Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jangan Panik, Scabies Bukan Cacar Monyet

Muhammad Helmi • Kamis, 3 November 2022 | 13:44 WIB
URAT NADI: Warga Kota Banjarmasin masih membutuhkan sungai untuk MCK. FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
URAT NADI: Warga Kota Banjarmasin masih membutuhkan sungai untuk MCK. FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
BANJARMASIN - Isu cacar monyet merebak di Banjarmasin. Benarkah demikian? Tenang dulu, itu belum benar. Faktanya, hanyalah scabies atau kudis.

Scabies merupakan penyakit kulit akibat kutu sarcoptes scabies yang menular melalui kontak fisik. Di Banjarmasin menyerang anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, M Ramadhan menyampaikan informasi itu kemarin (2/11). "Bukan cacar monyet. Alhamdulillah di Banjarmasin tidak ada," ujarnya.

Untuk scabies, Ramadhan mengaku pihaknya ada mendapatkan laporan beberapa warga terserang. Tapi, itu sudah sekitar sebulan yang lalu. "Lokasinya, ada di Kelurahan Alalak Tengah. Sudah kami tangani," ucapnya.

"Angkanya tidak tinggi. Hanya beberapa,” katanya.

Di tempat lain, belum ada informasi. “Sebelumnya, ada pula di Kelurahan Sungai Miai. Tapi, itu juga sudah selesai," tambahnya.

Penyakit scabies ini banyak terjadi di wilayah permukiman padat penduduk. Apalagi di daerah kawasan pinggiran sungai. Ini dipengaruhi faktor kebiasaan masyarakat yang masih banyak menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Kerap pula menyerang di pondok asrama. Misalnya, pesantren, panti, barak militer, serta kos-kosan. "Tak ketinggalan di kalangan anak sekolah.

Umumnya melakukan kontak erat (fisik). Tapi, sekali lagi, laporan yang kami terima baru ditemukan kejadiannya di Alalak Tengah," terangnya.

Menurut Ramadhan, dampak buruk dari scabies hanyalah gatal-gatal dan ketidaknyamanan. Penanganannya bisa meliputi pemeriksaan, diagnosis, dan terapi. "Setiap pasien yang berobat di puskesmas, kami tangani dengan terapi obat-obatan anti gatal atau anti kutu," ucapnya.

Kendati demikian, bukan berarti penanganan tak ada kendala. Tidak semua anggota keluarga datang bersamaan untuk berobat. Alhasil, petugas kesling mesti mendatangi keluarga yang bersangkutan.

Ramadhan mengingatkan pengobatan medis bukanlah inti tatalaksana. Ia berharap masyarakat bisa lebih menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). "Jaga kebersihan pasien dan lingkungan. Supaya kutu scabies tidak menyebar," tuntasnya.(war/az/dye)
Editor : Muhammad Helmi
#banjarmasin #Banua Kesehatan