Pernah dengar alua? Camilan yang satu ini datang dari Kabupaten Hulu Sungai Utara. Seperti apa rasanya?
Alua adalah manisan pepaya. Rasanya legit. Variannya ada yang basah, dan juga kering.
Bahan utamanya buah pepaya setengah matang. “Wajib setengah matang, yang mulai berwarna keorenan,” ucap Jubai, warga asli Amuntai, salah seorang pembuat manisan ini.
Pepaya setengah matang memiliki tekstur yang masih keras. Tidak hancur saat diolah menjadi manisan.
Buah itu dikupas dan diiris sesuai selera. Cuci hingga bersih. Selanjutnya rendam pada wadah berisi air yang telah dilarutkan dengan kapur sirih. “Perendaman ini perlu waktu 3 jam hingga lebih. Fungsinya untuk mengeraskan tekstur buah, sehingga irisan pepaya itu jadi kaku,” terangnya.
Setelah cukup lama direndam, saat untuk membilas pepaya dengan air bersih. Lalu maju ke proses perebusan.
Rebus pepaya tadi selama beberapa menit, kemudian tiriskan. Masukkan ke panci, tambahkan gula, garam, daun pandan, asam sitrun dan air. “Masak hingga mendidih, lalu dinginkan,” ujar Jubai.
Manisan ini biasa dikonsumsi sebagai selingan makanan berat. Pencuci mulut saat selesai menyantap makanan utama.
Pada momen tertentu, alua juga disajikan sebagai pelengkap sajian kue pengantin atau acara selamatan. Penyajiannya pun unik, seperti ditusuk-tusukkan pada lidi seperti sate.
Meskipun sudah cukup langka, manisan ini terkadang masih dijual di pasar-pasar tradisional. Seiring perkembangan zaman, alua pepaya ini juga dijual secara pre order lewat media sosial.
“Atau cobalah untuk mengolah sendiri. Karena pengolahan manisan ini sangat sederhana,” tuntasnya. (tia/gr/dye)
Editor : Arief