Kondisinya memprihatinkan. Ditumbuhi rumput kering, sebagian lahan sudah terendam air.
Plang kayu yang bertuliskan "Makam Massal Jumat Kelabu 23 Mei 1997" itu juga kusam berlumut. Semakin sulit terbaca.
Semakin mempertegas bahwa kuburan itu benar-benar dilupakan. Kesan tak terurus juga terlihat dari nisan-nisan yang copot dan hilang.
Hanya beberapa kuburan yang masih terlihat jelas di atas tanah dengan panjang 26 meter dan lebar empat meter tersebut.
Penjaga makam, Sabirin mengungkap, makam Jumat kelabu itu kian jarang didatangi peziarah. "Walaupun pada tanggal 23 Mei, mungkin yang berziarah hanya dua tiga orang," katanya.
Sepengetahuannya, ada tiga makam yang masih diziarahi, walaupun cuma setahun sekali. "Hanya tiga makam yang ada keramiknya itu," tunjuknya.
Dulu ketika peziarahnya masih banyak, kuburan massal itu selalu bersih. Tampak terurus.
"Kami yang mengurusnya, walaupun tidak ada yang membayar," ujar Sabirin.
Samuji, penjaga makam lainnya menambahkan, kuburan massal itu semakin sering tergenang ketika air sedang pasang atau musim hujan.
"Makanya saya bikin parit di sekeliling makam agar air tak menumpuk," tambahnya.
Setiap dua pekan sekali, keduanya membersihkan kuburan massal ini. "Rumputnya semakin cepat tumbuh. Jadi harus rutin dipangkas," ujarnya.
Disinggung sejak kapan kuburan massal itu jarang kedatangan peziarah, ia menjawab sejak enam tahun yang lalu. "Ada beberapa keluarga korban yang bilang, kalau datang ke sini selalu teringat kejadian dulu. Jadi mereka jarang ke sini," pungkasnya. (ris/gr/fud) Editor : Arief