Oleh: ZALYAN S ABDI, Kotabaru
JIKA hanya melihat rupiah, sudah sejak awal Khairul Umam berhenti mengajar. Rp800 ribu per bulan cukup apa?
Tapi lelaki berperawakan kecil itu bertahan. Beruntung istri yang dia sunting 2018 lalu punya visi yang sama tentang hidup.
"Senyum anak-anaklah yang membuat kami bertahan. Tetap setia dengan bangku sekolah," ujar Umam.
Penulis mengenal Umam sejak remaja. Kami pernah satu kos, tapi jarang bertegur sapa. Umam memang pendiam. Teman setianya adalah buku dan kertas makalah.
Di malam hari, saat penulis melepas penat dengan menonton film laga, Umam justru melantukan ayat-ayat suci di kamarnya.
Bertahun-tahun berlalu, Umam tumbuh tegar. Lulus kuliah enam tahun lalu, dia langsung mengajar. Menjadi guru honorer di sebuah SD di Desa Semayap Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten Kotabaru.
Gaji ratusan ribu dihemat sedemikian rupa. Berat? Jelas. "Jujur, saya beberapa kali sempat mau berhenti," akunya.
Tapi kecintaannya mengajar sungguh tulus. Umam menambah pemasukan, menjadi guru mengaji. Terus jualan kue online.
"Kalau bilang saya nggak terbebani dengan kondisi mendekati lebaran, itu bohong. Gamang juga. Tapi apa boleh buat, saya syukuri apa yang ada," ujarnya.
Sekitar 45 kilometer dari rumah Umam, seorang guru muda beranak satu, Taufik Ali juga sedang gelisah.
Sebagai kepala keluarga, Taufik kepengin membelikan baju lebaran buat anak istri. Ditambah kue-kue kering untuk para tamu.
Taufik sudah menghonor sejak delapan tahun di sebuah SMP di Kecamatan Pulau Laut Tengah.
Walau desanya kaya raya dengan kelapa sawit dan batu bara, Taufik memilih menjadi guru. "Mungkin karena saya dididik menjadi guru kali ya? Saya mencintai tiap sudut ruang kelas itu. Meninggalkannya berat sekali," akunya.
Pertama honornya hanya Rp250 ribu. Sekarang sama dengan Umam, Rp800 ribu.
"Kalau kita hitung matematika, mana cukup. Tapi kuasa Tuhan, ada saja jalannya," lirihnya dengan logat Bugis.
Kuasa Tuhan datang dari pintu-pintu tak terduga. Seperti panggilan ngojek. Atau bensin langsiran yang laris mendadak.
Pada malam-malam yang paling gelap, Taufik mengaduh. "Mengapa pemerintah belum bisa memberi pendapatan yang layak kepada kami? Sementara banyak pejabat yang digaji berlebih," ujarnya.
Taufik enggan dipusingkan perkara THR. Guru honor toh sudah terbiasa mengalah.
Dia mendengar, guru SMA yang dihonor Pemprov Kalsel, taraf kesejahteraannya sudah lumayan. Contoh Kusyadi, guru honor MAN Kotabaru. Selama ini ia menerima sekitar Rp2 juta per bulan.
Dan ia bersaksi, uang segitu pas-pasan untuk bertahan hidup. Tak seperti yang dibayangkan Taufik.
"Hitung sendiri lah... Bayar kontrakan, makan, bensin," ujar Kusyadi.
Apalagi guru honor SMA digaji per jam. Maka, untuk meraih dua juta rupiah, Kusyadi harus mengajar penuh selama lima hari dalam sepekan.
"Sampai sore. Malam harus periksa tugas anak-anak, lanjut persiapan materi ajar besok. Saya nggak bisa nyambi kerja lain lagi," keluhnya.
Dan akhirnya sama saja. Kusyadi pun berharap ada THR menolong.
Kusyadi teringat, pada tahun lalu ada momen ajaib. Seorang murid menghadiahkannya "THR" berupa sajadah, baju koko, dan sarung baru. (gr/fud)
Judul sambungan: Digaji 800 Ribu, Tanpa THR Editor : Arief