Satu mahasiswa yang mendorong sepeda mengenakan baju terbuat dari kardus. Di bagian depan bertulisankan, "BBM Naik Lagi”. Sedangkan di belakang, “BBM Naik Rakyat Tercekik”.
Sementara mahasiswa satunya, di dadanya tergantung dua lembar karton putih. Di bagian atas bertuliskan, "Lagi Menghemat BBM, Pertalite Mahal”. Sedangkan di bawah, “BBM Naik Rakyat Tercekik, Dimana Nurani Pemerintah”.
Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang sudah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Aksi ini kami lakukan untuk merespons kenaikan BBM yang sudah dilakukan pemerintahan,” kata Fahri, salah satu mahasiswa, kepada Radar Banjarmasin.
Fahri mengatakan, kebijakan pemerintah menaikan Pertalite dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter, Solar dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter, Pertamax dari Rp12.500 menjadi Rp14.500 per liter, sudah menyakiti hati masyarakat.
Efek domino dari kebijakan itu, dinilai menjalar kemana-mana. Termasuk terhadap kebutuhan pokok masyarakat. Harganya bakal melambung tinggi. Padahal pemerintah tahu, perekonomian baru saja berbenah akibat pandemi.
Ia menilai, pemerintah mengeluarkan kebijakan sepihak tanpa melihat keadaan sekarang. Seharusnya lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya. Akibatnya masyarakat resah lantaran harga BBM naik.
“Kenyataan yang sangat pahit. Pemerintah tidak memberikan kemudahan, malah menyakiti,” sindirnya. Fahri mengungkapkan, sengaja menjalankan aksi di DPRD dan Pemko Banjarmasin. Supaya pemerintah daerah bisa ikut membantu menyampaikan keluhan masyarakat ke pusat. Karena persoalan ini berdampak luas.
Bagaimana jika aksi yang dilakukan tidak direspons pemerintah? Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan para mahasiswa lain untuk menggelar aksi protes kenaikan BBM.
“Kami akan konsolidasi dengan kawan-kawan untuk merencanakan aksi,” tutupnya. (gmp) Editor : Muhammad Helmi