UIN meraih 12 suara dari 17 kampus yang mengikuti Kongres BEM se-Kalsel yang digelar di Politeknik Batulicin, Tanah Bumbu, 15-17 September lalu.
Presiden Mahasiswa UIN Antasari, Ahmad Sunir Ridha mengatakan, sebagai pengemban amanah koordinator pusat (kopus), UIN berkomitmen untuk terus berjuang bersama masyarakat Kalsel.
Disampaikan Sunir, ada empat isu yang perhatian aliansi ini. Pertama, kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kedua, terkait penanganan jalan nasional putus di kilometer 171 Satui.
Lalu, isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Kalsel. Terakhir, penyelamatan hutan dan pegunungan Meratus.
"Pada 13 September tadi kami sudah menggelar aksi di kantor Gunernur Kalsel di Banjarbaru. Di situ gubernur tidak menemui pendemo," ujarnya kemarin (19/9).
"Maka kemungkinan di waktu yang akan datang bakal ada aksi lanjutan," tambahnya.
Ditekankannya, kolaborasi antar BEM ini penting agar gerakan mahasiswa Banua lebih tersistematis.
Tujuan akhirnya adalah menjadi kontrol sosial terhadap pemerintah.
Lalu, apa yang baru dari hasil kongres di Batulicin kemarin? Ada perubahan nama struktural. Dari koordinator wilayah kini menjadi koordinator pusat. Lalu koordinator daerah menjadi koordinator wilayah.
Bukan hanya nama, susunan strukturalnya juga berubah. "Kini juga ada sekretaris dan bendahara," tambahnya.
BEM Politeknik Tanah Laut dipercaya sebagai sekretaris. Sedangkan DEMA Universitas Nahdlatul Ulama Kalsel sebagai bendahara.
Kemudian BEM STIMI sebagai Koordinator Wilayah I, dan BEM Politeknik Batulicin sebagai Koordinator Wilayah II.
Lalu BEM STIPER Amuntai sebagai Koordinator Wilayah III, dan BEM Universitas Muhammadiyah Banjarmasin sebagai Koordinator Media.
BEM se-Kalsel sekarang juga dibagi tiga wilayah. Wilayah 1 meliputi Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar dan Tanah Laut.
Wilayah 2 mencakup Tanah Bumbu dan Kotabaru. Dan wilayah 3 meliputi Banua Enam.
"Ketika kampus-kampus di Kalsel bersatu, maka gerakan mahasiswa akan menjadi lebih kuat, solid, dan lebih masif," ujarnya yakin. (war/az/fud) Editor : Arief