Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kesal dan Panik, Gamer di Banua: Mending Memblokir Situs Judi

Muhammad Helmi • Senin, 1 Agustus 2022 | 15:14 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
BANJARBARU - Pekan pertama Juli lalu, lewat event Steam Summer Sale 2022, diumumkan banyak gim baru. Platform ini bak surga bagi maniak gim, terutama gim berbasis PC.

Hanya 20 hari setelahnya, pesaing Steam, Epic Games menggelar event serupa. Yakni Epic Games Summer Sale 2022, di sana juga banyak gim anyar untuk dinikmati.

Namun, dua event tadi menjadi tawar. Sabtu (30/7) menjadi hari kelabu bagi pencinta gim di tanah air.

Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir sejumlah platform distribusi gim populer dengan alasan belum mendaftar ke PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik).

Termasuk Steam dan Epic Games yang sudah familiar di Indonesia. Kebijakan yang memicu protes.

Bicara industri, hobi bahkan kompetisi, Kalsel tak mau kalah. Bahkan, semakin hari, atlet gim elektronik atau akrab disebut eSports kian bermunculan.

Salah seorang pencinta game Dota 2 di Banjarbaru, Boim mengaku kesal. Gegara Steam diblokir, ia kini tak bisa mengakses akun gim jenis MOBA ini. "Tak bisa diakses. Informasinya diblokir saat mau masuk," ujarnya.

Boim yang sudah main Dota 2 bertahun-tahun ini sempat panik. Ia khawatir akun yang sudah lama dibangunnya hilang, "Lebih khawatir ke sana, takut kena banned."

Ia sudah mencoba trik memakai VPN (Virtual Private Network). Awalnya bisa diakses, tapi semakin lama digunakan terjadi gangguan jaringan. Bahkan sampai disconnect (putus sambungan).

"Takut juga pakai VPN, takutnya dianggap akun ilegal. Gak berani juga pakai trik DSN (Domain Name Server), kurang aman katanya," tambahnya.

Karyawan swasta berusia 27 tahun ini berharap pemblokiran hanya sementara. "Ya cepat-cepat lah dibuka, kasihan yang mau main gim, apalagi yang sudah lama main," katanya.

Kegusaran sejumlah gamers diwakili oleh Firdaus K Yudha. Ketua Esport Indonesia (ESI) Banjarbaru ini mengaku kebanjiran keluhan dari pemain gim Dota 2.

"Banyak player yang bertanding di kancah internasional saat ini tidak bisa melanjutkan pertandingan karena Dota diblokir. Sangat merugikan," katanya.

Ia juga mengkritisi langkah Kemkominfo. Dia heran, karena ada situs-situs yang kurang bermanfaat justru tetap dibiarkan berkeliaran.

"Contoh situs judi online, kenapa tidak diblokir," katanya membandingkan.

Meski tak ada data pasti, Firdaus mengklaim ada banyak player di Banjarbaru yang memainkan gim-gim yang terkena blokir Kemkominfo.

"Yang jelas, rata-rata player yang memakai aplikasi seperti Steam itu. Sementara ini mereka tidak bisa bermain. Kalau pakai VPN, banyak yang waswas," tambahnya.

Di lain pihak, Ketua Harian Indonesia eSports Association atau IESPA Kalsel, Fredy Adam juga turut menanggapi pemblokiran ini. IESPA adalah organisasi yang mewadahi para gamers.

Ditegaskan Adam, pemblokiran ini sangat berdampak. Baik bagi pencinta gim hingga atlet. Sebab, tak bisa mengakses sama saja dengan vakum latihan.

"Di Kalsel, untuk kategori gim berbasis personal console dengan platform Steam juga ada. Dari data kita, IESPA juga punya atlit Dota 2. Tentu, jika masalah ini berlarut-larut pasti akan berdampak pada pembinaan," tanggapnya.

Adam sendiri berharap agar kebijakan ini bisa segera dicabut dan tidak merugikan industri gim elektronik, terutama dari sisi pembinaannya.

"Kami yakin pemblokiran ini hanya bersifat sementara. Kami masih berharap pemerintah mendukung olahraga eSport ini," yakinnya. (rvn/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#kominfo