Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Miris, Perpustakaan Umum RTH Kamboja Minim Koleksi Buku Bacaan

Muhammad Helmi • Rabu, 7 Desember 2022 | 16:06 WIB
JENDELA DUNIA: Potret sarana dan prasarana penunjang literasi di Banjarmasin. Salah satunya di Perpustakaan RTH Kamboja. Selain kebutuhan sarana dan prasarana, masih ada hal lain yang diperlukan dinas terkait. Salah satunya, SDM pustakawan. | FOTO: WAHYU
JENDELA DUNIA: Potret sarana dan prasarana penunjang literasi di Banjarmasin. Salah satunya di Perpustakaan RTH Kamboja. Selain kebutuhan sarana dan prasarana, masih ada hal lain yang diperlukan dinas terkait. Salah satunya, SDM pustakawan. | FOTO: WAHYU
Nasib perpustakaan di RTH Kamboja memilukan. Selain koleksi buku yang masih sangat kurang, untuk mendatangkan pengunjung saja petugasnya mesti jemput bola.

Penulis, WAHYU RAMADHAN

Di salah satu sudut taman yang berlokasi di Jalan Anang Adenansi, Kecamatan Banjarmasin Tengah itu berdiri sebuah gedung yang cukup eksentrik. Berkonsep industrial, bangunan itu terdiri dari dua lantai. Dibuat dari dua buah peti kemas yang disusun berselang-seling. Ditopang sejumlah tiang. Dilengkapi dengan teras, juga tangga.

Bagian dalam peti kemas, diletakkan meja dan bangku, berikut rak buku. Jadilah gedung itu taman baca.
Pembangunan taman baca itu digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin. Berlangsung sejak 2019 lalu, rampung di tahun 2020.

Anggarannya termasuk dalam pembangunan lanjutan RTH Kamboja. Saat itu, biaya yang digelontorkan sebesar Rp6 miliar. Bersumber dari APBD 2019.

Sayang, sejak selesai dibangun hingga tahun 2021 lalu, taman baca itu hampir tak ada kunjungan. Meski ada petugas jaga, gedung itu justru tampak seperti dibiarkan terbengkalai.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2022 ini? Syukurlah, ada sedikit kemajuan. Taman baca sudah berubah nama menjadi Perpustakaan Umum RTH Kamboja.

Kini perpustakaan itu dipakai oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Banjarmasin. Dari informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, status perpustakaan tersebut adalah perpustakaan pembantu.

Dikunjungi kemarin (6/12) siang, perpustakaan itu sedikit tampak dibenahi. Di atas peti kemas yang bersusun, sudah ada atap dipasang. Bila mengingat sebelum ada atap itu, saat hujan mengguyur, bagian teras di lantai satu dan dua selalu basah. Bila tidak dibersihkan, jangan harap Anda bisa duduk santai di teras.

Di sisi lain, hujan yang mengguyur juga membuat rembesan air masuk ke bagian dalam peti kemas. Alhasil, basahlah bagian dalam perpustakaan itu. Tentu membuat kondisi perpustakaan kian memprihatinkan. "Seingat saya, atap ini baru selesai dipasang dua atau tiga hari yang lalu. Dikerjakan oleh DLH Banjarmasin," ungkap Fauziah, salah seorang petugas jaga di Perpustakaan RTH Kamboja, kemarin (6/12). "Meskipun bila pagi hari, kami sering membersihkan sisa remah-remah buah yang dimakan hewan malam berserakan di atas teras," tambahnya.

Di perpustakaan ini setidaknya ada empat petugas lagi selain Fauziah. Kemarin (6/12), keempat petugas lainnya itu tampak sibuk mendata, juga merapikan buku-buku yang ada di lantai satu. "Sementara, lantai satu ini yang bisa dipakai. Karena di sini lumayan banyak dan beragam buku-bukunya," ujar petugas lainnya, Nor Hasanah.
"Di lantai dua itu ada buku-bukunya. Tapi buku komik. Jumlahnya tidak banyak," tambahnya.

Baik Nor Hasanah maupun Fauziah, baru bulan September tadi bertugas di perpustakaan itu. Diakui keduanya, saat datang ke perpustakaan, kondisinya tak jauh berbeda dari kondisi sekarang. Rak buku yang diletakkan di lantai bawah dan atas, misalnya, tidak semuanya terisi. Masih banyak yang kosong.

Koleksi bukunya pun masih tidak diperbaharui. Dari sebanyak 1.500 buku yang ada di perpustakaan itu, mayoritas hanya ada buku-buku lama.

Kondisinya juga cukup memprihatinkan. Tak bersampul, juga tampak kucel dan bau apek. Kalaupun ada buku baru, jumlahnya juga tak banyak. "Maka dari itu, kami meminta bantuan lagi beberapa orang untuk merapikan dan mendata buku-buku apa saja yang ada," ujar Nor Hasanah.

Sejauh ini, hanya ada buku ilmu pengetahuan umum, buku agama dan buku komik. "Di sini, terus terang, kami kekurangan buku untuk anak-anak," ungkapnya. "Sebagai ibu yang punya anak remaja, buku bacaan para remaja pun masih kurang," tekannya.

Itu belum termasuk dengan kondisi ruang baca yang bercampur dengan ruangan petugas jaga Perpustakaan RTH Kamboja tersebut. Ketika keduanya baru bertugas, tak ada pendingin ruangan, bahkan lampu penerangan. "Kami sempat merasakan panasnya berada di ruangan ini. Rasanya seperti mandi keringat," timpal Fauziah.

"Sekarang, Alhamdulillah ada. Bahkan ditambah pula dengan kipas angin. DLH Banjarmasin pula yang memasangnya," jelasnya.

Kalaupun ada yang kurang, kini hanya toilet dan alat penunjang. Ambil contoh komputer. "Kami di sini hanya punya satu laptop. Itupun, suka error. Sulit untuk digunakan mendata buku-buku yang ada," jelas Fauziah.

Ketika pulang, laptop ini juga dibawa ke rumah. “Kalau ditinggal takut hilang," tambahnya. "Sedangkan toilet, kami berharap dibangun di lokasi yang berdekatan dengan perpustakaan ini," harapnya. Hal itu diungkapkannya bukan tanpa alasan, mengingat setiap kali petugas perpustakaan hendak ke toilet, mereka harus berjalan jauh sambil membawa air dalam ember.

Lantas, bagaimana dengan kunjungan ke perpustakaan itu? Disinggung terkait hal itu, Nor Hasanah juga Fauziah tampak masygul. Menurut Fauziah, kunjungan ke perpustakaan masih jauh dari kata banyak. Padahal, perpustakaan itu dibuka setiap hari kerja. Dari Senin hingga Jumat. Rinciannya, hari Senin hingga Kamis, perpustakaan dibuka jam 8 pagi hingga hampir 17.00 petang. Sedangkan hari Jumat, perpustakaan buka jam 8 hingga jam 11 siang.

Keberadaan perpustakaan itu sangat jarang diketahui oleh masyarakat. "Akhirnya, kami di sini lebih banyak memakai metode jemput bola," ujarnya perempuan 53 tahun itu.

Caranya, ketika ada anak-anak sekolah yang belajar atau berolahraga di taman bersama para gurunya, Fauziah dan Nor Hasanah mengajak ngobrol para guru. "Lalu, kami ajak mereka mengunjungi perpustakaan ini," jelas Fauziah. "Kalau sudah seperti itu, bisa ada 40 sampai 60 anak yang datang ke sini," tambahnya.

Apakah para murid sekolah merasa puas? Rupanya belum. Masih ada kendala lain. Fauziah menyatakan buku yang ada di perpustakaan, belum bisa menjawab keinginan para pengunjung. "Di sini, kami hanya berharap koleksi buku bisa ditambah lebih banyak lagi dan beragam. Kami dengar, tahun depan akan ditambah sekitar 1.000 buku lagi. Semoga saja itu benar-benar terjadi," harapnya.

Menurutnya, sebenarnya yang datang tidak hanya anak-anak. Remaja pun banyak. Termasuk mahasiswa. "Bagi kami yang tua-tua ini, bisa melihat anak-anak atau masyarakat berkunjung ke sini lalu membaca buku, sudah sangat menyenangkan hati kami," timpal Nor Hasanah.

Di sela-sela perbincangan, di kejauhan tampak seorang bocah memancal sepedanya ke arah perpustakaan. Tiba di depan perpustakaan, Nor Hasanah maupun Fauziah pun langsung menyambut bocah itu. "Anak ini tiap hari datang ke sini. Ia pengunjung setia perpustakaan," ujar Fauziah.

Sayang, saat ia datang, hari sudah beranjak petang. Perpustakaan juga sudah tutup. Akhirnya, bocah tujuh tahun yang diketahui bernama Ali Andro itu pun terpaksa balik kanan. Diminta untuk kembali lagi ke perpustakaan keesokan harinya. "Ia kelas II di SDN Teluk Dalam 1. Sering kami ajak mengobrol, dan kami ajari membaca di sini," ungkap Fauziah. "Terkadang, ia datang bersama teman-temannya ke sini," tambahnya.

"Kami sadar betul, menumbuhkan minat baca itu tidaklah mudah. Sekarang ini, kami sedang berupaya menumbuhkan minat itu," timpal Nor Hasanah, sembari melempar senyum dan melambaikan tangan ke arah Ali Andro.(war/gr/dye)

Berharap Pengelolaan Diserahkan ke Dispersip

BANJARMASIN - Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Banjarmasin, Ikhsan Alhak mengakui bahwa kondisi serta koleksi buku di Perpustakaan RTH Kamboja masih jauh dari yang diharapkan. Semestinya menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi, juga banyak menyediakan buku-buku bacaan.

"Karena sifatnya hanya sebagai perpustakaan pembantu. Jadi koleksinya tak sebanyak di perpustakaan Kota Banjarmasin di Siring Pierre Tendean," bandingnya, kemarin (6/12).

Apakah bakal ada menambah koleksi buku di situ? Ikhsan menyatakan ada. Namun, Ikhsan membeberkan pihaknya tak bisa berbuat banyak terkait kondisi perpustakaan itu. Alasannya, karena pihaknya terkendala kepemilikan aset. "Kami ini hanya sebagai pihak yang menempati alias memakai. Aset dan lain sebagainya itu kan milik DLH Banjarmasin. Posisi kami hanya sebagai pemakai," tekannya.

Menurutnya, ketika ingin melakukan sesuatu, misalnya ingin menambah atau membongkar apa yang ada pada bangunan itu, maka harus seizin DLH. "Berbeda bila pengelolaannya diserahkan ke kami. Kami bisa menganggarkan terkait rehab dan lain sebagainya," ujarnya.

Ikhsan berharap pengelolaan dan pemeliharaan aset bangunan perpustakaan itu bisa diserahkan kepada pihaknya. "Jadi kami bisa menganggarkan. Fasilitas atau sarprasnya bisa kami lengkapi. Bahkan, kami pun bisa menugaskan petugas dengan jam kerja lebih lama lagi," janjinya.

"Sejauh ini, yang jadi milik kami kan hanya buku-buku itu saja," tekannya.

Terkait jumlah kunjungan, Ikhsan mengklaim bahwa perpustakaan itu tak pernah sepi kunjungan. "Pagi yang paling ramai atau saat jam olahraga," sebutnya.(war/gr/dye)

Editor : Muhammad Helmi
#banjarmasin #Pendidikan