RANTAU - Sepanjang tahun 2023, Kabupaten Tapin mencatat 100 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan 3 orang meninggal dunia. Data ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3) Dinas Kesehatan Tapin, Puji Winarta, Rabu (3/1).
Puji Winarta mengatakan bahwa kasus DBD tersebar di beberapa puskesmas di Tapin, dengan Puskesmas Tapin Utara sebagai yang terbanyak dengan 23 kasus. Disusul oleh Puskesmas Bakarangan dengan 21 kasus, Puskesmas Lokpaikat dengan 18 kasus, Puskesmas Banua Padang dengan 14 kasus, dan Puskesmas Tambaruntung dengan 6 kasus.
"Selain itu, ada juga Puskesmas Hatungun dan Puskesmas Binuang dengan masing-masing 5 kasus, Puskesmas Tambarangan dengan 2 kasus, dan Puskesmas Margasari dan Puskesmas Salam Babaris dengan masing-masing 1 kasus. Hanya Puskesmas Piani dan Puskesmas Baringin yang tidak ada kasus DBD," ujar Puji Winarta.
Puji Winarta menambahkan bahwa kasus DBD sebagian besar terjadi pada kelompok usia 5-15 tahun. Ia mengatakan bahwa Dinas Kesehatan Tapin telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan DBD, seperti membuat surat kewaspadaan dini (SKD) DBD yang disebarkan ke puskesmas, melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai 3M plus dan gotong royong membersihkan lingkungan, melakukan surveilans berkelanjutan terhadap adanya kasus, menyiapkan logistik, dan meningkatkan sumber daya manusia.
"Kami juga berharap respons cepat dari masyarakat jika ada yang mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, ruam, atau perdarahan. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat, baik itu puskesmas maupun rumah sakit, agar dapat ditangani dengan tepat dan tidak terjadi kematian," kata Puji Winarta.
Puji Winarta juga mengatakan bahwa Dinas Kesehatan Tapin telah melakukan fogging di radius 100 meter dari rumah penderita DBD atau di daerah yang ditemukan minimal 3 orang dengan gejala demam panas mendadak dan 5 persen rumah positif jentik. Ia mengatakan bahwa fogging bertujuan untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penular virus Dengue penyebab DBD.
Sementara itu, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Sanggul Rantau, masih ada 13 pasien yang dirawat akibat DBD. Direktur RSUD Datu Sanggul Rantau, Dokter Milhan, mengatakan bahwa pasien DBD yang dirawat kebanyakan adalah anak-anak. Ia mengatakan bahwa tren pasien DBD meningkat sejak Oktober 2023.
"Di Oktober ada 33 pasien, kemudian November ada 61 pasien, dan di Desember ada 193 pasien. Sedangkan untuk tiga yang meninggal, penyebabnya adalah keterlambatan membawa ke fasilitas kesehatan dan ada pasien yang belum saatnya pulang, tapi dipaksakan untuk pulang," jelas Dokter Milhan.
Dokter Milhan mengimbau kepada masyarakat untuk segera membawa anak-anak yang mengalami gejala DBD ke fasilitas kesehatan. Ia juga mengatakan bahwa kondisi pasien DBD yang dirawat saat ini dalam keadaan baik.
"Kondisinya bervariasi, intinya sebagian besar yang dirawat kondisinya baik. Kami terus memantau dan memberikan perawatan yang optimal kepada pasien DBD," ucap Dokter Milhan.
Editor: Ramli Arisno
Editor : Arief