MARABAHAN - Kelurahan Ulu Banteng berada di Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala. Puluhan keluarga di sini, tepatnya di RT 18, menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian.
Tahun ini mereka bersedih. Padi yang ditanam memang tumbuh, tapi tidak berbuah.
Gagal panen berjemaah itu disebabkan hama dan cuaca yang kian tak menentu.
"Tahun ini gagal panen. Bukan hanya satu atau dua petani yang mengalaminya, namun semuanya," ujar Anci, salah seorang petani.
Tahun mendatang dipastikan Anci harus membeli beras untuk mengisi perut keluarganya. "Satu hektare lebih tidak berbuah. Tidak ada yang bisa dipanen," tambahnya sedih.
Diceritakannya, hama tungro menyerang dengan hebat. Belum kelar masalah hama, petani Ulu Benteng menghadapi rob yang terus-menerus merendam dan membasahi padi.
Kala panen, Anci bisa menghasilkan 250 blek gabah (satu blek setara 10,5 kilogram).
Sekarang, untuk makan sehari-hari ia tertolong sisa panen tahun lalu. Kira-kira masih cukup untuk makan dua tiga bulan mendatang.
"Melihat padi yang tidak berbuah, saya sempat menyimpan beberapa blek padi," ujarnya sembari menyatakan stok padinya sempat ditawar pembeli.
Sedangkan Sarpin merayakan sedikit panen. Tidak banyak, hanya cukup untuk disimpan dan makan selama setahun. Artinya, tidak bisa dijual untuk modal tanam tahun depan.
"Ada sedikit yang dipanen, sekitar 60 blek. Biasanya sampai 600 blek," ungkapnya seraya mengucap syukur.
Gagal panen ini menghantam perekonomian masyarakat dengan keras. Petani di sini mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Beberapa bahkan sudah mantap untuk berhenti bertani.
"Tanahnya sudah menyewa, ditambah gagal panen," keluh Mastu. "Saya berhenti bertani saja," sambungnya.
Dikisahkannya, pada awalnya mereka semua bersemangat. Melihat padi yang tumbuh bagus. Namun mendekati waktu panen, mendung menggelantung.
Mastu hanya bersyukur, pemilik tanah mau memaklumi. Dia pun terhindar dari lilitan utang. "Untung beliau tidak meminta uang sewa tanah," ujarnya.
Bukan hanya petani, ibu-ibu rumah tangga yang bisa mengambil upah mangatam (memetik) padi juga menganggur.
"Biasanya masa panen berarti lapangan pekerjaan bagi kami," kata Bariyah.
Tahun ini, tidak seorang pun menawarinya pekerjaan mangatam. "Apa yang mau dipanen? Petani hanya memanen sedikit demi sedikit dari padi yang masih bisa diselamatkan," tutupnya. (bar/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi