Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Terinspirasi Pasar Terapung Muara Kuin, Pekan Kebudayaan Nasional 2023 Singgah di Banjarmasin

Arief • Sabtu, 9 September 2023 | 08:49 WIB
MENGASYIKKAN: Warga sekitar Dermaga Pasar Terapung Muara Kuin dilibatkan dalam program Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 di Banjarmasin. Hari ini, sedari pagi hingga malam hari, akan ada banyak suguhan pertunjukan para seniman. | FOTO:  EDP BANUA FOR R
MENGASYIKKAN: Warga sekitar Dermaga Pasar Terapung Muara Kuin dilibatkan dalam program Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 di Banjarmasin. Hari ini, sedari pagi hingga malam hari, akan ada banyak suguhan pertunjukan para seniman. | FOTO:  EDP BANUA FOR R
Hari ini (9/9), ada suguhan menarik di Dermaga Pasar Terapung Muara Kuin, Kecamatan Banjarmasin Utara. Gelaran tersebut merupakan pertunjukan hasil resistansi dalam rangka Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023. Program itu sendiri diberi nama 'Laku Dalam Ruang', bertajuk 'Batiti Ka Muara'.

***


PKN adalah upaya negara dan masyarakat dalam membangun wadah kerja bersama untuk melahirkan ruang-ruang keragaman berekspresi. Ada dialog antarbudaya, serta inisiatif dan partisipasi inovatif yang dikelola secara berjenjang sejak dari desa hingga ke ibu kota. Di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memfasilitasi ekosistem kebudayaan, sebagai garda terdepan dalam memajukan kebudayaan di Indonesia.

Ada seniman dari Padang Panjang, Yogyakarta, dan seniman dari Banjarmasin sebagai mitra kolaborator bakal unjuk kebolehan. Dari Padang Panjang, ada seniman Yeni Wahyuni yang bakal menampilkan pertunjukan teater kolaborasi berjudul 'Merah Kuning Kuin'.

Seniman dari Yogyakarta, Rusdi Hendra menampilkan seni instalasi berjudul 'Satu Padu'. Terakhir, sebagai mitra kolaborator, seniman asal Banjarmasin Gita Kinanthi Purnama Asri bersama Excelsior Dance Project (EDP) Banua juga bakal unjuk kebolehan.

Lantas mengapa Pasar Terapung Muara Kuin yang menjadi subjek utama program itu di Banjarmasin? Sebagai mitra kolaborator, Gita menjelaskan Pasar Terapung Muara Kuin dianggap sesuai dan sejalan dengan misi PKN 2023.

"Memiliki isu, dan persoalan yang menarik untuk tetap dirawat melalui kegiatan PKN," jelasnya, kemarin (8/9).

Pasar Terapung Muara Kuin dipandang menjadi jejak sejarah yang penting bagi Kota Banjarmasin. Selama berabad-abad, pasar tersebut menjadi bagian penting dalam gerak laju perubahan kebudayaan warga Banjarmasin sebagai masyarakat sungai.

"Pasar Terapung Muara Kuin pernah menjadi jantung perdagangan di Kalsel. Pasar ini telah menjadi tempat pertemuan antara pedagang dan pelaut dari berbagai suku dan bangsa," jelasnya.

Di antara perahu-perahu yang didayung itu dipenuhi dengan buah-buahan, sayuran, hasil laut, dan kerajinan tangan. Lantas terjalin interaksi dan pertukaran budaya yang beragam. "Pasar ini juga turut membentuk identitas budaya Banjarmasin," tekannya.

Photo
Photo
FOKUS: Warga di Kecamatan Banjarmasin Utara mengikuti workshop melukis di atas media berupa pengayuh atau dayung. | FOTO: EDP BANUA FOR RADAR BANJARMASIN

Menurut Gita, di luar perannya sebagai bagian integral dari identitas kota dan situasi terkini yang harus berhadapan dengan kepentingan pariwisata, baginya pasar tersebut mempunyai tantangan konservasi.

"Serta tantangan agenda perluasan nilai-nilai yang berlangsung di dalamnya. Seperti dimensi sosial, ekonomi dan gender," ungkapnya.

Lantas, bagaimana tanggapan dua seniman lainnya? Yeni Wahyuni mengaku tertarik pada persoalan kisah perempuan pedagang di Pasar Terapung Muara Kuin. Menurutnya, sangat kompleks dalam menghadapi realita kehidupan.

"Semangat dan laku para perempuan sebagai ibu, istri, sekaligus pekerja atau pedagang di pasar itulah yang menjadi inspirasi utama dalam respons artistik saya," ucapnya.



Pendekatan yang digunakan Aen—sapaan akrab Yuni Wahyuni—dengan cara mengumpulkan kisah-kisah perempuan, dan menjadikannya suatu narasi dengan pandangannya sebagai orang luar.

Semua itu dikolaborasikannya dengan seni tradisi lokal yakni seni madihin dan basyair. Tentu melibatkan kalangan perempuan sebagai prioritas. "Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga para orang tua. Ibu maupun nenek-nenek," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan perupa asal Yogyakarta, Rusni Hendra. Harmoni antara manusia dan air di antara Pasar Terapung Muara Kuin, juga pengayuh atau dayung, dianggapnya sebagai simbol yang kuat untuk merepresentasikan karyanya.

"Bereksperimen dengan dayung sebagai media ekspresi, saya mencoba menggali fungsi, dan makna dayung di masyarakat lokal," ungkapnya.

Hendra sebagai perupa juga berusaha memberikan workshop pengayuh atau dayung sebagai media ekspresi. Pengayuh atau dayung dikolaborasikan dengan alat lukis seperti cat. Menurutnya, menggambar atau menulis di dayung menjadi tujuan akhir, atau pengingat tentang harmoni manusia dan air di Pasar Terapung Muara Kuin.

"Targetnya sendiri adalah masyarakat memiliki jarak dengan pasar terapung, dan masyarakat yang dekat dengan budaya tersebut," jelasnya.

Apa tujuan dari adanya program itu? Baik itu Gita, Aen dan Hendra sepakat bahwa program itu bertujuan untuk merawat lebih dekat budaya lokal dengan para pelakunya. Untuk diketahui pembaca, gelaran terpusat di Dermaga Pasar Terapung Muara Kuin.

Digelar sedari pagi hingga malam hari. Kegiatan diawali dengan mengunjungi pasar terapung yang ada di situ. (war/az/dye) Editor : Arief
#Destinasi #Seni dan Budaya #Pasar Terapung