Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

"Mahal itu Sabar dan Tekun" Dari Pameran dan Kontes Bonsai Nasional di Banjarmasin

Arief • Senin, 7 Agustus 2023 | 10:44 WIB
TEKUN DAN SABAR: Peserta asal Banjarbaru, Panaji melihat-lihat bagian media tanam salah satu bonsainya yang diikutkan dalam kontes. Menurutnya, tekun dan sabar adalah kunci keberhasilan dalam seni bonsai. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
TEKUN DAN SABAR: Peserta asal Banjarbaru, Panaji melihat-lihat bagian media tanam salah satu bonsainya yang diikutkan dalam kontes. Menurutnya, tekun dan sabar adalah kunci keberhasilan dalam seni bonsai. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Seni bonsai mencuat ketika berkuasanya salah satu dinasti di Cina. Bahkan merambah ke Indonesia. Sebuah seni yang menunjukkan makna dari manisnya perjuangan.

****


Dari deretan bonsai yang berjejer rapi di atas meja bertaplak hitam, pengunjung seperti diajak melihat miniatur ragam pohon besar berusia tua. Deretan bonsai itu tampak lebih nyaman dipandang, ketika petugas pameran sekaligus kontes bonsai juga memasang kain putih panjang di belakangnya. Keberadaan kain putih itu kian menegaskan bahwa bukan sekadar menjadi pembatas dari deretan meja yang satu dengan deretan meja lainnya.

"Indah, cantik, dan unik," ucap Reza, salah seorang pengunjung pameran dan kontes bonsai nasional yang digelar di kawasan Kantor Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, kemarin (6/8).

Lelaki asal Mahligai Permai, Kabupaten Banjar itupun lantas mengarahkan kamera gawainya ke salah satu bonsai yang ada.

Ukuran hingga jenis bonsai yang dipajang beragam. Paling kecil seukuran anak ayam. Sedangkan bonsai yang paling besar, seukuran kardus mi instan.

Dari berbagai literatur menyebutkan seni bonsai muncul pada dinasti Tsin yang memerintah pada kurun waktu 265 hingga 420 Masehi. Seni bonsai dikenal sebagai seni menata hingga 'mengkerdilkan' tanaman atau pohon di dalam pot dangkal. Supaya bisa membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua berusia ratusan tahun hidup di alam bebas.

Hingga kini, seni bonsai kian diminati di seluruh penjuru dunia. Bahkan, di Indonesia. Itu dibuktikan dengan dibentuknya Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) pada 31 Agustus 1979 silam.

Tak hanya berbicara tentang ukuran, bonsai yang dipajang juga memiliki bentuk yang unik dan estetis. Itu bisa dilihat dari bentuk akar, batang, ranting, hingga dedaunan. Keunikan itulah yang membuatnya justru kian digandrungi.

Soal harga, jangan ditanya. Karya seni yang satu ini bisa berharga belasan, puluhan, dan ratusan juta rupiah. Bahkan di belahan dunia, untuk harga karya seni bonsai bisa mencapai miliaran rupiah.

Photo
Photo
PEMENANG: Inilah bonsai yang meraih penghargaan Best In Show dalam gelaran Pameran dan Kontes Bonsai Nasional yang digelar di Banjarmasin sedari Sabtu hingga Minggu kemarin (6/8). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Pemeran dan kontes bonsai nasional kali ini digagas PPBI Banjarmasin. Dihelat sedari Sabtu hingga Minggu (6/8) petang. Kegiatan itu setidaknya diikuti sebanyak 489 peserta dari berbagai daerah. Mayoritas pesertanya berasal dari Kalimantan.

Memperebutkan trofi Wali Kota Banjarmasin, ada dua kategori atau kelas kontes bonsai yang diselenggarakan. Kelas prospek atau pemula, dan kelas pratama. Dari ratusan bonsai yang dipamerkan dan diikutkan kontes, bonsai jenis Kimeng asal Banjarmasin berhasil meraih predikat Best in Show di kelas pratama. Dari keterangan yang tertulis pada pot, bonsai itu milik Chandra P.

Bagi orang awam tentang karya seni bonsai, sekilas melihat karyanya itu mirip pohon beringin yang tua. Namun masih kokoh dan rimbun.

Di mana uniknya? Selain tampak tua, kokoh dan rimbun, perpaduan antara ranting dan dedaunannya menjadikan pohon itu seperti tampak diselimuti api. Ini hanya penilaian orang awam tentang seni bonsai.

Di samping bonsai yang keluar sebagai pemenang, tentu masih banyak bonsai lainnya menarik perhatian. Seorang kontestan asal Banjarbaru, Panaji mengatakan seni bonsai tidak hanya menarik untuk dilihat. Tapi, juga memiliki makna filosofi yang mendalam.

Menurutnya, seni bonsai mengajarkan arti perjuangan. Itu terangkum dalam sebuah ketekunan dan kesabaran dalam pembentukan karya. Menurutnya, hal itu pula yang membuat karya seni bonsai mahal harganya.

Contoh, bonsai yang berhasil menjadi pemenang kontes ini. Menurutnya, untuk pembentukan bisa memakan waktu berpuluh-puluh tahun lamanya. "Antara 20 hingga 25 tahun. Bahkan bisa memakan waktu lebih," ungkapnya.

Mengapa bisa sampai selama itu? Menghasilkan karya seni bonsai tak ujug-ujug langsung jadi. Pembentukan dimulai dari bonggol, perantingan, sampai anak ranting, dan sebagainya. "Tahap itulah yang susah," tekannya. "Bukankah tekun dan sabar itu tak ternilai harganya," bandingnya.



Ia lantas menunjukkan sebuah bonsai yang berukuran kecil di kelas prospek. Ia menaksir harga yang dipatok untuk bonsai itu bisa mencapai lebih dari Rp50 juta. "Bahkan bila melihat prosesnya, sebuah karya seni bonsai atau bonsai kontes dihargai ratusan juta pun masih murah," tekannya.

Lantas, bagaimana bagi pemula yang memulai menggeluti seni bonsai? Panaji bersedia memberikan saran. Ia bilang agar membuat yang mudah dahulu. Ambil bibit bonsai beringin, kimeng, atau sancang. Ia menilai ketiga bibit bonsai ini lebih mudah dirawat.

Ia mengakui merawat bonsai tidaklah susah. Asalkan memperhatikan penyiraman dan penggantian media tanam. "Penyiraman bisa dilakukan satu hari sekali. Pagi atau sore hari. Jaga penggantian media tanam (tanah, red) dua kali per enam bulan," ungkapnya.

"Selanjutnya, konsultasi atau pelajari hal lainnya dari para pegiat atau penanam bonsai lainnya. Seperti soal pemupukan dan sebagainya. Sekali lagi, kuncinya adalah tekun dan sabar," tekannya. "Semakin tekun dan sabar semakin jadi (berhasil, red)," tuntasnya.

Berharap Kontes Bisa Naik Tingkat


Pelaksanaan pameran dan kontes bonsai yang digelar hingga kemarin (6/8), juga dihadiri langsung Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina. Ia pun mengapresiasi kegiatan yang digelar. Bahkan, berharap bagi peserta yang ada di kelas prospek, bisa naik tingkat mengikuti kelas pratama nantinya.

Photo
Photo
BUKAN SEKADAR HOBI: Seni bonsai bisa bernilai ekonomis tinggi. Dalam foto, deretan bonsai dipajang dalam Pameran dan Kontes Bonsai Nasional yang digelar PPBI Banjarmasin di kawasan Kantor DKP3 Banjarmasin, hingga kemarin (6/8). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Hal itu diutarakan Ibnu bukan tanpa alasan. Mengingat gelaran yang ada baru sampai pada kelas pratama. "Ada banyak tanaman bonsai di Kalsel. Beragam jenisnya. Melalui pameran dan kontes bonsai ini, saya berharap ke depannya bisa lebih banyak dan berkembang lagi," ucapnya.

Menurutnya, budi daya bonsai memiliki potensi nilai ekonomi yang cukup besar. Tentu bisa jadi peluang bisnis bagi masyarakat. Misalnya, di daerah Pulau Jawa. Ia bilang ada banyak yang membudidayakan tanaman atau seni bonsai. Artinya, bukan hanya sekadar hobi. Melainkan sudah jadi profesi.

"Kita sudah punya komunitas dan penggemar bonsai cabang Kota Banjarmasin. Jadi teman-teman bisa saling berkomunikasi, serta menimba ilmu mengenai budi daya bonsai itu," jelasnya.



Diakui Ibnu, budi daya bonsai itu gampang-gampang sudah. Namun yang terpenting adalah merawatnya dengan sabar. Mengingat butuh waktu bertahun-tahun, apabila hendak dijual dengan harga tinggi.

"Saya juga berharap gelaran pameran dan kontes bonsai bisa dilaksanakan kembali di Kota Banjarmasin, dan naik peringkat ke madya," tutupnya.

Predikat Best In Show diraih Chandra P dengan bonsai jenis kimeng. Peraih predikat itu tentu hanya bagi yang memenuhi kriteria penilaian dengan nilai tertinggi.

Seperti apa penilaiannya? Seorang juri kontes, Umar bersedia membeberkannya. Ia bilang penilaian tanaman bonsai yang diikutkan dalam kontes itu beragam. "Seperti mengacu pada penampilan, gerak dasar bonsai, keserasian, hingga kematangan," tuntasnya.(war/az/dye) Editor : Arief
#tanaman hias