Tak punya aplikasi, jangan coba-coba naik. Petugas akan menolak. Namun, alat pemindainya ternyata belum siap. Akhirnya, hanya digantikan dengan poster kode batang di kaca depan. Persis di samping pintu masuk bus.
"Besok (hari ini) serentak diberlakukan (tarif). Jadi tak ada penundaan," ujar Kasi LLAJ Balai Perhubungan Transportasi Darat Wilayah XV Kalsel, Ade Supriadi kemarin (30/10).
Lantas mengapa alat pindainya belum? Ade beralasan, ada pergantian vendor untuk pengadaannya. Akibatnya terjadi keterlambatan pemasangan.
Dan ini tak hanya dialami Kalsel. "Termasuk Makassar, Banyumas dan daerah lainnya. Pengganti sementara, disediakan barcode yang biasa digunakan pada transaksi ojol. Tak masalah, sama saja," jelasnya.
Meski cuma diganti poster, dia menjamin transaksi takkan terganggu. Lantaran sistemnya sama-sama terkoneksi.
"Kami pastikan besok sudah beroperasi," janjinya.
Dari 75 unit Buy The Service (BTS) Banjarbakula, sampai kemarin siang, tersisa 18 unit yang belum dipasangi poster itu. "Untuk pemasangan di koridor 1, 2 dan 4 sudah selesai, tinggal di koridor 3 dan bus cadangan," sebutnya.
Belum tersedianya alat pindai, bakal menyulitkan penumpang yang tidak memiliki smartphone. Sebab mereka tak bisa membayar hanya dengan bermodal kartu e-Money.
Mereka hanya bisa membayar, terkecuali ada penumpang lain yang berbaik hati menolong.
"Kartu saja nggak bisa, barcode-nya khusus buat scan dengan gawai," ujarnya. Ditargetkan, semua bus terpasang alat pindai pada 21 November mendatang.
Perihal skema tarif, ada beberapa opsi. Pertama, Rp4.300 hanya untuk satu koridor. Jika berganti koridor, maka berlaku kelipatan.
Kedua, menggunakan per jam pelayanan. Misalkan tiga jam pertama Rp4.300, tiga jam berikutnya berlaku kelipatan.
Jika skema pertama yang diambil, artinya Bus Trans Banjarbarkula lebih murah dari Bus Rapid Transit (BRT) milik Pemprov Kalsel. Sedangkan bila skema kedua yang diambil, artinya lebih mahal.
Pada akhirnya, diputuskan untuk mengambil skema yang pertama. Sama dengan daerah lainnya.
Perlu diketahui, untuk BRT pemprov dikenai tarif Rp5 ribu untuk penumpang umum dan Rp2 ribu untuk pelajar. "Keputusannya, tiap naik harus bayar, bukan per jam perjalanan," tutup Ade.
Komentar Penumpang
Pengguna layanan BTS tak lagi menggunakan uang tunai. Penumpang mesti mengunduh aplikasi TemanBus di PlayStore atau AppStore yang dananya tinggal di-top up.
Sementara kartu e-Money, bisa diperoleh penumpang melalui bank yang menyediakan layanan uang elektronik. Seperti e-Money Bank Mandiri, Indomaret Mandiri, Flazz BCA, TapCash BNI, dan BRIZZI dari BRI, yang juga saldonya di-top up.
Sudah menjadi transportasi andalannya, Febry mengaku tak keberatan membayar tarif. Dia cuma berharap, ketika sudah dikenai tarif, maka kenyamanan dan keamanan penumpang lebih terjaga.
"Walaupun lumayan juga. Kalau ke kantor saya di Banjarbaru, artinya perlu Rp8.600 untuk sekali jalan," kata warga Banjarmasin ini.
Febry adalah pengguna aplikasi, bukan kartu e-Money. Menurutnya, selain praktis, saldo yang dimiliki lebih mudah terpantau. "Tinggal buka aplikasinya, mudah tak ribet," imbuhnya.
Berbeda dengan Halim, warga Pematang Panjang, Kabupaten Banjar ini resah.
Buruh bangunan yang tiap hari bolak-balik ke Banjarmasin ini mengaku kesusahan, sebab ia tak memiliki gawai.
"Padahal sudah beli (kartu e-Money) beberapa pekan lalu," keluhnya.
Dia berharap, pramudi tetap melayani penumpang yang tak memiliki smartphone. Toh dia tetap membayar.
"Gaji saya tidak seberapa, belum mampu membeli hape. Semoga nanti petugas mau membantu," ujarnya.
Sedangkan Madi, warga Jalan Sulawesi, Banjarmasin Tengah itu menyayangkan penerapan tarif yang terburu-buru. Mengingat infrastrukturnya saja belum siap.
"Kemarin penumpang diminta membeli kartu (e-Money). Jadi lebih baik ditunda dulu. Kasihan yang cuma punya hape jadul," ujarnya. (mof/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi