Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Paman Birin Didampingi Sandi Fitrian Noor Ziarah di Indragiri Hilir Ke Makam Ulama Besar Kelahiran Dalam Pagar Martapura

Muhammad Helmi • Sabtu, 18 November 2023 | 13:25 WIB

Photo
Photo
RIAU – Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor atau Paman Birin bersama putranya H Sandi Fitrian Noor melakukan ziarah ke makam Syekh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari atau Guru Sapat di Dusun Hidayat, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuindra, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau pada Jumat (17/11) petang.

Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq merupakan seorang ulama besar Inhil kelahiran Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1857. Meninggal di Sapat, Kuindra, Kabupaten Inhil, Riau pada 10 Maret 1930.


Paman Birin bersyukur saat menghadiri kegiatan Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) di Indragiri Hilir, Riau, berkesempatan singgah ke makam ulama besar kelahiran Dalam Pagar, Martapura ini. "Alhamdulillah. Ulun bersyukur hari ini berkesempatan berziarah ke makam ulama Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Sapat. Salah satu ulama dari Banjar," kata Paman Birin.


Tuan Guru Sapat memang diakui memiliki daya tarik religius yang sangat kuat. Tidak hanya diperingati haulnya setiap tahun oleh masyarakat. Namun, makamnya pada hari-hari biasanya juga terus didatangi oleh jemaah atau wisatawan dari berbagai pelosok nusantara, hingga negara tetangga.


Paman Birin beserta rombongan memanjatkan doa kepada Allah SWT yang dipimpin Guru Supian Al Banjari untuk keberkahan Banua dan Indonesia. Pada ziarah itu pula, Paman Birin menyempatkan bersilaturahmi dengan warga sekitar makam Tuan Guru Sapat.


Syekh Abdurrahman Siddiq adalah seorang ulama asal Banjar keturunan ulama besar dari Kalsel bernama Syekh Arsyad Al-Banjari. Ia merupakan anak dari Muhammad Afif bin Khadi H Mahmud dan Shafura. Ia sudah dikenal di mana-mana, bahkan sampai di Makkah, karena juga menjadi pengajar di Masjidil Haram. Bahkan memiliki murid yang tersebar sampai ke Singapura, Malaysia, Jambi, Palembang, dan Kalimantan.


Tuan Guru Sapat sudah menetap di Sapat, Kecamatan Kuindra, Inhil sejak sekitar tahun 1890-an hingga wafat. Saat mengunjungi makamnya terasa sekali nuansa religinya. Walaupun bangunannya biasa saja dengan dikelilingi kawasan yang relatif sepi, ia menjadi ulama besar di Kerajaan Indragiri. Tuan Guru Sapat merupakan mufti kerajaan Indragiri, atau ahli agama yang ditugaskan kerajaan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam. Ditunjuk langsung oleh Sultan Indragiri khususnya dalam urusan perkawinan, mawaris pengadilan dan perceraian.


Sebelum menetap di Sapat, tuan guru yang pernah memperdalam ilmu di Makkah selama 7 tahun ini, sempat merantau ke Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Ia menjalankan usaha sebagai penyepuh emas, sembari berdakwah ke pelosok-pelosok Sumbar.


Tuan guru juga pernah di Bangka Belitung sesaat setelah sampai di Kalimantan. Atas izin dari birokrasi pendidikan Makkah, Tuan Guru Sapat kembali ke tanah air dengan alasan ingin mengabadikan ilmu yang didapat di kampung halaman.
Meskipun telah tiada, karya-karyanya yang berbentuk kitab seperti Sifat Dua Puluh, Sittin Masalah dan Jurumiah, Asrarul Shalah Min’iddatil Kutubi Al Mu’tamadah, Syair Ibarat dan Kabar Kiamat, serta banyak lainnya. Bahkan sebagai literasi di banyak pusat pusat pendidikan Islam, seperti pesantren dan madrasah.(mul/adpim/gr/dye)

Editor : Muhammad Helmi
#Pemprov Kalsel