Lomba yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi itu menjadi wadah pelajar SD, SMP, dan SMA di Indonesia untuk mengembangkan projek berbasis sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM).
Para pemenang diumumkan Jumat (17/11) pekan lalu.
Guru pembimbing tim, Andreas Febri Kris Kurniadi mengaku bangga atas prestasi muridnya. Apalagi ini ketiga kalinya sekolahnya meraih gelar nasional di ajang Kihajar STEM.
Pertama, pada 2021, SMP Kristen Kanaan keluar sebagai juara terkritis. Di tahun 2022 keluar sebagai juara umum.
"Dan tahun ini kembali meraih juara umum," ujarnya lewat sambungan telepon, Kamis (23/11).
Tidak mudah untuk menang di lomba tersebut. Sebab tahun ini diikuti 7.204 tim. Persaingannya sangat ketat.
"Berbeda dengan tahun lalu yang hanya diikuti dua ribu tim," sebutnya.
"Serasa mengikuti empat lomba sekaligus. Karena mesti melewati berbagai fase untuk sampai ke final," kisahnya.
Namun Andreas belum puas. Ia berharap inovasi anak didiknya bisa dikembangkan. Bermanfaat untuk membantu mengatasi stunting (tengkes) di Kalimantan Selatan.
"Kami berharap ada pelaku usaha yang siap diajak bekerja sama. Sehingga inovasi ini juga bisa menghidupkan lapangan kerja," harapnya.
Senada dengan anggota tim SMP Kristen Kanaan. Marvello Sunny Wijaya. "Kami berharap ilmu kami dapat diimplementasikan," ujarnya.
Marvello mengaku bersyukur bisa membawa sekolahnya kembali juara.
"Perjuangan empat bulan membuahkan hasil sepadan. Terima kasih guru dan sekolah yang mendukung sejak awal projek," tambahnya.
Di tim juara ini, Marvello berjuang bersama Alfanno Husodo dan Michael Frederick Sindunata.
Dari penelitian mereka bertiga, kelakai yang selama ini kerap disayur masyarakat Banjar, ternyata mengandung zat besi dan vitamin C yang tinggi. Cocok untuk mengatasi anemia dan mencegah stunting.
Penelitian itu juga diperkuat dengan hasil diskusi bersama Puskesmas Gadang Hanyar, tak jauh dari sekolah.
Secara teori, risiko stunting meningkat ketika remaja atau ibu hamil kekurangan zat besi.
Temuan SMP Kristen Kanaan hadir pada momen yang tepat. Ketika stunting menyedot perhatian pemerintah pusat dan daerah.
Proses pengolahannya, digunakan jenis kelakai hijau. Daunnya dipilah, dicari yang bagus dan dicuci sampai bersih.
Kemudian dikeringkan, dihaluskan dengan diblender, lalu diayak sampai benar-benar halus. Serbuk itulah yang dijadikan kapsul.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief