Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kapan Museum Kayuh Baimbai Dibuka? Dinas: Mungkin Bulan Depan

Wahyu Ramadhan • Rabu, 10 Januari 2024 | 10:14 WIB
DITUTUP PAGAR SENG: Museum Kayuh Baimbai di Muara Kelayan, Banjarmasin Selatan, kawasan tepian Sungai Martapura.
DITUTUP PAGAR SENG: Museum Kayuh Baimbai di Muara Kelayan, Banjarmasin Selatan, kawasan tepian Sungai Martapura.

BANJARMASIN - Akhirnya, koleksi Museum Kayuh Baimbai milik Pemko Banjarmasin mulai diisi. Dalam waktu dekat museum di Muara Kelayan itu segera dibuka.

"Mungkin, bulan depan (Februari) sudah dibuka. Museum bisa dikunjungi secara gratis," ucap Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwasata (Disbudporapar) Banjarmasin, Puryani, Selasa (9/1).

Ditambahkannya, dari koleksi 400 benda bersejarah, seratus benda telah diletakkan ke dalam museum.

"Yang belum masuk adalah jejak digital atau arsip kota. Terus dilengkapi sambil jalan," ujarnya.
Saat ini, museum itu membutuhkan dua hal: pagar museum dan pengurusnya.

"Pejabatnya sudah ada. Tinggal menunggu SK (surat keputusan) wali kota. Untuk pengurusan pendaftaran ke pusat tinggal melengkapi persyaratan administrasi," jelasnya.

Selain itu, lajur khusus untuk pengunjung disabilitas juga belum dibuat. Puryani berjanji, akses itu akan tersedia pada APBD Perubahan nanti.

"Jadi, kami bukan diam. Apa-apa yang perlu dibenahi, akan kami benahi," tegasnya.

Puryani juga membuka kesempatan pada masyarakat yang ingin menitipkan barang bersejarah miliknya untuk disimpan di museum ini.

Terpisah, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menjamin kepengurusan museum akan segera disahkan.

Lalu, museum di Banjarmasin Selatan itu akan didaftarkan ke Museum Nasional (Museum Gajah).
"Dengan spesifikasi museum sejarah milik Banjarmasin," ungkapnya.

"Paling tidak ke Museum Nasional dahulu. Baru nanti bekerja sama dengan museum lain, misalnya museum di Belanda," sambungnya.

Ia juga meminta warga yang memiliki benda pusaka, tapi khawatir tak bisa merawatnya, untuk menyerahkannya ke museum.

Apakah disumbangkan atau dibeli, nanti akan dibicarakan lebih lanjut dengan tim kurator.
"Karena tim ini yang bisa menilai benda mana yang memiliki nilai sejarah," ujarnya.

Ibnu menginginkan museum ini menjadi semacam perekam perjalanan dan perkembangan Banjarmasin sebagai sebuah kota tua di Kalimantan. 

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#museum #benda bersejarah