Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pencemaran Sungai Karena Tumpahan Oli Jangan Sampai Meluas

Muhammad Helmi • Senin, 15 Agustus 2022 | 14:21 WIB
ANGKUT: Pekerja membawa enceng gondok yang diambil di Sungai Awang untuk menangani pencemaran akibat tumpahan minyak.
ANGKUT: Pekerja membawa enceng gondok yang diambil di Sungai Awang untuk menangani pencemaran akibat tumpahan minyak.
BANJARMASIN - Pencemaran sungai diakibatkan karamnya kapal tongkang bermuatan minyak jenis high sulfur fuel oil (HSFO), menjadi perhatian Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Bukan tanpa alasan, tumpahan minyak yang tampak seperti oli itu, menyasar sejumlah aliran sungai di Kota Banjarmasin. Ambil contoh, aliran Sungai Awang, di Kelurahan Sungai Andai.

Mengingatkan pembaca. Sebelumnya, peristiwa karamnya kapal tongkang itu terjadi, Rabu (10/8) malam. Tepatnya, di Jalan Kompleks H Anang Maskur Kecamatan Alalak, Kabupaten Batola.

Berdasarkan hasil observasi lapangan yang dilakukan Satpol Air Polres Batola, pencemaran itu berasal dari minyak jenis high sulfur fuel oil atau HSFO. Biasanya, bahan bakar ini digunakan untuk mesin diesel putaran rendah pada perkapalan hingga bahan bakar industri.

Kemudian, berdasarkan informasi yang didapat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola, tumpahan minyak diprediksi mencapai 2,5 hingga 3 ton.

Selain mengambil sampel di aliran air yang tercemar untuk diuji di UPT Laboratorium Lingkungan Batola, pihaknya juga bekerja sama dengan Satpol Air Polres Batola, untuk melakukan penelitian dokumen.

DLH Batola menyarankan agar pemilik kapal alias perusahaan meletakkan eceng gondok di sekitar lokasi atau perairan yang tercemar. Agar minyak yang tumpah menempel di eceng gondok, sehingga tumpahan minyak bisa lebih mudah dibersihkan.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan laporan adanya pencemaran sungai yang terjadi dari Kepala DLH Banjarmasin, Alife Yoesfah Love.

"Komunikasi secara langsung ke Pemkab Batola memang belum. Tapi karena memerlukan penanganan segera. Kami meminta DLH untuk menangani," ucapnya, Sabtu (13/8) tadi.

Penanganan seperti apa? Ibnu menginstruksikan petugas kebersihan untuk mengangkut enceng gondok yang disebar di permukaan aliran sungai.

"Enceng gondok itu sengaja dikumpulkan, dilempar ke limbah yang ada. Agar lengket di akar-akar enceng gondok. Itu yang diangkut secara rutin. Tadi sudah beberapakali diangkut dan cukup mengurangi pencemaran," ucapnya.

Sungai Awang, Kuin, bahkan Sungai Barito, menurut Ibnu, pasti terdampak. Maka, ia meminta kepada masyarakat yang bermukim di pinggir sungai untuk ikut menjaga kebersihan sungai.

"Terutama yang ada kapal-kapal tanker, tugboat dan sebagainya. Agar jangan sampai limbah-limbah mencemari lingkungan perairan kita," ujarnya.

Menurutnya, Sungai Awang adalah salah satu kawasan industri. Kemudian kalau masuk ke daerah Terantang itu bagus untuk susur sungai. "Sayang kalau alamnya tercemar," tambahnya.

Ibnu mengklaim mengambil inisiatif, agar pencemaran bisa lokalisir. "Karena sungai ini pasang surut. Saya khawatir limbahnya bolak balik dan mencemari lingkungan makin jauh lagi," pungkasnya.

Terpisah, akademisi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), H Kaspul, menilai, cemaran akibat tumpahan minyak jenis high sulfur fuel oil atau HSFO bisa membahayakan makhluk hidup di air.

Alasannya, karena limbah yang mencemari lingkungan perairan dapat mengubah sifat fisiko-kimia air sungai.

Secara fisika, limbah yang dibuang ke sungai menutupi permukaan dan menyebabkan menurunnya tegangan permukaan air. Menghambat penetrasi cahaya ke dalam sungai.

Lalu, dapat menghambat singgungan udara dengan permukaan air sungai. Mengubah tekanan hidrostatik hingga mengubah suhu air.

Selanjutnya, pencemaran yang terjadi juga dapat mengubah sifat kimia air. Misalnya, perubahan pH atau indikator tingkat asam atau basa pada air. Perubahan daya larut oksigen dalam air, perubahan kandungan oksigen dan karbon dioksida dalam air.

"Perubahan fisika dan kimia dalam air akibat limbah itu berdampak pada mikro-organisme, dengan mematikan mikro organisme air," jelasnya, Sabtu (13/8) petang.

Akibatnya, proses dekomposisi atau penguraian oleh bakteri menjadi terganggu. Khususnya keseimbangan ekosistem atau kehidupan mahluk hidup di sungai.

Peluang pencemaran juga dapat meningkatkan reproduksi mikro organisme. Misalnya pertumbuhan alga atau ganggang secara berlebihan. Ini mengakibatkan air sungai menjadi hijau atau biru dan berbau tak sedap.

Melimpahnya alga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air sungai. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan punahnya biota air tertentu.

Lebih jauh, dosen Prodi Biologi FKIP di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu menekankan, bila limbah yang mencemari dibiarkan dalam jangka waktu lama, juga dapat menyebabkan keracunan bagi manusia.

"Melalui proses biomagnifikasi, atau melalui rantai makanan karena penimbunan zat beracun secara perlahan-lahan," tutupnya. (war) Editor : Muhammad Helmi
#Sungai awang #sungai tercemar