Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jembatan Pramuka-Sungai Gampa akan Dibangun, Bagaimana Nasib Warga Terdampak?

Arief • Senin, 24 Juli 2023 | 10:17 WIB
TERDAMPAK: Potret salah satu sudut RT 13, kawasan Murung Selong, Kelurahan Sungai Lulut, kemarin (23/7). Di kawasan ini ada sebanyak 24 rumah warga yang terdampak langsung proyek Jembatan Jalan Pramuka-Sungai Gampa.  | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMAS
TERDAMPAK: Potret salah satu sudut RT 13, kawasan Murung Selong, Kelurahan Sungai Lulut, kemarin (23/7). Di kawasan ini ada sebanyak 24 rumah warga yang terdampak langsung proyek Jembatan Jalan Pramuka-Sungai Gampa. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMAS
Pembangunan Jembatan Jalan Pramuka-Sungai Gampa kian mengemuka. Tak sedikit lahan yang mesti dibebaskan. Salah satunya di kawasan permukiman warga RT 13, kawasan Murung Selong, Kecamatan Banjarmasin Timur.

Kawasan yang bersisian dengan Sungai Martapura itu begitu tenang dan damai, kemarin (23/7) siang. Sejumlah masyarakat tampak bersantai di depan rumah. Ada yang asyik mengobrol, hingga memberi makan kucing.

Akses jalan titian sebagian sudah dicor beton dan dipagari. Sungguh memudahkan mobilitas warga. Lalu lalang kendaraan roda dua juga sudah bisa melintas dengan nyaman.

Jauh berbeda dengan kondisi dulu. Akses titian yang berada di kawasan Kelurahan Sungai Lulut itu rusak parah. Cukup sulit untuk bisa dilintasi kendaraan roda dua. Hingga akhirnya pada tahun 2022 lalu, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Banjarmasin menggelontorkan anggaran sebesar Rp3,7 miliar untuk memulai perbaikan.

Berdasarkan data dihimpun Radar Banjarmasin, ada sepanjang 500 meter titian yang sudah diperbaiki. Itu dari total panjang titian sekitar 981 meter.

Murung Selong terdiri dari dua rukun tetangga (RT), yakni RT 12 dan RT 13. Mayoritas warga bekerja sebagai petani, buruh, hingga pencari ikan.

Sejumlah bangunan rumah di RT 13 itulah digadang-gadang terdampak pembebasan lahan untuk pembangunan Jembatan Jalan Pramuka-Sungai Gampa. Totalnya, ada puluhan bangunan rumah yang bakal dibebaskan.

Penghuni RT 13, Dari mengatakan mayoritas warga sudah mengetahui adanya rencana pembangunan jembatan itu. "Disosialisasikan oleh lurah dan camat setempat. Kami juga diundang dalam pertemuan. Tahun ini, sudah dua kali pertemuan," ujarnya, kemarin (23/7).

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin sudah berulang kali datang melakukan pengukuran atau pemetaan kawasan. "Kalau tidak salah, sekitar enam bulan yang lalu," tambahnya lelaki 55 tahun itu.

Dari pertemuan diberitahukan bahwa di RT 13 ada 24 rumah yang bakal dibebaskan. Itu belum termasuk area lahan lainnya.

Meski sudah disosialisasikan, warga RT 13 berharap Pemko Banjarmasin memberikan ganti rugi yang sesuai nantinya. "Kami mendukung pembangunan. Dengan catatan, pemko juga memberikan uang pengganti yang layak," ucap Dari.

Photo
Photo
BERSANTAI: Warga RT 13 di kawasan Murung Selong Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Hal itu diutarakannya bukan tanpa alasan. Mengingat harga tanah pengganti di luaran sudah cukup mahal. Tentu belum termasuk dengan biaya pembangunan rumah baru. "Setelah di sini dijual, mau tak mau harus pindah ke tempat lain. Jadi paling tidak, nominal harga ganti tanah dan bangunan yang dibebaskan juga sesuai," tekannya.

Hal senada juga diutarakan tiga warga lainnya yakni Saukani, Yayan dan Halimah. Tanah berikut bangunan milik ketiga warga itu juga diketahui terdampak pembebasan lahan.

"Harga tanah sekarang dengan harga yang dulu tentu berbeda. Mencari (tanah, red) di luar, tentu mahal. Jadi perlu dana yang tidak sedikit," ucap Saukani. "Apalagi kalau ke dalam kota," banding Yayan.

Selain bisa membeli tanah dan membangun rumah pengganti, Halimah berharap sisanya bisa dijadikan untuk membuka usaha di tempat baru. "Saya juga membuka kios berdagang kecil-kecilan. Tapi, cukup ramai pembelinya. Otomatis saya juga harus mencari tempat baru," tekannya. "Kami berharapnya, semoga biaya gantinya sesuai saja. Biar sama-sama nyaman," tegasnya.

Tim Apraisal Sudah Menghitung Harga


Kabar bahwa kawasan Murung Selong terdampak pembebasan lahan untuk proyek Jembatan Jalan Pramuka-Sungai Gampa juga dibenarkan oleh Lurah Sungai Lulut, Suryani Syharil. Bahkan, ia mengatakan tim apraisal sudah melakukan penilaian.



Kini tinggal mengomunikasikan dengan warga tentang berapa nilai harga tanah dan nilai bangunan. "Sejauh ini, masyarakat tinggal menunggu hal itu. Mudah-mudahan segera terealisasi," ujarnya, Kamis (20/7) lalu.

Suryani mengatakan pihaknya mengapresiasi Pemko Banjarmasin, khususnya wali kota karena sudah merealisasikan rencana pembangunan jembatan itu. Mengingat keberadaan jembatan penghubung itu digadang-gadang juga membuat warga khususnya di kawasan Murung Selong menjadi tidak lagi terisolir.

"Dengan adanya jembatan, ke depannya tentu pembangunan di kawasan itupun (Murung Selong, red) jadi bisa ditingkatkan," yakinnya.

Selain terdampak area pembebasan lahan, Suryani juga membeberkan ada pula warganya di Murung Selong yang nantinya menerima kompensasi berupa penerima manfaat atas adanya proyek itu. "Warga dua RT itu. RT 12 dan RT 13," pungkasnya.

Anggaran Pembebasan Lahan Rp30 Miliar


Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina menyatakan pengerjaan pembangunan Jembatan Jalan Pramuka-Sungai Gampa akan segera terealisasi. Pemko Banjarmasin sudah mengalokasikan anggarannya.

“Mulai tahun 2023 ini, sudah ada anggaran. Terutama untuk pembebasan lahan di kawasan jembatan,” ujarnya kepada awak media usai rapat di DPRD Kota Banjarmasin, belum lama tadi.

Tahap pertama pembebasan lahan dimulai dari sisi Sungai Lulut, Jalan Pramuka, kawasan Banua Anyar, menyeberang kawasan Murung Selong, hingga ujung Sungai Gampa.

“Tahapan itu sesuai perencanaan yang telah kami programkan. Jadi tahun 2023 ini, untuk pembebasan lahannya dulu. Selanjutnya tahun 2024, dimulai pekerjaan fisiknya,” tegasnya.

Lalu berapa besaran dana yang diperlukan untuk pembebasan lahan? Ketua Partai Demokrat Kalsel ini menyebut sebesar Rp30 miliar. “Jika anggaran pekerjaan fisik jembatan itu nantinya tidak bisa dalam satu tahun anggaran, maka ada kemungkinan dilaksanakan dengan sistem multiyears. Kan masih ada waktu lagi tahun 2024, 2025, sampai 2026,” ujar Ibnu Sina.

Berhubung jembatan dan jalan itu masuk jalan provinsi, Ibnu bilang pihaknya akan meminta bantuan tambahan anggaran dari Pemprov Kalsel dan APBN.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah menjelaskan terkait pelaksanaan proyek itu pihaknya sudah melaksanakan sosialisasi kepada pemilik lahan yang terkena pembebasan.

“Sepanjang jembatan nantinya terdiri dari tiga bentang. Bentang utama diperkirakan sepanjang 60 meter. Sedangkan lebarnya 14 meter. Itu mengikuti lebar jalan raya di kawasan tersebut,” jelasnya.(war/gmp/az/dye) Editor : Arief
#Jembatan Pramuka Sungai Gampa #Penggusuran