dr Ira Nurrasyidah menyebutkan berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebatang rokok terkandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Bahkan, 250 di antaranya berbahaya dan 70 bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.

Kandungan tersebut berasal dari bahan baku utama rokok, yaitu tembakau. Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun. “Termasuk sekitar 1,3 juta orang bukan perokok yang menjadi perokok pasif," ungkapnya.

Sekretaris Prodi PPDS Pulmonologi FKIK ULM itu menyebut dampak yang ditimbulkan pada lingkungan dengan adanya perokok dalam rumah adalah kanker. Bahkan meningkatkan risiko kanker pada non-perokok/perokok pasif dalam rumah, karena sudah terkontaminasi zat nikotin di dalam rumah.

Paparan zat sisa rokok pada aktivitas merokok dalam rumah juga dapat memicu inflamasi paru yang dapat berakibat pada Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan asma. “Serta menghambat penyembuhan luka pada permukaan kulit," sebut dr Ira.

Dampak asap rokok bukan hanya pada perokok, juga orang di sekitarnya, terutama anak-anak. Asap rokok dapat menyebabkan stunting, gangguan penyerapan gizi, kelainan kongenital, hingga Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). “Istilahnya third hand smoke atau orang ketiga,” ucapnya.

Dokter spesialis Paru yang sedang melanjutkan Program Doktoral Biomedik FKIK ULM ini menyebut kandungan rokok lainnya yang bersifat karsinogenik adalah tar. Tar yang terhirup oleh perokok akan mengendap di paru-paru. Timbunan tar ini berisiko tinggi menyebabkan penyakit pada paru-paru, seperti kanker paru-paru dan emfisema.

Tidak hanya itu, tar akan masuk ke peredaran darah dan meningkatkan risiko terjadinya diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan kesuburan. Tar dapat terlihat melalui noda kuning atau cokelat yang tertinggal di gigi dan jari. “Karena tar masuk secara langsung ke mulut, zat berbahaya ini juga dapat mengakibatkan masalah gusi dan kanker mulut," ujarnya.

Bila sudah terlanjur merokok, dr Ira berpesan agar diupayakan sebisa mungkin untuk mengurangi, bahkan menghentikan kebiasaan buruk merokok tersebut.

"Sering kali orang beranggapan untuk berhenti merokok tradisional, dan beralih ke vaping. Karena vaping dipandang sebagai pilihan yang lebih sehat. Faktanya, vaping juga menyimpan potensi bahaya yang tidak boleh diremehkan," tuturnya.

Bahaya vaping itu sendiri, ujar dr Ira, dapat memberikan dampak negatif pada sistem kardiovaskular. Karena kandungan nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, yang bisa berujung pada masalah jantung.

Vape memang tidak menghasilkan tar seperti rokok. Namun, uapnya tetap berbahaya karena menyebabkan iritasi dan peradangan di saluran pernapasan. Juga memengaruhi fungsi paru-paru. “Bagi yang ingin berhenti merokok, konsultasikan dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan metode yang aman dan terkontrol,” ujarnya.

Dosen Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran ULM Rika Vira Zwagery mengatakan merokok tak hanya berefek pada kesehatan fisik, tapi juga psikologis. Dampaknya berbeda-beda pada setiap orang. Nikotin dalam rokok menyebabkan ketergantungan yang memengaruhi emosi dan perilaku.

Pada beberapa orang, rokok memberikan efek tenang dan nyaman. Ketika tidak merokok, mereka akan mencari rokok untuk mendapatkan ketenangan tersebut. “Jika tidak terpenuhi, mereka akan kesulitan mengontrol diri, berperilaku agresif, dan merasa tertekan, yang dapat memicu masalah perilaku lainnya,” terangnya.

Para perokok umumnya sudah mengetahui dampak dan bahaya rokok bagi kesehatan. Namun, mereka belum memiliki kesadaran untuk berubah, terutama bagi yang sudah kecanduan. “Rokok sering dijadikan pelarian dari masalah, karena efek nyaman dan tenang yang sebenarnya hanya bersifat sementara,” terangnya.

Hal ini membentuk kebiasaan yang sulit diubah, tanpa keinginan kuat dari perokok. Pendekatan psikologis dapat menjadi alternatif intervensi untuk mengurangi perilaku merokok, salah satunya dengan psikoterapi.

Secara sederhana, perokok yang ingin berhenti merokok membutuhkan cara untuk menghilangkan kebiasaan buruk dengan mencari kegiatan pengalihan yang lebih bermanfaat dan positif. Selain itu, ia bilang, afirmasi positif kepada diri sendiri bahwa mampu berhenti merokok juga dapat membantu.(dza/jum/gmp/ibn/zkr/she)

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#rokok #kesehatan #makanan