Sudah lama patung bekantan raksasa di Siring Pierre Tendean itu "sakit-sakitan". Mulutnya tak lagi menyemburkan air ke arah pengunjung.
****
BANJARMASIN - Wajah patung perunggu itu mengarah ke Sungai Martapura. Di depannya ada dermaga kelotok wisata.
Bagi pelancong, kurang lengkap rasanya bila tak berswafoto di depan maskot yang diresmikan tahun 2015 itu.
Namun, belum satu dekade, patung seharga Rp2,6 miliar itu "sakit". Sudah lama mulut bekantan itu berhenti beratraksi.
Informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, terjadi kerusakan di bagian mesin penyedot airnya.
"Tidak sesuai dengan foto promosi yang saya lihat. Saya kira masih menyembur. Ternyata sudah tidak lagi," ucap Oktavian, salah seorang pengunjung siring, Selasa (23/1).
Warga Handil Bakti, Barito Kuala itu menganggap inilah ikonnya Banjarmasin. Semacam etalase kota, selain Menara Pandang.
"Semoga nanti pas ke sini lagi sudah menyembur. Kan asyik juga. Seperti Patung Merlion milik Singapura," harapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Puryani tak menyangkal kondisi patung itu.
"Sudah setahun tidak menyemburkan air," ujarnya kepada Radar Banjarmasin di kantornya, kemarin.
Ia juga membenarkan terjadi kerusakan di bagian mesin penyedot air. Penyebabnya, karena yang tersedot bukan hanya air sungai, tapi juga lumpur.
"Di awal-awal mesin itu masih kuat menyedot. Tapi karena yang disedot bercampur lumpur, mesinnya jadi lekas panas. Sampai akhirnya rusak total," jelasnya.
Apakah hanya karena itu? Rupanya tidak.
Hasil inventarisir pihaknya, kerusakan sudah menjalar ke jaringan pipanya. "Di dalam jaringan pipanya ditemukan banyak endapan lumpur," tambahnya.
Puryani mengaku sudah menyiapkan solusi jangka pendek dan jangka panjang.
Jangka pendek, perbaikan mesin penyedot dan pemasangan filter di pipanya. "Agar yang disedot hanya air dan mengurangi endapan lumpurnya," ujarnya.
"Insyaallah bulan Maret nanti diperbaiki," janjinya.
Untuk servis mesin penyedot airnya saja ditaksir Rp25 juta. "Tapi bila mengacu perhitungan konsultan, perbaikannya membutuhkan anggaran lebih Rp100 juta," lanjutnya.
Adapun solusi jangka panjang, Puryani berencana membuat kolam penampungan di sekitar kawasan patung.
Agar air yang disedot maupun yang dialirkan hanya berasal dari kolam. Tidak lagi dari sungai yang rentan surut.
Puryani mengaku prihatin melihat kondisi patung bekantan di samping Jembatan Dewi itu. Karena sedari awal patung itu dibangun untuk menjadi ikon pariwisata.
"Setiap orang yang datang ke Banjarmasin, pasti ingin berfoto di situ. Tapi airnya malah tidak keluar," ucapnya.
"Makanya sejak saya masuk Disbudporapar, perbaikan ikon ini menjadi salah satu prioritas saya," tegasnya.
Selain itu, juga akan ada pengecatan ulang patung dan pengaturan jam operasional atraksi semburan air.
"Mungkin tidak lagi menyembur selama 24 jam penuh. Bisa jadi operasionalnya sama seperti air mancur di Jembatan Pasar Lama," ujarnya.
Kemudian, bila memungkinkan, buah yang dipegang si bekantan pun bakal diganti.
"Akan kami coba ganti. Karena sepintas, patung itu seperti memegang buah duku. Bukan pucuk rambai yang biasa dimakan bekantan," tutupnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief