BANJARMASIN - National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) atau Proyek Ketahanan Banjir Perkotaan Nasional akan mulai menggarap Sungai Veteran, tahun ini.
Ditargetkan, proyek fisik mulai berjalan pada semester dua atau Juni nanti.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, I Putu Eddy Purna Wijaya mengatakan, saat ini lelang untuk konsultan perencanaan sudah dimulai.
Sesudah itu akan ada review desain. "Mau lahannya tersedia atau tidak, proses ini tidak terpengaruh, akan tetap berjalan," ujarnya, Senin (29/1).
"Setidaknya, walaupun pengerjaan konstruksinya belum bisa, tapi review desainnya sudah ada," tambahnya.
"Karena ini sudah menjadi tanggung jawab kami," tekannya.
Eddy memahami, konstruksi baru bisa dikerjakan ketika lahan yang dibutuhkan tersedia.
Pengadaan lahan tersebut untuk peningkatan kapasitas sungai. "Yang awalnya sempit menjadi lebih lebar," ujarnya.
Selanjutnya, BWS akan mengurus persetujuan pendanaan. Sebab dana proyek bersumber dari World Bank.
Dana yang dibutuhkan mencapai Rp800 miliar. "Kami terus berkomunikasi secara intens. Melalui email maupun zoom meeting," ungkapnya.
Soal desain, BWS akan menyesuaikan dengan keinginan Bank Dunia. Yakni desain yang mengusung Nature Based Solution (NBS).
Yaitu pembangunan yang lebih melek terhadap kondisi lingkungan dan perubahan iklim.
"Isu perubahan iklim telah menjadi isu global. Dan pembangunan kota diminta memerhatikan itu. Intinya akan kami tata dan dibikin cantik," jaminnya.
Secara teknis, selain melebarkan sungai hingga tujuh meter dari ujung ke ujung, Sungai Veteran juga akan dibebaskan dari jembatan.
Sebagai ganti jembatan, akan dibangun jalan lingkungan yang terkoneksi. "Untuk pembebasan jembatan, ini urusan rekan-rekan di pemko," jelasnya.
Dari komunikasi terakhir, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin menyatakan kesiapannya.
"Katanya siap untuk pembebasan lahan, tinggal pembayaran (ganti rugi). Di kawasan yang lebih dulu dibebaskan, di situ kami kerjakan," pungkas Eddy.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) di BWS Kalimantan III, Ridwan Fauzi menambahkan, pengerjaan konstruksi diperkirakan berjalan selama dua tahun dalam skema tiga tahun anggaran.
Tahap pertama, dari Kelenteng Soetji Nurani sampai ke Jalan Simpang Ulin."Kami juga akan menambahkan pembuatan pintu air dan rumah pompa," ujarnya.
"Ada tiga titik untuk rumah pompa ini. Di kawasan kelenteng, di anak Sungai Bilu, dan kawasan ujung Sungai Gardu," sebutnya.
Fauzi berharap, pengerjaan konstruksi ini tidak akan tertunda. "Tahap awal, lahan yang dibutuhkan sekitar 90 persen. Tapi kami menyesuaikan saja. Sefleksibel mungkin," imbuhnya.
Diwartakan sebelumnya, di Indonesia, Banjarmasin termasuk yang terpilih untuk dibantu NUFReP. Program ini berjalan dari 2023 hingga tahun 2028 mendatang.
Kepala Dinas PUPR Banjarmasin, Suri Sudarmadiah menjamin, lahan di kawasan Sungai Veteran telah siap dibebaskan.
Namun, untuk pencairan ganti rugi masih menunggu proses audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Ditaksir pembebasan lahan itu memerlukan anggaran Rp300 miliar. "Insyaallah tidak terlalu lama lagi akan dibayarkan," kata Suri.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief