Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

ZPEAK UP! Kamehameha Terakhir Akira Toriyama (1955-2024)

Wahyu Ramadhan • Senin, 11 Maret 2024 | 09:58 WIB
Dragon Ball
Dragon Ball

Pengarang manga Akira Toriyama meninggal pada usia 68 tahun. Mahakaryanya, Dragon Ball, akan tetap hidup dalam benak penggemarnya. Rest in power.

      ***
DRAGON Ball berawal dari pertemuan bocah bangsa Saiyan asal planet Vegeta, Goku dengan gadis bumi yang baru mekar, Bulma.

Mereka bertualang mencari tujuh bola kristal yang terpencar. Ketika disatukan, muncul Dewa Naga yang bisa mengabulkan satu permintaan.

Mau setajir Haji Isam atau pengin memenangi Pilpres, apapun bisa dikabulkan.

Manga ini terbit dari tahun 1984 sampai tahun 1995. Terdiri dari 42 volume. Di seluruh dunia, Dragon Ball terjual 230 juta copy.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Elex Media Komputindo. Menemani masa kecil generasi 90-an.

Kemarin, 1 Maret 2024, Akira Toriyama meninggal pada usia 68 tahun.

Kepergian Toriyama membawa duka mendalam bagi penggemar karya-karyanya. Tak terkecuali pembacanya di Indonesia.

Bagaimana gen Z di Banjarmasin mengenang Toriyama dan legasinya?

Hairil Azwar mengaku lebih dulu mengenal karya Toriyama dari serial kartun televisi.

Baginya, kepergian Toriyama merupakan pukulan berat bagi dunia manga.

"Sebab karyanya telah memengaruhi banyak orang. Seperti mangaka Eiichiro Oda (One Piece) dan Masashi Kishimoto (Naruto)," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Ahad (10/3).
Hairil bahkan mengakui, Dragon Ball lah yang membuatnya jatuh cinta pada olahraga bela diri.

"Saya ingin seperti Son Goku, terus berlatih. Menjadi kuat dan tidak mudah menyerah," kata pemuda kelahiran Mei 1998 itu.

"Sampai Goku jadi kakek-kakek pun, saya masih mengidolakannya sebagai tokoh utama," tambahnya.

Sayangnya, menurut Hairil, di Indonesia belum ada kreator sekaliber Toriyama. "Bahkan untuk penamaan karakter dalam komiknya saja, saya pikir masih kurang keren," ucap karyawan swasta itu.

Namun, ia masih berharap beberapa tahun lagi bakal ada kreator komik Indonesia yang sanggup bersaing. Menandingi komik luar.

Sementara mahasiswa komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Octavian Fery Hidayat, semasa kecil kerap menantikan Dragon Ball di televisi pada hari liburnya.

"Lalu bermain bersama teman-teman, memperagakan masing-masing karakternya," kenangnya.

"Bermain dengan imajinasi. Dari mengeluarkan jurus Kamehameha hingga Bola Semangat," tambah pemuda kelahiran Oktober 2002 itu.

Beranjak dewasa, karena sudah tak lagi ditayangkan di televisi, Fery berpindah membaca manganya.

"Menemani waktu luang, menghilangkan suntuk," ujarnya, kemarin.

Soal dominasi manga Jepang, Fery menduga, kemungkinan lantaran banyaknya genre dan ide yang disajikan.

"Ada banyak tema revolusioner yang berasal dari komik Jepang," ujarnya.

Ditambah alur cerita dan pengembangan karakter yang unik dan ikonik. "Seperti Naruto, One Piece, Bleach, dan lainnya," sebutnya.

Kemudian, produksi dan promosi yang masif. Manga dan anime telah menjadi bagian dari budaya pop (pop culture) dunia.

Bagaimana dengan komik lokal? Fery dengan jujur mengaku tidak banyak mengetahui.
Ia hanya tahu Gundala dan Sri Asih. Itu pun lantaran difilmkan.

Ia menilai, kurang populernya komik-komik lokal karena komik Jepang terlebih dahulu mendominasi. "Bisa juga karena jarang promosi atau adaptasi ke film," tambahnya membandingkan.

Setidaknya, pengarang komik Indonesia mulai bermunculan. "Berkat internet. Jadi mudah diakses. Sekarang kita mengenal komik Terlalu Tampan, Trikster, Si Juki dan lainnya yang populer di platform Webtoon," tutupnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#dragon ball #ZPEAK UP #anime