Hal itu diakui oleh Kepala Bidang (Kabid) Penegakan Hukum dan Pengendalian Lingkungan (PHPL) DLH Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septian. Ia membeberkan, pihaknya mendata ada 11 mata air yang jadi jantung bagi aliran sungai dengan panjang 334,242 Km2 tersebut.
Lokasinya tersebar di beberapa titik di RT 30, Kelurahan Sungai Ulin Kota Banjarbaru. Disinilah pusat atau hulu aliran air yang ada di Sungai Kemuning.
Warga setempat menyebutkan bahwa kondisi mata air bakal berubah setiap waktu sesuai dengan cuaca atau musim yang terjadi di Kota Banjarbaru. "Saat kemarau seperti ini memang kecil, tapi volume air yang keluar itu akan berubah jika memasuki musim penghujan," ucap Shanty saat ditemui Radar Banjarmasin.
Bahkan ada salah satu mata air yang seluas kurang lebih 15 meter persegi dengan kedalaman sekitar 7 meter selalu penuh air jernih dan yang mengalir deras ke bagian hilir Sungai Kemuning.
Namun sayangnya seiring waktu keberadaan 11 mata air tersebut terancam oleh pembangunan dan masifnya permukiman yang mulai muncul di sekitar sana.
Pohon-pohon besar yang awalnya jadi vegetasi tutupan lahan di sekitar mata air pun kian berkurang. Hal itu diakuinya membuat air hujan tidak dapat tertampung secara maksimal di bagian hulu.
Karena itulah, pada Rabu (10/5) lalu DLH Banjarbaru memutuskan untuk menguji sampel baku mutu sumber mata air Sungai Kemuning. "Dari hasil uji di Laboratorium UPT Lingkungan Hidup kita (DLH Banjarbaru) terlihat bahwa kualitas pada mata air Sungai Kemuning masih di bawah standar baku mutu kesehatan lingkungan," ucapnya
Ia mengatakan, pengambilan sampel kualitas sumber mata air tersebut dilakukan di beberapa titik di bagian hulu Sungai Kemuning. "Ketiga sampel ini sudah kita uji secara berkala tingkat pencemaran air, baik secara biologi, kimia atau fisika," kata Shanty.
"Dan hasil Indeks Kualitas Air (IKA) dari lima indikator di sumber mata air Sungai Kemuning masih di bawah standar baku mutu," tambahnya.
Kendati demikian, Shanty menyebut bahwa kualitas sumber mata air saat ini memang cukup baik dan masih terjaga dari pencemaran.
Namun ia tetap tidak merekomendasikan jika air tersebut langsung dikonsumsi. "Kalau untuk dikonsumsi langsung tidak kami sarankan, untuk parameter air yang layak dikonsumsi itu harus diuji dulu dengan 20 indikator parameter ukur IKA," terangnya.
Tidak hanya itu, Shanty menambahkan, sejumlah industri yang ada di sana juga menambah ancaman bagi kemurnian air Sungai Kemuning.
"Kurang lebih setengah kilo meter dari titik terakhir mata air ada sebuah industri rumahan beraktivitas di sana. Khawatirnya ini akan berdampak kalau pemilik industri ini tidak bijak dalam mengelola limbahnya," ungkapnya
Kemudian, ia mengakui berdasarkan penelitian DLH Banjarbaru pada tahun 2022 lalu, kualitas air Sungai Kemuning yang berada di tengah kota sudah masuk dalam kategori tercemar ringan.
"Bagian hilir sungai tersebut telah mengalami pencemaran lingkungan ringan disebabkan oleh limbah domestik rumah tangga," terangnya.
Akibatnya air di bagian hilir ini sudah tidak bisa dipergunakan untuk aktivitas sehari-hari masyarakat.
Oleh karena itu, dikatakannya pihaknya akan terus melakukan evaluasi dampak sungai yang tercemar ini, serta memasifkan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar Sungai Kemuning untuk tidak membuang kotoran maupun sampah sembarangan di sungai.
"Tak terkecuali bagi para pelaku usaha untuk mengolah limbah industrinya tidak dibuang ke sungai," tukasnya.
Lantas, apakah ada upaya untuk mempertahankan 11 mata yang jadi jantung Sungai Kemuning tersebut?
Terkait hal itu, Shanty menerangkan bahwa dari hasil analisa lapangan menunjukkan, bahwa perlu adanya langkah tegas untuk menyelamatkan kemurnian mata air Sungai Kemuning.
Salah satunya adalah dengan cara mengakuisisi lahan di sekitar titik mata air. Ada sekitar empat hektare lahan yang harus diselamatkan.
"Kalau dari hasil penelaahan lapangan, kita (Pemko) harus membelinya lahan di sana. supaya daerah tutupan di sana bisa terjaga dari pembangunan," katanya.
"Dan hasil penelaahan ini sudah kita sampaikan ke Pak wali Kota, dan semoga bisa disetujui," harapnya
Bukan tanpa alasan hal itu diungkapkan, menurutnya jika lahan itu sudah jadi hak milik Pemko Banjarbaru, maka di samping mempertahankan sembari merawat lingkungan hidup di sana.
"Bahkan kita bisa menambah jumlah pohon-pohon, supaya daya tampung air di sana bertambah dan kemurnian mata air bisa terjaga," pungkasnya. (zkr/yn/ram) Editor : Arief