Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sumpah Bahasa Pemuda, Digempur Bahasa Gaul

M. Syarifuddin • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 18:26 WIB
Photo
Photo
Radar Banjarmasin hampir tak pernah melewatkan Hari Sumpah Pemuda tanpa edisi khusus. Jika sebelumnya tentang ketokohan belia, kali ini sisi berbeda. Poin ketiga Sumpah Pemuda menarik perhatian. Berbunyi "Kami Putra-Putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia". Pertanyaannya, apakah terkait bahasa ini masih relevan dengan semangat muda-mudi masa kini?

Variasi bahasa tak terbendung lagi di era sekarang. Mulanya terdengar aneh, lama-lama terbiasa.

Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan 2023, Ramdani menilai generasi muda sekarang punya pola pikir berbeda tentang bahasa. "Anak muda berasumsi bahwa bahasa asing lebih keren, terdengar intelek, dan lebih bernilai," ujarnya.

Dampaknya penggunaan Bahasa Indonesia kini tak lagi utuh. Kata-kata bahasa Inggris pun disisipkan, sehingga mirip gado-gado, bercampur-campur. "Menyisipkan kata asing saat berbicara juga dianggap anak muda lebih mengekspresikan diri mereka," ucap lelaki kelahiran Sungai Tabuk tahun 2001 itu.

Kebiasaan itu menular dari satu ke yang lainnya. Hingga akhirnya bahasa bercampur ini membudaya di kalangan muda. "Membuat Bahasa Indonesia tidak lagi merdeka di rumahnya sendiri. Sedangkan tokoh Sumpah Pemuda berjuang untuk itu," ungkapnya.

Namun, Ramdani mengakui variasi bahasa sebagai kreativitas anak muda juga berpotensi menambah kosakata baru. Ia bahkan tak menyangka, kata bucin, baper, mabar dan mager masuk dalam KBBI. "Ternyata ada di kamus. Artinya variasi bahasa diakui, dan tidak serta merta buruk," bandingnya.

Menurutnya, kata gaul tersebut tidak menjadi masalah jika dipakai pada momen yang tepat. Artinya, pemuda-pemudi Nusantara harus paham bahwa posisi Bahasa Indonesia berada di posisi teratas jajaran bahasa.

Pandai bahasa Inggris pun kini menjadi nilai plus. Perkembangan teknologi informasi membuat antar negara tak lagi terbatas ruang dan waktu. Dapat berkomunikasi kapan saja, di mana saja. Bahasa Inggris menjadi modalnya. "Kita berbahasa asing untuk menginternasionalisasi Bahasa Indonesia jadi lebih bermartabat. Artinya semakin luas peluang kita untuk mengenalkan bahasa kita," ucap Ramdani.

Lewat predikat yang ia raih, Ramdani juga punya kesempatan lebih untuk mengampanyekan bahasa. Dengan harapan Bahasa Indonesia tetap diutamakan. "Prinsipnya sama dengan slogan Duta Bahasa, yakni utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing," tegasnya.

Bahasa Sebagai Identitas Negara


Bahasa Indonesia bagian dari identitas Nusantara. Jika hal ini dianggap remeh, tentu tidak akan masuk Sumpah Pemuda. Negeri kepulauan ini punya 1.340 suku dan 715 bahasa. Bahasa Indonesia mempersatukan perbedaan itu.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Ahsani Taqwiem memandang poin ketiga Sumpah Pemuda ini spesial. Jika di dua poin sebelumnya ada kata "mengaku", poin ketiga berisi kata "menjunjung".

Ia berpandangan bahwa sejak mula naskah Sumpah Pemuda disusun, pemuda masa lalu menyadari bahwa bahasa adalah sesuatu yang dinamis. Artinya berkembang seiring zaman. "Bahasa yang dipakai adalah ‘menjunjung’ sebagai gambaran keutamaan Bahasa Indonesia," tutur Koordinator Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia ULM itu.

Lalu bagaimana pemuda-pemudi masa kini memaknainya? Bagi Ahsani, sederhana saja. Bersikap positif terhadap Bahasa Indonesia. "Perkembangan bahasa terjadi seiring pesatnya kemajuan zaman. Tidak masalah pandai bahasa lain, tapi jangan merendahkan Bahasa Indonesia," ujar Ahsani.

Ia kerap mendapati pandangan miring terhadap Bahasa Indonesia oleh kaum muda. Entah dianggap kaku, kuno, terlalu formal atau tidak gaul. "Kalau dibilang memprihatinkan, iya," ucapnya mengomentari pandangan miring tersebut.

Kreasi bahasa pun bermunculan. Ada yang singkatan, serapan bahasa negara lain, imbuhan dan sebagainya. Dianggap lebih mudah diterima, penggunaannya pun kian masif. Lantas, apakah kita harus terusik dengan karena tren ini? Tidak! "Justru harus diapresiasi. Ini bagian dari perkembangan bahasa. Tapi, sikap positif terhadap Bahasa Indonesia harus dipertegas," sarannya.

Hingga saat ini, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merangkum sekitar 129 ribu kosakata. Jumlah ini pun bertambah setiap harinya. Apakah kata gaul boleh masuk dalam KBBI? "Rasanya panjang sekali perjalanannya," ujar Ahsani. Prosesnya melalui uji oleh ahli bahasa. Apakah kata tersebut memiliki padanan kata, atau berdiri sendiri?

Popularitas kata baru itu juga bagian dari pertimbangan. Setelah diteliti, ahli bahasa kemudian mengajukan usulannya ke forum yang lebih besar. "Ada yang dibahas dalam kongres ahli bahasa," terang Ahsani.

Jika diterima, kata baru itu akan mejeng di KBBI. Ahsani mencontohkan kata "oppa" yang berarti kakak laki-laki dalam bahasa Korea. Saking masifnya budaya Korea di kalangan pemuda Indonesia, kata ini pun diadaptasi dan masuk di KBBI. "Saat diketik di pencarian, pengertian oppa ada di situ," bebernya.

Meski terbuka bagi perkembangan bahasa, Ahsani mengingatkan tetap mengutamakan Bahasa Indonesia adalah cara tepat merefleksikan poin ketiga Sumpah Pemuda. "Variasi bahasa tak bisa dihindari, tinggal bagaimana kita tanamkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia," pesannya.

Target 200.000 Entri Tahun 2024


Kosakata gaul yang masuk KBBI jumlahnya terus bertambah, karena terdapat pembaruan dua kali dalam setahun. April dan Oktober.

Per pemutakhiran pada Oktober 2022, ada 1.244 kata baru yang dicatat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa milik Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Selain itu, ada pula penambahan 1.317 makna baru dan 292 contoh baru.

Tim KBBI juga melakukan perubahan entri sebanyak 285, perubahan makna 806, perubahan contoh 201. Tak lupa, tercatat pula entri non-aktif sebanyak 27.

Berdasarkan urutan abjad dari Z hingga A, berikut daftar berisi beberapa bahasa gaul baru di KBBI per Oktober 2022 beserta maknanya dilansir dari KBBI V daring. Pertama adalah Wibu, yang artinya orang yang terobsesi dengan budaya dan gaya hidup orang Jepang.

Unyu (lucu). Santuy (santai). Saltik (salah ketik). Pulkam (pulang kampung). Pelakor (perebut laki orang atau sebutan untuk perempuan yang menggoda dan merebut suami orang maupun menjadi selingkuhan). Pansos atau panjat sosial alias usaha yang dilakukan untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyai status sosial tinggi, dilakukan melalui cara mengunggah foto, tulisan, dan sebagainya di media sosial. Nyokap (ibu).

Meme atau cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sebagainya atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan penambahan kata-kata/tulisan-tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur.

Maljum (malam Jumat). Maksi (makan siang). Mager atau malas (ber)gerak; enggan atau sedang tak bersemangat melakukan aktivitas. Lebay atau Berlebihan (mengenai gaya bicara, penampilan, dan sebagainya). Kuper (kurang pergaulan). Kicep atau diam karena takut atau gelisah. Kepo atau rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain.

Kece (cantik). Kating (kakak tingkat). Julid atau iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain, umumnya diluapkan dengan menulis komentar, status, atau pendapat yang menyudutkan orang tertentu di media sosial.

Jayus (tak lucu). Gebetan atau seseorang yang sedang ditaksir atau disukai. Doi atau pacar, bisa juga berarti ‘ia (laki-laki)’ dan uang. Cogan (cowok ganteng). CLBK atau cinta lama bersemi kembali. Cie (kata seru yang dipakai untuk memuji atau menggoda seseorang agar tersipu). Bokek (tak punya uang). Bokap (ayah). Ambyar atau bercerai-berai, berpisah-pisah, tak terkonsentrasi lagi. Ambis (ambisius). Alay atau anak layangan atau gaya hidup yang berlebihan untuk menarik perhatian.

Koordinator Revitalisasi Bahasa Daerah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Titik Wijanarti mengatakan bahwa kata-kata baru tersebut kebanyakan adalah hasil kreativitas berupa akronim dari kalimat yang biasa digunakan. "Biasanya untuk mempermudah pengucapan oleh anak-anak zaman sekarang," ucapnya.

Meski demikian, Titik menilai bahwa kreativitas anak muda zaman sekarang dalam menciptakan kosakata baru bukanlah sebuah permasalahan yang dapat merusak Bahasa Indonesia. "Bahkan, kosakata hasil kreativitas mereka tersebut dapat memperkaya kosakata Bahasa Indonesia. Contoh kata alay sekarang sudah masuk di KBBI," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa KBBI bukanlah kamus Bahasa Indonesia baku. KBBI adalah kamus umum yang menghimpun semua kata yang umum digunakan oleh masyarakat. "Kata alay misalnya, tetap diberi label akronim (akr) dalam bahasa cakapan," jelasnya.

Total entri KBBI saat ini ada 120.465. Angka ini ditargetkan bertambah menjadi 121.000 hingga akhir tahun. "Kerena pada tahun 2024, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, E Aminuddin Aziz menargetkan total entri KBBI mencapai 200.000," ungkapnya.

Strategi pemutakhiran yang dilakukan adalah dengan menggali kosakata bahasa daerah dan kosakata bidang ilmu. Ini yang biasa lakukan di balai dan kantor bahasa di seluruh Indonesia.

Selain itu, digunakan pula metode urun daya (crowdsourcing), yakni usulan dari pengguna terdaftar KBBI. Saat ini KBBI memiliki versi daring yang di dalamnya ada beragam fitur. "Fitur-fitur ini dapat diakses oleh semua pengguna terdaftar. Tidak hanya fitur untuk mengusulkan entri baru, ada pula fitur usulan perubahan makna dan penonaktifan entri," paparnya.

Sebuah kata bisa diusulkan jika memenuhi lima syarat. Unik (belum ada konsep yang sama di KBBI), sesuai kaidah Bahasa Indonesia, eufonik (enak didengar, mudah diucapkan, mudah dibuat derivasi), berkonotasi positif, dan frekuensi penggunaannya tinggi. "Semua usulan yang masuk ke KBBI Daring, baik itu dari UPT maupun dari pengguna terdaftar akan mengalami proses penyuntingan," jelasnya.

Pada tahap pertama, usulan tersebut harus lolos penyuntingan dari editor KBBI. Selanjutnya, usulan tersebut akan sampai ke meja redaksi. Setelah itu terjadi lagi proses penyuntingan dan perbaikan jika redaktur sudah menyetujui kata ini sampai ke meja validator. "Di sinilah nasib sebuah kata ditentukan, akan muncul sebagai entri KBBI atau masih harus diperbaiki lagi," ungkapnya.

Untuk kata-kata bidang ilmu atau istilah-istilah khusus, Titik menyebut memerlukan bantuan para ahli dalam pendefinisiannya. "Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa biasanya melaksanakan Sidang Komisi Istilah untuk membahas entri-entri tersebut," tuntasnya.(tia/zkr/gr/dye)

KOMENTAR PEMUDA


Ikutan Anak Jaksel

"Anak muda kreatif sekali dalam memunculkan bahasa baru. Apalagi yang disisipkan bahasa Inggris. Lagi ngobrol biasa, tiba-tiba ada kata 'literally'. Sudah seperti anak Jaksel (Jakarta Selatan) yang suka mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris." (Linda Pahlina, Mahasiswa ULM)

Variasi Bahasa Makin Aneh

"Media sosial berpengaruh sekali pada variasi bahasa. Dulu imbuhan -nya ditulis cukup pakai x saja. Anehnya, sekarang tulisan x itu bukannya dibaca '-nya' tapi 'ek'. Misal sekali ek inya tulak ke warung. Menurutku makin aneh-aneh aja sih." (Leony, Mahasiswa ULM)

Tren Bahasa Dinamis Sekali

"Tren kata gaul dinamis sekali berkat kemajuan teknologi informasi. Belakangan kata fomo mencuri perhatianku. Fomo adalah kependekan dari fear of missing out berarti takut kehilangan atau ketinggalan sesuatu. Sering saya pakai untuk sehari-hari, tapi di lingkup teman dekat saja." (Aisyah Putri, Mahasiswa ULM)

Akronim Lebih Praktis

"Kreativitas anak muda memunculkan kata baru kadang bikin kita lebih praktis. Contoh saat aku minta koreksi, tidak lagi pakai kalimat yang panjang. Tapi cukup pakai kata CMIIW (correct me if I'm wrong). Atau pakai kata singkatan lainnya seperti gaje." (Azmi Azizah, Mahasiswa ULM)

Ada Saja Idenya

"Anak muda zaman sekarang kepikiran saja ya bikin kata baru. Akhir-akhir ini kata delulu cukup sering aku dengar. Kerap dipakai untuk menggantikan kata delusi/delusional. Memang pernah aku pakai sesekali saat ngobrol saat teman akrab, tapi tidak pas untuk sehari-hari." (Mariana, Mahasiswa ULM) Editor : Arief
#sumpah pemuda