Artinya NU di Banua masih dipimpin oleh Abdul Hasib Salim. Namun, itu tidak bakal lama.
Sebab PBNU dikabarkan akan menunjuk seorang caretaker. Sebelum konferwil kembali digelar untuk memilih Ketua Tanfidziyah yang baru.
Tak hanya posisi ketua, kabarnya, jajaran pengurus sementara juga akan ditunjuk.
Kabar ini dibawa oleh Katib PBNU, Syarbaini Haira. Dia bahkan memperkirakan, peralihan ini terjadi pada pekan ini juga.
Diceritakannya, belum lama tadi telah PBNU bersidang untuk menunjuk caretaker wilayah Papua. Setelah itu, giliran Kalsel. "Kemungkinan tidak akan lama lagi," ujarnya kemarin (13/6).
Ditekankannya, posisi caretaker itu penting untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan.
Terlebih, masa jabatan pengurus PWNU Kalsel periode 2021-2023 sudah berakhir sejak 4 Mei lalu.
Lalu sampai kapan para caretaker itu bekerja? Mantan Ketua PWNU Kalsel periode 2007-2012 dan 2012-2017 itu menerangkan, mengacu aturan yang ada, maka masa jabatan caretaker paling lama enam bulan.
Jika demikian, konferwil akan dihelat paling lambat pada awal tahun depan. "Sesuai aturan demikian, caretaker nanti yang akan melaksanakan konferwil," terangnya.
Syarbaini juga menyesalkan kentalnya nuansa politik yang meliputi konferwil di Pondok Pesantren Rakha HSU itu. Apalagi menyangkut nama-nama politikus senior.
Dia menegaskan, NU tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan seorang politikus ataupun partai politik.
Syarbaini menerangkan, merujuk hasil Muktamar tahun 1999, 2004, 2010,dan 2015, jajaran pimpinan NU tidak boleh memiliki latar belakang jabatan politik.
"Ini jelas aturannya, dilarang. Jika di muktamar ada yang terbaru, saya masih tidak begitu mendalami isinya," ujarnya.
Perihal konferwil Jumat (9/6) lalu yang harus dihentikan PBNU, dia menilai panitia memang tidak siap. Apalagi PBNU sebelumnya sudah mewanti-wanti agar konferwil disiapkan enam bulan sebelum hari H tiba.
Sejatinya, konferwil digelar pada Desember 2022 lalu. Tetapi karena panitia belum, konferwil terpakda ditunda.
"Saya sudah usulkan untuk dibentuk panitia dulu. Karena harus banyak yang dipersiapkan. Alhasil, konferwil pun akhirnya kembali ditunda karena masalah administratif," sesalnya.
Diberitakan sebelumnya, ketua panitia konferwil Berry Nahdian Furqon menceritakan, keputusan menunda itu diambil oleh Ketua PBNU Prof KH Mukri dan Wakil Sekjen PBNU Gus Salahuddin.
Setelah menelaah, keduanya melihat ada beberapa syarat yang belum terpenuhi. Maka konferwil tak bisa diteruskan.
"Jika konferwil tetap dipaksakan, hasilnya takkan diakui juga. Maka PBNU memutus untuk menunda," kata mantan Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST) itu, Sabtu (10/6). (mof/gr/fud) Editor : Arief