Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Kacaunya Konferwil NU Kalsel, Kental Nuansa Politik?

Arief • Senin, 12 Juni 2023 | 10:27 WIB
ORGANISASI : Dr Hasib Salim (dua kanan) rapat Konferwil PWNU Kalsel, pasca penundaan konferwil oleh PBNU Jumat (9/6). : FOTO UNTUK RADAR BANJARMASIN.
ORGANISASI : Dr Hasib Salim (dua kanan) rapat Konferwil PWNU Kalsel, pasca penundaan konferwil oleh PBNU Jumat (9/6). : FOTO UNTUK RADAR BANJARMASIN.
Sebelum konferwil PWNU Kalsel dimulai, panitia lokal di Ponpes Rakha menceritakan, ia bersama beberapa rekan sempat dikumpulkan seseorang. Dia kenal betul, yang mengumpulkan adalah orang partai politik.

****


KETUA Umum PBNU KH Yahya Cholil Staqut berhalangan hadir. Beliau kemudian mengutus Ketua PBNU Prof KH Mukri ke Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Beberapa jam setelah Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Kalsel ke-9 di Ponpes Rakha Amuntai itu dibuka, Jumat (9/6), PBNU justru memutuskan untuk menunda konferwil sampai waktu yang tak ditentukan.

Pemilihan Ketua Tanfidziyah PWNU Kalsel pada Sabtu (10/6) malam pun batal.

Lomba-lomba untuk meramaikan konferwil tetap digelar, tetapi sejumlah pengurus cabang NU lebih memilih untuk pulang ke daerahnya masing-masing.

Beragam spekulasi menyeruak. Dari panitia yang tidak siap, hingga kentalnya nuansa politik di sekitar konferwil.

Rumor terakhir yang paling ramai dibincangkan. Dari sekian kandidat, tersisa dua orang yang menyatakan tekadnya untuk maju pemilihan.

Mereka adalah Syaifullah Tamliha, anggota DPR RI dari Fraksi PPP dan Abdul Hasib Salim, anggota DPRD Kalsel dari Fraksi PDI Perjuangan. Hasib adalah calon petahana.

Keduanya saling klaim dukungan dari para pemilik suara (pengurus cabang).

Mundur ke belakang, sebelum konferwil dimulai, panitia lokal di Ponpes Rakha menceritakan, ia bersama beberapa rekan sempat dikumpulkan seseorang. Dia kenal betul, yang mengumpulkan adalah orang partai politik.

Padahal, dia hanya panitia biasa. Bukan pengurus wilayah. Pemilik suara juga bukan.
"Nuansa politiknya sudah mulai terasa sejak persiapan konferwil," ujarnya kepada Radar Banjarmasin sembari meminta namanya tak dikorankan.

Dia mengungkap, peralatan untuk menunjang konferwil merupakan sumbangan dari salah satu parpol. "Bukan rahasia lagi. Banyak yang mengetahuinya," bebernya.

"Nuansanya sudah bukan acara keagamaan lagi. Tapi lebih banyak ke politik," sesalnya.

Penghentian konferwil ini disayangkan oleh mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Kalsel, Syarbaini Haira.

Haira yang pernah memimpin NU Banua pada periode 2007-2012 dan 2012-2017 ini menyebut konferwil sebagai "tragedi NU Banua".

Dalam tulisan yang ia unggah di laman indonesiasatu.net, ia menyatakan hajatan mulia milik NU telah tergores dan tercoreng.

Oleh siapa? Dia menunjuk para penanggungjawab acara. Dalam hal ini pengurus sebagai pemilik acara serta panitia sebagai pelaksana.

"Ini pelajaran baru. Dan tentu saja menambah daftar panjang sejarah yang suram dan destruktif dari perjalanan jam'iyah Nahdlatul Ulama di Banua," tulisnya.

Melihat kondisi ini, dia mengingatkan kepada semua elemen NU, khususnya yang sudah sepuh, untuk jangan membiarkan jam'iyah semakin terpuruk.

"Bagi saya, upaya penyelamatan NU sudah masuk dalam kategori 'fardhu ain' di kalangan elitnya. Artinya jika dibiarkan ambruk, apalagi kita malah terlibat dalam menciptakan suasana yang menuju ke jurang kekeliruan demi kekeliruan, ini menjadi problem," sebutnya.



Syarbaini bahkan mengatakan penghentian konferwil kemarin sebagai peristiwa yang tragis. Sebuah tragedi.

"Mengingat NU adalah wadah urgen dan strategis bagi syiar Islam ahlussunnah wal jamaah di negeri ini, bagi warga NU khususnya dan saya yakin bagi umat Islam lainnya, tentu berharap ini merupakan kejadian yang terakhir kalinya," harapnya.

Terpisah, salah seorang kandidat, Syaifullah Tamliha amat menyayangkan penundaan konferwil. "Saya siap saja mengikuti aturan. Kita lihat saja permainannya. Kalau PBNU menunda, silakan," katanya, Sabtu (10/6).

Dari 15 pengurus cabang pemegang hak suara, Tamliha mengklaim sudah memegang sebelas di antaranya.

Tamliha menjamin, meski konferwil ditunda sampai Pemilu 2024 usai sekalipun, dukungan kepada dirinya takkan berubah.

"Terserah kapan PBNU mau melanjutkan, saya pastikan dukungan pengurus cabang kepada saya tidak berubah," klaimnya.

Menyikapi soal penundaan konferwil, apapun alasannya, mantan aktivis PMII itu berpendapat, seharusnya hal itu tidak sampai terjadi.

"Karena taruhannya adalah nama besar NU," tukasnya.

Pasalnya, hajatan sebesar ini bukan hanya disaksikan oleh warga Nahdliyin, tetapi juga ditonton oleh organisasi Islam lainnya dan umat Islam di Banua. Tamliha menegaskan, penundaan tidak merugikan dirinya.

"Akan tetapi merugikan nama besar NU itu sendiri," tutupnya. (mof/gr/fud) Editor : Arief
#NU Nahdlatul Ulama