Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bukber, Sumber Anxiety?

Tia Lalita Novitri • Senin, 1 April 2024 | 11:49 WIB
Salah satu manfaat buka puasa bersama saat Ramadan adalah dapat menciptakan interaksi yang positif.
Salah satu manfaat buka puasa bersama saat Ramadan adalah dapat menciptakan interaksi yang positif.

Ramadan adalah bulan reuni. Bersiaplah menerima undangan buka bersama dari grup teman SMA atau kuliah. Sayangnya, reuni yang semestinya menyenangkan, bisa berubah menjadi menyebalkan.

     *****
MENJADI menyebalkan ketika reuni menjadi ajang pamer pencapaian.

Ada teman yang lama tak terlihat, kini sudah naik mobil. Punya pekerjaan dengan gaji dua digit.
Ada kawan yang dulu pemalu, kini ceriwis dan trendi. Penuh pesona. Menjadi pusat perhatian.
Ada pula yang dahulu begitu-begitu aja, sekarang ternyata tetap begini-begini aja.

Tanpa disadari, reuni berkedok bukber telah meningkatkan kecemasan generasi muda. Hidup menjadi semacam lomba lari.

Gen Z asal Banjarmasin, Norhalinda, sepakat. Reuni harusnya menjadi ajang yang seru, momen pelepas rindu.

"Apakah bukber sembari reuni penting? 9/10 menurutku. Ini penting sekali," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Ahad (31/3).

Linda menyadari, waktu bersama kawan-kawan lama itu kini sangat terbatas. Jika di weekend tak bisa, Ramadan adalah opsi lainnya untuk bersua.

"Biasanya setiap tahun mengadakan bukber alumni sekolah," beber alumni SMK Bina Banua itu.
Reuni menjadi asyik ketika diikuti teman-teman sefrekuensi. Tidak banyak embel-embel, yang penting bisa berkumpul dan menikmati suasana.

"Dan menjadi tidak mengasyikan, jika reuni menjadi ajang perbandingan pencapaian," ungkap Linda.

Menurutnya, reuni menjadi momok apabila bertemu dengan si kurang peka. Yang berkali-kali memamerkan harta, di saat yang lain tampak berusaha menyembunyikan kesulitannya.

"Aku pernah di posisi itu. Lagi di bawah sekali, tidak punya apa-apa. Saat reuni, dia sibuk membanding-bandingkan," tutur perempuan kelahiran tahun 2000 itu.

Situasi semacam itu memang di luar kendali. Namun, Linda bisa menanggapinya dengan santai dan legawa.

Memuji si tukang pamer adalah formula ampuh untuk membuatnya diam. Karena mereka biasanya memang butuh pengakuan. Butuh validasi.

Berkaca dari pengalamannya, Linda berhati-hati memilih topik pembahasan saat reuni. Ia enggan membahas pekerjaan lebih dalam. Apalagi tentang penghasilan.

"Takutnya ada teman yang lain merasa rendah diri, tersinggung atau semacamnya," sarannya.

Bukber yang ideal menurutnya adalah reuni yang sederhana. “Tidak ada persaingan, yang penting bisa kumpul bersama,” tutupnya.

Gen Z lainnya, Afiarda Ananda punya pendapat sendiri. Freelancer asal Banjarbaru ini menilai, reuni menjadi berguna jika bisa saling membantu.

“Sharing job misalnya,” imbuh pemuda yang gemar fotografi ini.

Ia menambahkan, reuni yang berkesan adalah reuni yang bisa membantu teman sepermainannya. Juga membantu sesama lewat hal-hal kecil. “Seperti bagi-bagi takjil,” ucap alumni SMAN 1 Banjarbaru itu.

Sama seperti kumpul keluarga besar, reuni juga kadang bikin insecure.

Bersiaplah dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Kerja di mana? Mana pasangannya?

“Harusnya ini ajang silaturahmi, jangan malah bikin orang minder,” ujarnya.

Nanda juga menegaskan, reuni adalah momennya nostalgia. Tumpahkan saja cerita-cerita lucu semasa belia. Ini saatnya tertawa bersama.

Di sisi seriusnya, jadikan ini momennya bertukar pikiran. “Jalin kerja sama bisnis atau perluas jaringan,” sarannya.

“Kalau ada yang mau pamer, mending suruh balik aja,” pungkasnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#ZPEAK UP #buka bersama #ramadan #kesehatan mental