Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin, Hari Raya Nyepi Berlangsung Begini

M Oscar Fraby • Selasa, 12 Maret 2024 | 08:27 WIB
TENANG: Umat Hindu mengikuti upacara di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin sebelum Hari Raya Nyepi.
TENANG: Umat Hindu mengikuti upacara di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin sebelum Hari Raya Nyepi.

BANJARMASIN – Keadaan sepi, sunyi, dan hening terjadi di Pura Agung Jagat Natha, Banjarmasin, Senin (11/3) kemarin. Berbeda sehari sebelumnya Minggu (10/3), ratusan umat Hindu memadati pura di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin Timur itu.

Umat Hindu di situ menggelar persembahyangan sebelum Hari Raya Nyepi dilaksanakan. Mereka melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga.

Tawur Agung Kesanga memiliki makna membersihkan Jagat Bhuana Alit dan Bhuana Agung berdasarkan pada konsep Tri Hita Karana. Intinya menyelaraskan hubungan tiga elemen penting yakni manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia.

Sebelum Tawur Agung Kesanga, terlebih dulu dilaksanakan upacara Mecaru. Ini tradisi jelang malam nyepi yang dimaknai dapat mempercantik alam satu tahun ke depan. Upacara Mecaru bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual kepada manusia agar selalu menjaga dan merawat alam dan lingkungan sekitarnya.

Penasihat Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin, Made Dresta mengatakan ada hal-hal penting dari perayaan Hari Raya Nyepi yang harus dipahami. Nyepi berarti sepi, sunyi, hening, tidak ada suara, tidak ada lampu menyala, tetap tenang berada di dalam rumah, tidak ada aktivitas, menyalakan api, makan, minum maupun hiburan. “Namun hanya fokus melakukan konsentrasi pikiran memuja Tuhan Yang Maha Esa,” paparnya.

RITUAL: Umat Hindu ditanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual kepada manusia, alam, dan Tuhan.
RITUAL: Umat Hindu ditanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual kepada manusia, alam, dan Tuhan.

Tujuannya untuk menyucikan Bhuana Alit dan Bhuana Agung. “Maknanya sendiri, sebagai upaya menjaga keseimbangan alam antara Bhuana Agung (alam semesta) dengan Bhuana Alit (diri manusia),” jelasnya.

Made Dresta menambahkan, keseimbangan ini dapat terjadi apabila manusia mampu mengendalikan egonya, keserakahannya, serta tidak mengambil sumber daya alam secara berlebihan yang bisa mengakibatkan penderitaan.

Sebagai jemaah, I Made Suyasa bersyukur perayaan Nyepi tahun ini berjalan aman, nyaman, damai dan tenteram. “Satu harapan saya sebagai umat Hindu di Indonesia, bisa mendapatkan ketenangan dan kesucian, khususnya dalam beribadah,” tuturnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#umat #nyepi #banjarmasin #hindu