Bagaimana tidak, dalam tragedi kerusuhan bernuansa politik itu ada ratusan nyawa melayang. Begitu pula, mereka yang hilang. Hingga kini tak diketahui bagaimana rimbanya.
Saat itu, Kota Banjarmasin luluh lantak. Penjarahan hingga aksi pembakaran membuat perekonomian hancur.
"Kericuhan hingga penjarahan di mana-mana. Tak ketinggalan, ada banyak wanita yang jadi korban," ujar Indra Rahman Hakiki, pimpinan produksi aksi teatrikal itu, kemarin (23/5) petang.
Dari Jalan Pangeran Samudera, aksi long march disertai teatrikal itu berhenti di kawasan Mitra Plaza, di Jalan Pangeran Antasari.
Dari sekian banyak figur teatrikal, dua yang paling mencolok. Figur seorang lelaki berumur alias kakek-kakek, dan perempuan buta yang berjalan.
"Kakek itu memperingatkan bahwa bertahun-tahun yang lalu, pernah terjadi sebuah tragedi menyebabkan luka mendalam," ungkap Indra.
"Sang kakek, tak mengerti peristiwa itu disebabkan oleh apa. Namun yang pasti, ia berharap dan memperingatkan agar kejadian serupa tidak terulang," tekannya.
Lalu, tentang wanita yang buta adalah simbol menggambarkan banyaknya perempuan menjadi korban dalam tragedi itu.
"Perempuan itu tidak bisa melihat lagi tentang warna. Baik itu hijau, merah, kuning atau apa. Yang ia lihat hanya kegelapan," jelas Indra.
Persis di depan Gedung Mitra Plaza di Jalan Pangeran Antasari, puluhan mahasiswa tak sekadar menampilkan aksi teater. Mereka juga menggelar doa bersama untuk seluruh korban, hingga menaburkan bunga.
Ketua Umum Sanggar Titian Barantai, Ahmad Mujahid Waridi menegaskan bahwa aksi yang digelar kemarin (23/5), lebih kepada bentuk peringatan. Supaya kejadian serupa tidak terjadi lagi.
Pihaknya juga mempertanyakan terkait masih abu-abunya di mata hukum tentang tragedi yang terjadi. "Kami tak ingin tragedi serupa kembali terjadi. Kapanpun itu," tegasnya.
Dari hasil pantauan Radar Banjarmasin, di Gedung Mitra Plaza, persis di lantai 4, solidaritas digelar sejumlah elemen masyarakat di Banjarmasin. Digagas oleh perkumpulan RUNE (Reliability, Unity, Nature, Equality), kegiatan digelar melalui istigasah, pembacaan Al-Qur’an, haul akbar, hingga pembacaan doa agar tragedi laiknya Jumat Kelabu tidak terjadi lagi.(war/az/dye) Editor : Arief