Kepala Bidang Sungai di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Hizbul Wathony menyebut ketinggian air sungai yang pasang sekitar 2,4 meter. "Wilayah yang terdampak yakni daerah pinggiran sungai di wilayah Kecamatan Banjarmasin Barat, dan Kecamatan Banjarmasin Selatan," ungkapnya, kemarin (14/4).
Utamanya wilayah yang berdekatan dengan Sungai Barito dan sebagian Sungai Martapura. Seperti di kawasan Jalan Cendrawasih dan Jafry Zamzam.
Thony mengakui bahwa intensitas banjir rob yang terjadi saat ini lebih sering bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Buktinya, banjir rob terjadi hampir tiap bulan. Bahkan dalam satu bulan, banjir rob bisa terjadi beberapa kali.
Apa yang menjadi penyebab? Thony mengaku tidak mengetahuinya. "Entah karena faktor cuaca, atau mungkin di daerah hulu itu tidak bisa menyangga lagi, kami tidak tahu. Tapi, kami akan mengkaji dan mencari tahu ke BMKG," ucapnya.
Thony menilai bahwa dampak banjir rob kini juga semakin luas. "Kawasan yang biasanya tidak tergenang, sekarang jadi tergenang. Misalnya di daerah S Parman," ucapnya. "Dulu cuma di depan Rumah Sakit Islam. Sekarang daerah seberangnya juga terendam," bandingnya.
Lantas, bagaimana hasil dari program normalisasi sungai atau peremajaan drainase yang digagas pihaknya? Thony mengklaim bahwa kegiatan tersebut cukup memberikan pengaruh. Setidaknya mempercepat turunnya genangan air yang ada di permukaan jalan.
"Normalisasi sungai juga menambah daya tampung. Paling tidak, menjadi penyangga agar banjir rob tidak menyasar kawasan lain atau meluas," pungkasnya.(war/az/dye) Editor : Arief