Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perempuan Tangguh dan Harmoni Dayung: Seniman Membaca Pasar Terapung Muara Kuin

Arief • Senin, 11 September 2023 | 14:30 WIB
BERJEJAL: Warga Kuin antusias menonton pertunjukan PKN 2023. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 
BERJEJAL: Warga Kuin antusias menonton pertunjukan PKN 2023. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 
Di dermaga tua itu, seniman dan warga Muara Kuin berupaya membangkitkan kembali kejayaan Pasar Terapung.

****


BANJARMASIN - Panggung itu sebenarnya sebuah dermaga kayu tua yang mengapung di kawasan Alalak Utara, Banjarmasin Utara.

Panggung itu sudah sesak sebelum pertunjukan dimulai. Orang-orang berebut tempat yang paling nyaman untuk menonton. Ada yang berdiri, berjongkok dan duduk.

Bocah-bocah cekikikan di kolong dermaga. Bahkan ada yang nekat menaiki bangunan berlantai dua di dekat situ.

Hingga mereka ditegur panitia. Disuruh turun. Berjejal bersama yang lain di tempat yang telah disediakan.

Pertunjukan pada Sabtu (9/9) malam itu dibuka dengan musik panting dari grup Musik Banua Barokah. Membawakan dua lagu berjudul 'Selamat Datang di Banjarmasin' dan 'Pasar Terapung'.

Warga pun riuh. Sebagian ikut beryanyi. Musik pembuka selesai, lampu dipadamkan. Berganti dengan lampu sorot merah.

Photo
Photo
BERJEJAL: Warga Kuin antusias menonton pertunjukan PKN 2023. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Penari asal Banjarmasin, Gita Kinanthi Purnama Asri keluar. Berjalan pelan mengenakan tanggui (penutup kepala yang terbuat dari anyaman daun nipah) berukuran jumbo.

Dia menari. Seperti seorang perempuan yang sedang berada di atas sampan, mendayung dan terus mendayung. Hingga akhirnya ia hilang ditelan.

Tubuhnya ditelan oleh tanggui yang sangat besar itu.

Tak lama, seniman asal Padang Panjang, Yuni Wahyuni datang menenteng pengayuh. Dia bermonolog.



Meski raut wajahnya tampak sedih, ada keteguhan juga kegigihan. Mengisahkan perempuan yang menjadi pedagang di Pasar Terapung Muara Kuin.

Apakah habis sampai di situ? Belum. Warga dewasa dan anak kecil tampil dalam teater kolaborasi berjudul 'Merah Kuning Kuin'. Ada yang membawakan syair, madihin, hingga tarian.

Itulah puncak Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 bertajuk 'Laku Dalam Ruang'.
Digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi RI, subjek yang dipilih adalah Pasar Terapung Muara Kuin.

Dibawakan dua seniman terpilih, program itu diberi nama 'Batiti Ka Muara'. Selain Yuni, juga ada perupa asal Yogyakarta, Rusdi Hendra. Dengan mitra kolaborator, Gita bersama Excelsior Dance Project (EDP) Banua.



Dermaga tua itu tak dibiarkan tampil apa adanya. Lewat tangan dingin Rusdi, dermaga itu dihiasi seni instalasi yang dinamai 'Satu Padu'.

Pengayuh atau dayung yang permukaannya sudah dilukis dan tanggui ditata sedemikian rupa.

Dewan Kurator PKN 2023, Josh Marcy mengatakan, Banjarmasin adalah satu di antara sembilan tempat di Indonesia yang menjadi tempat PKN.

Pasar Terapung Muara Kuin dipilih lantaran para seniman tidak hanya memandang kawasan itu sebagai tempat wisata.

"Pasar Terapung ternyata sangat terhubung dan erat dengan isu perempuan, ekologi, lingkungan, tradisi, juga sejarah kota," ucap Josh.

"Ini menarik, karena pembacaannya keluar dari bayangan turistik dan pariwisata. Tapi, lebih ke nilai Pasar Terapung bagi masyarakat Banjarmasin," tekannya.

"Dan bagaimana warga diberi kesempatan menuliskan sendiri perasaannya tentang Pasar Terapung Muara Kuin," tambahnya.

Sebagai mitra kolaborator, Gita Kinanthi Purnama Asri menjelaskan, Pasar Terapung Muara Kuin dianggap sejalan dengan misi PKN 2023. "Memiliki isu dan persoalan yang menarik," ucapnya.

Niatnya, menonjolkan Pasar Terapung Muara Kuin agar kembali dekat dengan kebudayaan Banjar yang hampir tergerus zaman.

Diingatkannya, selama berabad-abad, pasar tersebut menjadi bagian penting dalam gerak laju perubahan kebudayaan masyarakat sungai.

"Pasar Terapung Muara Kuin pernah menjadi jantung perdagangan di Kalsel. Pasar ini telah menjadi tempat pertemuan antara pedagang dan pelaut dari berbagai suku dan bangsa," jelasnya.



Di antara perahu-perahu dayung yang dipenuhi buah-buahan, sayur, hasil laut, dan kerajinan tangan, terjalin interaksi dan pertukaran budaya yang beragam.

"Pasar ini juga turut membentuk identitas budaya Banjarmasin," tekannya.

Dalam situasi terkini, ia dipaksa berhadapan dengan kepentingan pariwisata dan industri. Maka konservasi menjadi kebutuhan mendesak.

"Serta agenda perluasan nilai-nilai yang berlangsung di dalamnya. Seperti dimensi sosial, ekonomi dan gender," ungkapnya

Sementara Yuni Wahyuni, mencari perbandingan. Dalam kacamata budaya Minang, perempuan diletakkan sebagai sosok yang kuat.

Bahkan menurut Aen–sapaan akrab Yuni–perempuan juga menjadi tonggak kehidupan dalam rumah tangga.

Dia melihat kesamaan itu pada perempuan yang berdagang di Pasar Terapung Muara Kuin.
"Dari fajar (merah), sore (kuning), mereka (yang tumbuh di Kuin), tak pernah sedikitpun merasakan sedih hingga sakit," ujarnya.

"Mereka tidak mengharap iba. Tapi, mereka justru memaknai semua itu dengan kesederhanaan. Melalui kata cukup," pujinya.

Senada dengan perupa Rusdi Hendra yang menjadikan dayung sebagai subjeknya. Dayung adalah properti yang memiliki ikatan kuat dengan tradisi sungai.

"Dayung menjadi simbol harmoni manusia dan alam," tekannya.

Ketiganya sepakat, pertunjukan ini merupakan upaya untuk mendekatkan budaya lokal dengan para pelakunya itu sendiri.

"Kalaupun Pasar Terapung Muara Kuin terus berkurang, bukan berarti budayanya ikut menghilang. Masih ada kesenian lain di sini yang bisa diangkat," tutup Aen. (war/az/fud)

Asalkan Ada Niat


PEKAN Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 tak hanya berlangsung pada malam hari. Pada hari yang sama (9/9), pagi sampai sore, juga ada pertunjukan lain.



Diawali dengan kunjungan 'Ritus Pengayuh' ke pasar, hingga kesenian madihin yang berjudul 'Sambang Sore Hari'.

Kabid Kebudayaan di Disdikbud Kalsel, Raudati Hildayati mengapresiasi dan berterima kasih atas pemilihan Banjarmasin untuk PKN 2023.

"Kami berharap tak habis sampai di sini. Bisa memotivasi masyarakat untuk turut ambil bagian dalam pelestarian seni budaya secara berkelanjutan," ujarnya.

Dia bilang, Pasar Terapung termasuk dalam warisan budaya tak benda. Maka pemprov dan pemko berkewajiban melestarikannya.

"Salah satunya dengan mempromosikannya kembali," ujarnya. Di samping promosi, bisa pula dengan event rutin tahunan. Contoh festival Pasar Terapung.

"Disdikbud juga membuat buku-buku bertema kebudayaan. Nanti di dalamnya juga memuat tentang Pasar Terapung," tutupnya.

Senada dengan Kabid Kebudayaan di Disbudporapar Banjarmasin, Zulfaisal Putera.

Menurutnya, event yang melibatkan masyarakat setempat secara langsung itu jarang terjadi. "Ini bukan hal gampang. Ini bagian dari politik kebudayaan. Ini adalah cara merealisasikan amanat undang-undang untuk memajukan kebudayaan," pujinya.

Ia juga merasa PKN 2023 berhasil mengungkit kenangan Pasar Terapung versi tempo dulu yang berada di Muara Kuin.

"Kami berharap ke depan bisa kembali membangkitkan Pasar Terapung ini, walaupun bukan perkara gampang," ujarnya.

Alasannya, pada tahun 80-an, infrastruktur darat belum sebagus sekarang. Selain akses, mata pencaharian juga masih bertumpu pada sungai.

"Pesatnya pembangunan infrastruktur darat membuat terjadinya peralihan. Maka upaya membangkitkan kembali Pasar Terapung di Banjarmasin membutuhkan usaha keras dan pemikiran kita bersama," tegasnya.

"Tapi apapun itu, kalau ada niat, jalannya akan terbuka," ujarnya yakin. (war/az/fud) Editor : Arief
#Pagelaran Seni