Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Diberi Resep Obat Sirop oleh Dokter, Asha Akhirnya Meninggal

Muhammad Helmi • Jumat, 28 Oktober 2022 | 11:20 WIB
Ashalina Kamila Zuhdi
Ashalina Kamila Zuhdi
PELAIHARI - Di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Tanah Laut, ada dua kasus kematian akibat gangguan gagal ginjal akut progresif atipikal.

Menimpa balita berusia 1,6 tahun dan lima tahun. Kedua kasus ini sudah dikonfirmasi Kementerian Kesehatan.

Radar Banjarmasin menelusurinya. Salah satu anak bernama Ashalina Kamila Zuhdi. Anak pertama dan tunggal dari pasangan muda Muhammad Fachmie Auda dan Maulida Yulianti.

Kemarin (27/10), sang ibu bersedia membagikan kisah sedih ini.

Maulida ingat, antara tanggal 6 sampai 12 Agustus, Asha dua kali menderita demam tinggi. Untuk meredakannya, diberi obat sirop merek Uni Baby's Cough Syrup.

"Karena hanya demam dan tak disertai batuk, jadi hanya dikasih dua kali minum," ungkap tenaga tata usaha di SDN 1 Angsau ini.

Suhu badan Asha tak kunjung turun, Maulida lantas membawa anaknya ke dokter. Menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Kembali diresepkan Uni Baby's Cough Syrup ditambah antibiotik merek Yusimox.

Antibiotiknya habis diminum. Tapi pemberian obat sirop dihentikan pada tanggal 17 Agustus.

"Jumat malam, tanggal 19 Agustus, Asha muntah-muntah dan tidak mau pipis. Dokter menjelaskan, mungkin tidak pipis untuk menggantikan cairan tubuh. Karena ia makan dan minum hanya sedikit," kisah perempuan 24 tahun ini.

Jika tidak pipis sampai hari kedua, dokter menyarankan untuk dibawa ke unit gawat darurat. "Tanggal 20 Agustus, sekitar 19.30 Wita, Asha masuk UGD salah satu rumah sakit swasta di Pelaihari," sebutnya.

Namun, kamar baru didapat pukul 23.00. Besok siangnya, dokter mendiagnosis terjadi pembengkakan hati.

Tetapi setelah di-rontgen, dokter menyimpulkan akibat gagal ginjal dan menyarankan untuk segera dirujuk ke Banjarmasin.

Tanpa pikir panjang, mereka setuju dirujuk ke RSUD Ulin. Namun sampai mendekati tengah malam, tak ada kejelasan. Jawabannya hanya semua kamar sedang penuh.

Lewat bantuan seorang kenalan, Maulida mengecek ke RSUD Ansari Saleh. Hasilnya sama saja, semuanya penuh.

"Karena keduanya sedang penuh, maka disarankan masuk ICU di Pelaihari saja. Sebab alatnya kurang lengkap, jadi hanya dipasangi kateter," lanjutnya.

Saat membesuk pukul 11.30, 22 Agustus, Asha muntah dan hilang kesadaran. Muntahannya berwarna hitam.

"Bibirnya kering sekali," ujarnya lirih.

Bersama suaminya, Maulida sudah ikhlas melepas Asha. Mereka tak sanggup melihat napas Asha yang tinggal satu-satu dengan perut membengkak.

Setelah zuhur, kepala sekolah tempatnya bekerja datang menjenguk. Menjamin bakal ada bantuan lewat dana patungan di sekolah.

Harapan Maulida bangkit, "Kami lantas meminta dirujuk lagi lewat jalur umum. Sore pukul 17.00 kami berangkat ke Rumah Sakit Sari Mulia di Banjarmasin."

Pukul 18.30, lewat tes antigen di UGD Sari Mulia, Asha malah dinyatakan positif covid.

Akhirnya, dirujuk lagi ke Ulin. Tapi baru sempat dipasangi alat deteksi jantung, Asha sudah pergi.

"Anakku tampak sudah lelah. Lalu aku bisiki telinganya: kalau mau terus sama mama, ayo sehat. Tapi kalau mau pulang, secepatnya. Karena alat-alat ini bikin Asha sakit," ceritanya.

"Tak sampai 10 menit ia meninggal dunia," sambungnya.

Maulida tak pernah menyangka anaknya terkena gagal ginjal akut. Sebab saat itu kasusnya belum heboh seperti sekarang.

"Apalagi orangnya tidak pernah sakit parah. Kalau sakit hanya pilek biasa saja," tutupnya.

Tim dari Dinas Kesehatan kabupaten dan provinsi sudah berkunjung ke rumahnya, Senin (24/10) tadi untuk mengambil sampel obat dan susu. Namun obat-obat Asha sudah lama Maulida buang.

Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tala, Antonius Jaka meminta para orang tua untuk menghindari obat sirop yang dijual bebas di pasaran.

Jika terlanjur dikasih obat sirop, harus diawasi. "Tolong air kencingnya dipantau. Jika berwarna pekat seperti air teh, langsung diperiksakan," imbaunya.

Jika selama 1x24 jam tidak ada buang air kecil, Jaka meminta, agar orang tua langsung membawa anaknya ke UGD RSUD Hadji Boejasin. "Di sana dokter spesialis anak sudah siap membantu," jamin Jaka.

Kementerian Kesehatan melaporkan terjadinya peningkatan kasus gagal ginjal akut di Indonesia. Per tanggal 26 Oktober, sudah 269 kasus. Dengan kasus kematian mencapai 157 anak. Tingkat kematiannya mencapai 58 persen. (sal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Gagal Ginjal #Tanah Laut #Banua Kesehatan