Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kasus DBD Bermunculan di Banjarbaru, Warga Harus Berantas Sarangnya

M Fadlan Zakiri • Jumat, 8 Desember 2023 | 10:41 WIB

 

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

BANJARBARU – Musim hujan yang melanda Kota Banjarbaru, membuat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) bermunculan di mana-mana.

Contohnya di sekitar Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang. Sudah ada dua warga terjangkit penyakit yang dibawa oleh gigitan nyamuk jenis Aedes Aegypti ini. “Satu dirawat di RSD Idaman. Satunya lagi di RSI Sultan Agung,” ungkap warga Pengayuan, Hendra.

Di salah satu kompleks perumahan di Kecamatan Landasan ulin, juga dikabarkan sudah terdapat empat kasus DBD. “Dalam kurun waktu sebulan terakhir, sudah ada empat warga kami yang terserang demam berdarah. Sampai hari ini masih ada satu warga menjalani perawatan di rumah sakit,” ungkap Ketua RT 15/ RW 03 Kelurahan Syamsudin Noor, Yuli Anwar.

Ia mengaku sudah mengoordinasikan kejadian ini kepada petugas puskesmas dan kelurahan setempat. Kalau ada kasus, ia mengimbau warganya segera melaporkan. “Supaya segera dapat penanganan lebih lanjut. Mengingat objek kejadian (kasus DBD, red) di tempat kami ini dekat dengan sekolah SD yang notabenenya banyak anak-anak sekolah,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi, pihak puskesmas di kedua wilayah tersebut membenarkan bahwa memang ada ditemukan kasus penyakit yang gejalanya mengarah ke DBD. Kepala Puskesmas Liang Anggang, Nani Andriani mengatakan bahwa dalam beberapa pekan ini pihaknya menerima pasien DBD. “Iya beberapa minggu ini memang ada yang DHF (Dengue Hemorrhagic Fever). Ini bahasa medisnya selain DBD,” ungkapnya.

Namun, Nani tidak menyebutkan berapa jumlah pasien DBD yang berobat di Puskesmas Liang Anggang.

Petugas Pengelola Program DBD di Puskesmas Guntung Payung, Saniah mengungkapkan kasus DBD di wilayah Puskesmas Guntung Payung sudah ditindaklanjuti jajarannya dengan menurunkan petugas kesehatan untuk melakukan investigasi dan pengecekan lapangan.

“Kami lebih menggencarkan pembagian bubuk abate dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar, supaya bisa disiplin menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat),” ungkap Saniah.

Apakah temuan kasus ini bakal ditindaklanjuti dengan fogging atau pengasapan? Saniah menyebut bahwa puskesmas sudah lama tidak melakukannya lagi. “Fogging ini manfaatnya boleh dikatakan tidak efektif. Karena cara ini malah akan membuat nyamuk akan semakin resisten alias kebal,” bebernya.

Metode ini hanya mengusir nyamuk satu sampai dua hari saja. Sedangkan dalam dua hari, kata Saniah, sumber nyamuk DBD yakni jentik nyamuk yang tidak dibasmi akan menjadi dewasa. “Fogging/pengasapan itu alternatif terakhir. Lebih baik tingkatkan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Karena dengan PSN, akan memutus mata rantai penularan penyakit DBD,” bandingnya.

Sebetulnya, kata Saniah, kegiatan fogging ini sudah hampir setiap hari dilaksanakan masyarakat secara mandiri. Tepatnya saat pemakaian obat nyamuk bakar, semprot, maupun elektrik.

Pihaknya berharap ada kerja sama semua warga untuk bersama-sama berantas jentik nyamuk. Tingkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan 3 M plus. Rutin menguras dan menyikat tempat penampungan air minimal 1 pekan sekali. Menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas.

Warga bisa menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender, serai, dan lainnya yang tidak disukai nyamuk. “Kami mengimbau kepada warga agar waspada penyakit DBD. Penyakit DBD jangan ditakuti, tapi kita harus mewaspadai dengan cara tingkatkan perilaku hidup bersih dan sehat,” tegasnya.

Saniah juga mengimbau untuk memakai obat nyamuk/lotion, memakai kelambu, memelihara ikan pemakan jentik seperti cupang, memakai abate bila memiliki penampungan yang sukar dikuras.

 

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Muhammad Helmi
#banjarbaru #Kasus #DBD