Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Banjarmasin, M Ihsan El-Haque membandingkan bahwa nilai Banjarmasin masih berada di level tertinggi ketimbang 12 kabupaten/kota lainnya. Misalnya Kabupaten HSU yang hanya mendapat nilai 64,66, dan Batola dengan nilai 63,66.
"Kita akui di tingkat nasional kita masih berada di klasemen tengah. Tapi, untuk level provinsi kita masih berada di posisi teratas," ungkapnya, Selasa (21/2) siang.
Ia mengaku tidak tahu bagaimana pola penilaian tersebut bisa didapat. Menurutnya, minat baca di Kota Banjarmasin sudah sangat meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Mungkin karena Perpusnas ini menilainya dari kunjungan ke perpustakaan, dan banyaknya orang membaca buku secara fisik. Kalau seperti itu memang mungkin benar nilainya seperti itu," ujarnya. "Tapi saya pikir minat baca masyarakat kita ini tinggi, tapi lewat digital alias online," tambahnya.
Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banjarmasin ini tetap akan mencari cara agar bisa meningkatkan nilai minat baca ini dengan melakukan berbagai macam inovasi. Salah satunya membangun pojok baca di 52 kelurahan, balai kota, dan mal pelayanan publik.
"Kita sadari harus bekerja keras dalam hal ini. Upaya mendekatkan buku dengan masyarakat harus dijalankan secara ekstra. Maka dari itu kita akan perbanyak pojok baca," katanya.
Ia berencana upaya itu akan mulai dijalankan pada anggaran perubahan. Ia berharap DPRD Kota Banjarmasin bisa mendukung langkah tersebut agar pihaknya bisa meningkatkan minat baca di Kota Banjarmasin.
"Untuk anggarannya masih belum tahu berapa jumlah riilnya. Tapi, yang pasti tidak sebesar di Dinas Pariwisata dan dinas lain," yakinnya.
Ia menegaskan bahwa upaya peningkatan minat baca tidak bisa dijalankan hanya lewat dinasnya saja. Perlu dukungan dari SKPD lain.
"Misalnya Disdik, peningkatan minat baca ini salah satunya sangat tergantung dari pergerakan Disdik. Kita harus menumbuhkan rasa cinta dengan buku ini sedari dini, alias ketika masih anak-anak," tegasnya.
Dipengaruhi Budaya dan Kondisi Perpustakaan
Rendahnya minat baca di Kota Banjarmasin juga jadi perhatian bagi akademisi ULM, Fahriannoor. Ada dua faktor yang menyebabkan minat baca di Kota Banjarmasin. Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi FISIP ULM ini menyebut faktor budaya, dan kondisi perpustakaan.
Untuk faktor pertama, Fahriannoor menjelaskan bahwa budaya bertutur dan mendengarkan masih sangat melekat pada warga khususnya di Banjarmasin. Banyak masyarakat yang minatnya masih sangat kurang untuk membaca.
"Padahal di era digital ini sebenarnya bisa mempermudah dalam mendapatkan literasi. Tapi kok sekarang masih biasa saja. Ini jadi pertanyaan yang harus segera dibenahi," ungkapnya, Selasa (21/2) malam.
Selain itu, penurunan minat baca juga disebabkan kondisi perpustakaan Kota Banjarmasin yang suasananya masih dianggap warga jauh dari rasa nyaman.
"Contoh seperti Dispersip Kalsel, perpustakaan di sana mampu menyuguhkan suasana nyaman bagi masyarakat yang ingin membaca," bandingnya.
"Jadikanlah perpustakaan itu sebagai tempat yang enak dan nyaman. Bahkan perpustakaan di pal 6 ini bisa jadi tempat wisata," tukasnya.
Menurutnya, terobosan yang dijalankan Dispersip Kalsel patut dijadikan referensi bagi perpustakaan di setiap daerah di Kalsel. Supaya minat baca masyarakat bisa terbangun dengan baik.
Selain itu, Fahriannoor juga menyebut pergerakan Duta Baca di Kota Banjarmasin sama sekali tidak terlihat. Wajar jika literasi Banjarmasin masih berada di bawah Kota Banda Aceh, Serang, Samarinda, Denpasar, dan kota besar lainnya.
Disarankannya, wali kota Banjarmasin yang terbilang masih muda harus peduli dengan minat baca di kotanya sendiri. Mengingat belum begitu gencar pergerakan terkait peningkatan minat baca pada masyarakatnya.
Bunda Literasi juga belum ada dikukuhkan. Tertinggal dibanding HST, Tanbu, Tala, dan Kota Banjarbaru. "Duta Baca dan Bunda Literasi ini perannya sangat penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Jika hanya bergantung pada dinas saja, maka tujuan peningkatan literasi di Kota Banjarmasin tidak akan pernah tercapai," ingatnya.
Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani Dardie membeberkan pihaknya baru saja menyerahkan bantuan Perpusnas RI berupa mobil perpustakaan keliling kepada Dispersip Kota Banjarmasin. Namun, mobil tersebut masih belum terlihat pergerakannya. Ia menduga, Banjarmasin hanya banyak terbantu dengan keaktifan pihaknya yang bergerak masif, mengingat lokasi Kantor Dispersip berada di Kota Banjarmasin.
"Tapi, kami sangat berharap Dispersip kabupaten/kota dapat mencontoh keaktifan Dispersip Provinsi Kalsel. Justru kabupaten/kota yang memahami kondisi wilayahnya masing-masing. Sedangkan kami sifatnya hanya pembinaan dan koordinasi saja," tegasnya.(zkr/az/dye) Editor : Arief