Rinciannya, pada September ini tercatat 83 kasus yang menimpa balita umur 0-5 tahun (pneumonia balita). Lalu 497 kasus (batuk bukan pneumonia) menimpa umur 0-5 tahun. Kemudian, 202 kasus menimpa umur 5-9 tahun, dan 1.360 kasus ditemukan di warga yang berumur 9-60 tahun.
Lalu umur lebih 60 tahun sebanyak 214 kasus dan di RSHD 486 kasus. Abdi mengatakan asap kebakaran hutan dan lahan bukan menjadi faktor utama penyakit ISPA. Dinas kesehatan setempat mencatat dari periode Januari sampai September 2023 ada 20.541 kasus. "Sejauh ini, menurut literatur yang kami pegang, ISPA kebanyakan disebabkan oleh bakteri dan virus. Sedangkan asap karhutla ini hanya faktor risiko terjadinya ISPA," tegasnya.
Namun demikian, pihaknya tetap mewanti-wanti warga. Misalnya, mengimbau warga tidak banyak melakukan aktivitas di luar ruangan dan selalu menerapkan pola hidup sehat. "Kami juga bagi-bagi masker kepada masyarakat dan mendistribusikan masker ke 19 puskesmas yang ada di Kabupaten HST," tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi. "Belum lama ini, kami mengisi acara penyuluhan kesehatan tentang ISPA dalam kegiatan yang digelar Bhayangkari HST," ungkapnya.
Aspandi berharap agar kasus ISPA di HST segera terkendali. Meskipun bukan penyakit seperti virus Covid-19, dia tetap meminta pemerintah serius menanganinya. "Selain melakukan pencegahan dengan imbauan dan bagi masker, Pemerintah juga harus mencari solusi agar asap karhutla tidak menjadi salah satu faktor penyebabnya," pintanya.(mal/oza) Editor : Arief