Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjarbaru Diguyur Hujan, BMKG Sebut karena Kelembapan Udara Tinggi

Arief • Kamis, 7 September 2023 | 13:07 WIB
KEHUJANAN : Pengguna jalan memakai jas hujan agar tidak kebasahan saat hujan melanda Kota Banjarbaru (FOTO: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
KEHUJANAN : Pengguna jalan memakai jas hujan agar tidak kebasahan saat hujan melanda Kota Banjarbaru (FOTO: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
BANJARBARU - Dua hari terakhir sejumlah wilayah di Banjarbaru diguyur hujan di tengah musim kemarau panjang.

Rabu (6/9) kemarin, hujan turun sekitar pukul 12.40 Wita di kawasan Landasan Ulin dan sekitarnya. Meski hanya sebentar, tapi curah hujan cukup deras.

Turunnya hujan disyukuri warga setempat. Karena cuaca panas yang melanda Banjarbaru membuat sebagian wilayah mengalami karhutla dan kekeringan.

"Walaupun hanya sekitar 15 menit. Hujan ini sangat kami syukuri," ucap Arif salah satu warga di Kecamatan Liang Anggang.

Ia berharap hujan ini merupakan pertanda bahwa musim kemarau akan berakhir, dan Ibu Kota Provinsi ini bisa kembali diguyur hujan di hari-hari berikutnya. "Paling tidak bisa mengurangi kabut asap dan potensi karhutla," harapnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stamet Syamsudin Noor menyebut, hujan yang mengguyur Kota Banjarbaru ini bukan pertanda musim kemarau berakhir.

"Secara umum masih musim kemarau dan diprakirakan puncak kemarau terjadi pada bulan Agustus sampai September," ucap Prakirawan BMKG Stamet Syamsudin Noor, Rara Rahmita Nurafifah.



Dijelaskannya, hujan yang turun dikarenakan adanya kelembapan udara yang cukup tinggi di lapisan atas. Serta ditambah adanya daerah perlambatan angin di sekitar wilayah Kalsel. "Sehingga meningkatkan potensi terjadinya hujan," jelasnya.

Hujan kemarin, kata Rara, tidak hanya terjadi di Banjarbaru. Namun juga di wilayah Batola, Tapin, HSS, HST, HSU, Balangan, Tabalong dan Kotabaru.

"Intensitasnya termasuk hujan ringan, disertai petir dan angin kencang berdurasi relatif singkat. Sehingga masih ada potensi karhutla hingga musim kemarau berakhir," kata Rara.

Ia membeberkan, ada dua wilayah yang sampai saat ini masih sangat rawan terjadi karhutla. Yakni Kecamatan Landasan Ulin dan Liang Anggang. "Di dua wilayah itu masih ada terdapat 10 titik panas (hotspot)," bebernya. (zkr/yn/ris) Editor : Arief
#kemarau #Hujan Deras