------------------------------
Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan kanannya mendekap dada. Matanya tak berkedip. Menatap penuh kerinduan dan kebanggaan.
Menyeberang jalan adalah perkara sederhana. Tapi menyeberang di Jalan Pangeran Samudera bisa bikin senewen. Arus kendaraan di kawasan pusat perdagangan di Banjarmasin itu selalu padat dan bising. Ditambah oleh sibuknya pejalan kaki yang hilir mudik. Pedagang, karyawan toko, sales, pembeli, dan buruh panggul keluar masuk dari Pasar Ujung Murung, Sudimampir Raya, Sudimampir Baru, Malabar, Pasar Lima dan Pasar Niaga. Mereka bisa menyeberang dari sudut mana saja. Jika dalam beberapa tahun terakhir tak pernah terdengar kasus tabrak lari di sini, itu merupakan keajaiban. Ajaib tapi nyata.
Nah, jika ada satu tempat yang bisa mendamaikan semua kesibukan itu, meski sejenak, yakni Masjid Noor. Ketika azan zuhur berkumandang, penghuni dan pengunjung pasar akan beralih ke masjid untuk mengambil air wudu.
Di sinilah peran Farhan Effendie, 72 tahun. Pensiunan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Kopral Kepala. Setiap hari ia membantu membantu menyeberangkan pejalan kaki yang hendak menuju masjid. Dia tak akan ragu mengadang mobil, truk, sepeda motor, bajaj dan becak sekalipun.
Medan pertempurannya berupa zebra cross dengan cat yang sudah terkelupas dan pudar. Senjatanya adalah peluit dan bendera berwarna merah mencolok. “Mungkin karena itulah orang memberi banyak julukan. Ada yang memanggil saya Kopral Effendie. Adapula yang menyapa dengan Kakek Masjid Noor,” ujarnya.
Penulis berjumpa dengannya kemarin (10/5) siang di trotoar depan masjid. Selagi Kopral Eff endie bolak-balik menyeberangkan jemaah yang sudah kelar menunaikan salat zuhur. Dia mengenakan jaket warna hijau mencolok yang kedodoran. Dengan logo besar “MN” di punggung. MN adalah singkatan dari Masjid Noor. Jenggot putihnya dipotong tipis. Setipis sendal jepit yang dia kenakan. Topi baseball warna hitam yang dia pakai agaknya kebesaran. Agar melekat dengan pas, topi dilapis dengan kopiah warna putih. Di depan kami ada dua gelas minuman. Satu air mineral, satu lagi minuman rasa buah leci. Terkadang, karena saking sibuknya, Kopral Effendie minum sambil bekerja. Atau mengudap biskuit sambil mengibas-ngibaskan benderanya ke hadapan mobil yang melaju terlalu cepat.
“Pejalan kaki sering kesulitan menyeberang di sini. Saya ingin membantu. Benar, saya memang sudah pensiun. Tapi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sebelum berganti TNI) selalu ada untuk masyarakat,” tegasnya. Lantas, bagaimana ceritanya Kopral Eff endie bisa menghabiskan masa tuanya di sini? Lahir pada tahun 1946 di Kotabaru, dia diboyong orang tuanya pindah ke Banjarmasin. “Lupa tahun berapa kami merantau. Saya masih terlalu kecil,” ujarnya.
Di sini, dia dimasukkan ke SR (Sekolah Rakyat) Sungai Mesa 2. Kemudian melanjutkan pendidikan ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Kampung Gadang. Cikal bakal SMPN 10 Banjarmasin. Dalam usia belia, 16 tahun, dia bergabung dengan Komando Daerah Militer X/Lambung Mangkurat. “Sebelum munculnya Korem 101/Antasari Banjarmasin, masyarakat Banjarmasin hanya mengenal Divisi Lambung Mangkurat,” jelas warga Sungai Jingah Divisi ini merupakan hasil reorganisir Divisi IV ALRI/Pertahanan Kalimantan.
Pasukan gerilya yang melegenda pada masa konfrontasi kemerdekaan dibawah komando Jenderal Hasan Basry. Hasan adalah Sudirman-nya Kalimantan. Tugas terakhir Kopral Eff endie di bagian provost untuk Kesdam (Kesehatan Daerah Militer) Kodam X/Lambung Mangkurat. Hingga pensiun pada tahun 1993. Enggan berdiam diri di rumah, dia mengabdikan diri pada Masjid Noor sebagai marbot. Dia punya kedekatan emosional dengan Masjid Noor. Lantaran saat pertama kali pindah ke Banjarmasin, keluarganya tinggal di belakang masjid.
Sekarang, Kopral Eff endie dan istrinya Nurjennah, 65 tahun, tinggal di Sungai Jingah. Pasangan ini dikaruniai 13 anak dan 29 cucu. Semua anaknya tinggal terpencar. Bekerja di bidang perpajakan, perhotelan, transportasi dan wiraswasta. Sebagian bermukim di Banjarmasin, sebagian lagi memilih pindah keluar kota. “Kalau lebaran semua datang untuk berkumpul, ramai sekali,” ujarnya dengan wajah berseri-seri. Kopral Effendie mulai membantu penyeberangan sejak Ramadan tahun 2017 kemarin.
Mengingat membludaknya jumlah jemaah pada bulan puasa. Apalagi pada malam hari saat salat tarawih dan tadarusan Alquran. Maka pengurus masjid merasa perlu adanya pembantu penyeberangan. Pada hari biasa, dia berangkat kerja mendekati zuhur dan baru pulang mendekati maghrib. Kemana-mana mengendarai sepeda motor pinjaman milik sang menantu. “Kalau bulan puasa, saya lembur. Dari pagi sampai malam membantu penyeberangan,” terangnya. Dia tak pernah meminta-minta recehan dari pejalan kaki. Kopral Eff endie sudah menerima uang bulanan dari masjid. “Nominalnya tak seberapa, tidak penting. Saya kerja sukarela,” tegasnya.
Setiap hari dijemur terik matahari dan menghirup asap knalpot, apa tak bikin badan sakit? Kopral Effendie mengaku penyakit paling parah yang pernah dideritanya selama 10 tahun terakhir hanyalah sakit kepala atau demam. Sorot matanya juga tampak jernih. “Saya masih bisa membaca dengan jelas tulisan di seberang jalan. Faktor keturunan. Abah saya berumur sampai 98 tahun dan tak pernah mengenakan kacamata,” ujarnya bangga. Ayahnya sendiri bukan orang militer. Cuma sopir biasa yang bekerja di kantor pemerintahan. “Abah belakangan menjadi sopir pribadi seorang pejabat di kantor gubernur. Atasannya kemudian mati dibunuh. Saya masih ingat kehebohan beritanya,” ujarnya.
Ditanya apakah Kopral Eff endie masih berhubungan dengan teman-teman lamanya, dia mengangguk. “Angkatan kami pas masuk tentara ada 43 orang. Tersisa enam orang yang masih hidup, termasuk saya. Kadang kami berkumpul di masjid ini untuk melepas kangen,” pungkasnya. (fud) Editor : Muhammad Helmi