BANJARBARU - Masyarakat Kota Banjarbaru sedang dibuat waswas oleh banyaknya temuan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di daerah ini.
Di Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang misalnya, sudah ada dua warga yang terjangkit penyakit dari gigitan nyamuk jenis Aedes Aegypti itu. “Satu dirawat di RSD Idaman, satunya lagi di RSI Sultan Agung,” ungkap Hendra warga Pengayuan.
Kemudian, di Kompleks Wella Mandiri, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, sudah terdapat empat kasus DBD dalam sebulan terakhir. “Masih ada satu warga yang menjalani perawatan di rumah sakit,” ungkap Ketua RT 15/ RW 03 Kelurahan Syamsudin Noor, Yuli Anwar.
Ia mengaku sudah mengkoordinasikan kejadian ini kepada pihak terkait, seperti petugas Puskesmas dan kelurahan setempat.
Banyaknya temuan kasus DBD dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarbaru, dr Juhai Triyanti Agustina. "Memang belakangan ini banyak ditemukan kasus DBD," ungkapnya.
Bahkan, hingga pekan ke-46 pada 2023, Dinkes Banjarbaru mencatat sudah 314 warga Kota Idaman yang menderita DBD. Para pasien tersebut tercatat saat melakukan pengobatan di Fasilitas Kesehatan (Faskes) di Banjarbaru.
Selain itu, Juhai juga mengakui jumlah kasus DBD pada 2023 mengalami peningkatan dua kali lipat bila dibandingkan tahun sebelumnya dengan periode yang sama. "Kasus DBD pada 2022, dari Januari sampai Desember hanya 140. Sedangkan tahun ini sudah 314 kasus," bebernya.
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa lepas dengan musim penghujan yang saat ini melanda wilayah Kota Banjarbaru. Sebab, pada cuaca seperti inilah kata Juhai jadi momen untuk nyamuk berkembang biak.
Karena itu, ia meminta masyarakat untuk waspada terhadap penyakit yang dibawa oleh gigitan nyamuk itu. "DBD merupakan penyakit yang perlu diwaspadai, karena dapat menyebabkan kematian dan dapat terjadi karena lingkungan yang kurang bersih," ujarnya.
Berbagai upaya ujar dr Juhai bisa dilakukan oleh masyarakat, untuk mencegah penyebaran wabah DBD. Satu di antaranya adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.
Yakni menguras tempat yang sering menjadi penampungan air, seperti bak mandi, kendi, drum dan tempat penampungan air lainnya. Lalu, menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum.
Menutup juga jelas dr Juhai dapat diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas di dalam tanah, agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk.
"Kemudian memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), khususnya yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah," jelasnya.
Sedangkan makna kata plus pada kegiatan 3M, di antaranya memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, dan menggunakan obat anti nyamuk.
Kemudian memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, gotong royong membersihkan lingkungan, memeriksa tempat-tempat penampungan air, dan meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief