Upaya menggandeng para pengusaha dalam menekan angka stunting di Kalsel diwujudkan oleh BKKBN Kalsel lewat program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS). Sosialisasi terkait program BAAS ini digelar oleh BKKBN Kalsel di Rattan Inn Banjarmasin, Senin (28/11). Kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri oleh perwakilan perusahaan yang ada di Kalsel, para Bupati dan Wali Kota se-Kalsel, serta perwakilan para anggota Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) se-Kalsel.
Kepala Perwakilan BKKBN Kalsel, Ramlan menuturkan BAAS adalah program yang melibatkan para pemangku kepentingan secara terstruktur dan terukur dalam mempercepat penurunan stunting yang menyasar langsung kepada kelompok sasaran. “Dalam kesempatan ini, kami mengajak para pengusaha yang ada di Kalsel untuk bersama-sama pemerintah menurunkan angka stunting. Yakni, dengan bergabung menjadi BAAS,” ungkap Ramlan.
Ramlan menuturkan angka stunting di Kalsel sangat tinggi dikarenakan kurangnya pola asuh orang tua di 1000 hari pertama kelahiran anak. “Selain itu, angka kawin muda di Kalsel juga cukup tinggi, sehingga banyak pasangan muda yang tidak siap ketika memiliki momongan. Idealnya, seorang wanita siap untuk bereproduksi pada usia 21 tahun. Untuk itu, kepada para pasangan muda, diimbau untuk menunda memiliki momongan sampai usia ideal,” tambahnya
Ditambahkan Ramlan, dalam acara tersebut pihaknya mengundang setidaknya seratus perwakilan pengusaha di Kalsel. “Diharapkan, lewat sosialisasi BAAS di acara ini, para pengusaha di Kalsel semakin peduli dalam menekan angka stunting di Kalsel. Yakni, dengan menjadi Bapak asuh para anak-anak stunting di Kalsel,” sambungnya.
Sementara itu, Sekretaris Utama BKKBN Pusat, Tavip Agus Rayanto menjelaskan para pengusaha atau perusahaan berkontribusi besar terhadap pembangunan. “Sekitar 80 persen anggaran pembangunan merupakan kontribusi dari kalangan pengusaha. Terkait pembangunan, para pengusaha tak hanya dilibatkan dalam pembangunan, tapi juga dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Dalam hal ini, para pengusaha kami minta terlibat dalam menekan angka stunting di Indonesia, yakni lewat program BAAS,” sebut Tavip.
Tavip menjelaskan untuk bergabung dalam program BAAS disesuaikan dengan kemampuan para pengusaha. “Antara lain, bisa memberikan sumbangan kepada pihak ketiga untuk dikelola memenuhi nutrisi anak penyandang stunting. Atau bisa juga turut membantu pembangunan fasilitas kesehatan dan lingkungan yang sehat. Bagi pengusaha di bidang media, bisa turut membantu dengan menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat lewat publikasi,” tambahnya.
Di Indonesia, Tavip menceritakan antusiasme para pengusaha bergabung di program BAAS sangat tinggi. “Setidaknya, sampai saat ini ada seribu mitra lebih yang gabung di program BAAS, dan sebagian besar merupakan para pengusaha,” urainya.
Di sisi lain, Sekdaprov Kalsel, Roy Rizali Anwar meminta para pengusaha di Kalsel turut mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka prevalensi stunting di Kalsel. “Program BAAS ini salah satu upaya Pemprov Kalsel dalam menurunkan angka prevalensi stunting. Diharapkan, semua pengusaha di Kalsel bisa mendukung dengan bergabung di program BAAS ini,” tandasnya.
Faisal, perwakilan sebuah perusahaan BUMN menyatakan pihaknya siap berkoordinasi dengan BKKBN Kalsel dalam program BAAS tersebut. “Tentunya, program BAAS ini akan kami sampaikan kepada pimpinan. Sebelumnya, perusahaan kami juga berperan aktif dalam membangun fasilitas air bersih yang sehat untuk masyarakat Kota Banjarmasin lewat program CSR,” tandasnya.(adv/oza) Editor : Arief