DIRTY Vote bukan film bergenre dokumenter. Ini film horor.
Selama 1 jam 57 menit, kita menonton tiga pakar hukum berpakaian serba hitam di studio yang gelap. Silih berganti bicara menghadap kamera.
Oleh SYARAFUDDIN
Redaktur di Radar Banjarmasin
Dalam bahasa sederhana, mereka mendedahkan bagaimana cara setan-setan culas dan tidak tahu malu menghantui republik yang kita cintai ini.
Dirty Vote kian berbahaya lantaran pemilihan waktu penayangannya. Dirilis setelah 75 hari kampanye yang mengharu biru. Diputar jelang hari pencoblosan 14 Februari, timing-nya tidak bisa lebih tepat dari ini.
Saya sendiri langsung mencarinya di YouTube, begitu mengetahui film ini disutradarai Dandhy Dwi Laksono.
Nama Dandhy adalah jaminan mutu dalam dunia jurnalistik. Anda tentu masih ingat dengan film Sexy Killer yang ia garap pada Pilpres 2019.
Bagi saya, Dandhy adalah oposan sejati. Duri dalam sepatu penguasa.
Dan masa tenang ini, semakin menjadi tidak tenang. Kelar Dirty Vote, langsung lanjut menonton Bocor Alus Tempo edisi Gila-gilaan Kecurangan Pilpres.
Jika film Dandhy mengungkap kecurangan di level makro, di tataran pengambil kebijakan. Maka siniar Tempo menyingkap kecurangan di level akar rumput dengan contoh-contoh kasus.
Kita tidak naif. Ya, kita mendengar ada yang diintimidasi dan disandera. Kita melihat aparat negara yang tidak netral. Kita mengetahui bansos dilipatgandakan dan dipolitisir. Kita juga meragukan integritas KPU dan Bawaslu.
Tapi saya yakin, Anda pun tidak berani menduga bahwa kecurangannya bakal semasif ini, bukan?
Semuanya demi mencapai misi satu putaran. Yang paling menyakitkan, sebagian dari ongkos misi muskil ini dibiayai oleh uang pajak kita.
Di hadapan para “orang baik” ini, demokrasi seperti kain pel. Dipakai untuk mengelap sisa darah dari persalinan sang anak haram konstitusi.
Maka jika pembaca kebetulan belum menonton Dirty Vote, please, luangkan waktu sejenak dan nyaringkan volume-nya.
Namun, sehabis menonton jangan malah putus harapan. Jangan pesimis. Justru harus marah.
Sebab republik sedang membutuhkan bantuan kita. Caranya? Tidak harus heroik.
Contoh, seorang kawan berjanji akan bertahan di TPS sampai akhir. Mau duduk atau berdiri. Dengan kamera gawai siap mengawal perhitungan surat suara hingga lembar terakhir. Dia keren sekali.
Sementara saya siap membuat pengecualian. Tahun ini saya tidak akan golput.
Saya melihat beberapa kawan tergerak membantu pemenangan Anies Baswedan atau Prof Mahfud MD. Tetapi motivasi saya jauh lebih sederhana. Bukan soal 01 atau 03.
Nawaitu saya adalah mengalahkan Presiden Joko Widodo dan paslon yang disponsorinya.
Karena saya masih marah setelah membaca wawancara Andi Widjajanto, mantan rekan seperjuangan Jokowi.
Eks Gubernur Lemhanas itu bercerita, ia sempat dipanggil ke istana. Di situ Jokowi menyampaikan tiga hal: Prabowo pasti menang, PSI pasti masuk Senayan, dan suara PDIP pasti turun.
Dan Bapak Presiden berujar, “Kalian hebat kalau bisa mengalahkan saya.”
Manusia searogan ini harus mencicipi manisnya kekalahan.
Editor : Arief