Zafry Zamzam termasuk tokoh yang paling nyaring menentang gagasan Darul Islam. Dia kukuh menginginkan Pancasila.
Kisah ini diungkap Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Prof Mujiburrahman.
"Dia ingin Islam itu modern. Islam itu maju, dan pada saat yang sama Islam adalah bagian dari Indonesia," ungkapnya kepada Radar Banjarmasin.
Di UIN Antasari, Zafry adalah tokoh yang sangat dihormati. Sebab dialah sang rektor pertama.
Zafry diangkat menjadi rektor oleh Menteri Agama pada tahun 1964. Saat itu kampus ini masih menyandang nama IAIN Al-Jami'ah Antasari.
"Jadi kemajuan UIN Antasari sekarang tak bisa terlepas dari peran beliau," tegas Mujib.
Kala itu, selain menjadi rektor, Zafry juga memegang jabatan Dekan Fakultas Tarbiyah dari tahun 1967 sampai 1971.
Zafry fokus pada pembenahan kantor, gedung perkuliahan, dan personalia. Lalu merekrut dosen, para alumni perguruan tinggi luar daerah maupun luar negeri untuk mengajar di IAIN.
Zafry pula yang memulai pembangunan kampus di Jalan Ahmad Yani kilometer 4,5 Banjarmasin Timur--kini menjadi kampus I, kampus II berada di Banjarbaru.
Sebelumnya, kampus lama hanya menempati sebuah gedung bekas sekolah Tionghoa di Jalan Veteran, satu kompleks dengan gedung Universitas Lambung Mangkurat.
Melalui lobi-lobinya, Zafry mendapat bantuan tanah seluas 10 hektare untuk pembangunan kampus.
Zafry pula yang mengisi "roh" kampus ini. Dia mengumpulkan karya kitab para ulama Kalsel untuk mengisi koleksi perpustakaan IAIN.
Di mata Mujib, Zafry tak hanya seorang inteletual. Ia juga sosok yang sederhana. "Beliau bahkan harusnya ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional," tegasnya.
Enggan Dikuburkan di Taman Makam Pahlawan
FIQHY Zamzam menceritakan, ayahnya mengembuskan napas terakhir pada 16 Desember 1972.
Menjelang azan magrib, sepulang dari mengajar, ayahnya merasakan dadanya sesak. Napasnya pun terdengar berat.
"Seperti orang manggah," kata Fiqhy. Asma yang diderita Zafry Zamzam ternyata kambuh.
Setelah salat isya, keadaan Zafry tak kunjung membaik. Keluarga lantas membawanya ke Puskesmas Banjarbaru (sekarang menjadi rumah singgah Dinas Sosial).
"Cerita kakak, ayah sempat mengucap istigfar sebelum pergi," ujarnya.
Kabar duka itu mengejutkan masyarakat Banjarbaru. Banyak yang datang untuk mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Zafry dikuburkan di alkah milik keluarga di samping Masjid Nurul Amanah di Jalan SMP 1 Guntung Payung.
Mengapa di sana? Itu sesuai wasiat Zafry. Ia enggan dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana di Jalan Ahmad Yani kilometer 24.
"Sesuai wasiatnya, beliau tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan," tukasnya.
Padahal, pemerintah telah menawarkan pemakaman dengan acara kenegaraan mengingat jasa-jasanya semasa hidup.
"Kami putra putrinya lebih memilih untuk menunaikan wasiatnya. Sejalan dengan prinsip hidup beliau yang tidak pernah mengharap pamrih," ungkapnya.
"Perjuangannya hanya untuk mengharapkan rida Allah," tutupnya.
Tak mudah bagi Radar Banjarmasin untuk menemukan makam Zafry Zamzam. Sebab tak ada penanda istimewa di kuburannya. Wujudnya tidak berbeda dengan kuburan lainnya.
Setelah bolak balik, keluar masuk makam, baru ketemu. Ternyata, makam Zafry hanya berjarak dua meter dari mihrab Masjid Nurul Amanah.
Atangnya berwarna merah muda, sudah pudar. Dihiasi bunga melati kecil.
Di sana, Zafry dimakamkan berdampingan dengan istrinya, pujaan hatinya, Siti Kustaniah.
Warga sekitar, Mahriansyah mengaku sedih melihat kondisi makam itu. Dia merasa kondisinya tak sebanding dengan jasa besarnya.
Pria 58 tahun itu juga heran, mengapa banyak warga Banjarbaru yang tak mengenal sosok Zafry Zamzam.
"Generasi sekarang hanya tahu itu nama jalan. Hanya segelintir orang yang tahu perjuangannya, apalagi lokasi makamnya," ujarnya.
Setahunya, anak dan cucu Zafry masih sering berziarah kemari. Terutama Fiqhy yang kerap datang pada hari Jumat.
Ia berharap, pemko mau memasang plang pemberitahuan makam Zafry. "Supaya masyarakat tahu di sini ada seorang pahlawan dikuburkan," ujarnya.
"Lebih penting lagi, sepak terjangnya dimasukkan dalam buku pelajaran sekolah," tegasnya.
Pada 8 November 2000 di Istana Negara Jakarta, almarhum Zafry Zamzam dianugerahi Bintang Jasa Utama. Bersamaan dengan penganugerahan Bintang Jasa Pratama kepada Kiai Hanafi Gobet.
Anugerah itu mengacu pada Keputusan Presiden RI Nomor 120/TK/2000. Hasil rekomendasi Gubernur Kalsel kepada Dewan Tanda-Tanda Kehormatan Republik Indonesia (TKRI). (mof/zkr/gr/fud)
https://radarbanjarmasin.jawapos.com/feature/17/08/2023/zafry-zamzam-sang-manusia-komplet-telur-dadar-dibagi-14-potong/ Editor : Arief