Pada masa sosialisasi ini, Radar Banjarmasin menelusuri beberapa SPBU. Mengingat di kota pertama uji coba, Banjarmasin juga belum siap.
Di SPBU Jalan HM Cokrokusomo atau persimpangan Cempaka menuju kantor gubernur, penerapan aplikasi itu masih tak tampak. Walau banner sosialisasinya sudah tampak dipasang di jalur pengisian.
"Kata bos masih sosialisasi. Infonya sih awal bulan (Agustus) ini dimulai. Ada juga beberapa pelanggan yang bertanya, saya jawab belum berlaku," ujar seorang operator SPBU yang enggan menyebutkan namanya.
Dia mengaku sudah dilatih untuk menerapkan MyPertamina. Diakuinya, bakal sulit jika harus diterapkan ketika pembeli sedang padat.
"Sepertinya sulit kalau lagi ramai, apalagi jika pelanggan belum mendaftar atau belum bisa menggunakan. Tapi karena perintah, jalani saja," ujarnya jujur.
Beralih ke SPBU Coco di Jalan A Yani km 34, banner MyPertamina juga sudah terpasang. Bahkan dalam jumlah lebih banyak. Maklum, SPBU ini termasuk yang terbesar dan paling ramai di Banjarbaru.
Sama seperti di Cempaka, aplikasi itu juga belum dipakai. Operator juga belum memberi tahu pelanggan tentang tata cara registrasi.
Menurut salah seorang operator SPBU Coco, kabar dari manajemen menyebutkan MyPertamina akan berlaku per tanggal 1 Agustus nanti.
"Sekarang belum, masih sosialisasi. Berlaku 1 Agustus. Nanti akan benar-benar diterapkan, kami sudah dapat instruksi. Utamanya di sini, kalau di (SPBU) lain enggak tahu," katanya.
Dia juga mendapat pelatihan untuk menerapkan aplikasi itu. "Insyaallah siap. Nah, yang jadi pertanyaan kan pelanggan bagaimana? Semoga nanti enggak sampai macet," ceritanya.
Kemudian, komentar pembeli BBM bersubsidi di Kota Idaman, banyak di antara mereka yang merasa repot.
"Saya lihat di Banjarmasin malah tidak efektif. Dari berita malah ada petugas SPBU yang tidak siap. Akhirnya malah tak jalan," kata Kurnia, warga Mentaos yang sering membeli Pertalite.
Senada dengan Basri, sopir truk mengaku tak paham dengan penerapan MyPertamina. Baginya merepotkan.
"Saya tak paham. Di handphone saja tak banyak aplikasi. Paling WA saja. Bikin ribet, mending seperti biasa saja," gerutunya.
Ia kaget kalau aturan melebar ke Banjarbaru. Jika diterapkan, Basri rupanya tak habis akal. Ia secara spontan menjawab bakal mencari SPBU di wilayah Martapura.
"Kalau di sini seperti itu, malas jadinya. Mending ke Martapura saja. Daripada ribet dan malah nanti memperlambat, ya ngisi (solar) di lain saja," katanya. (rvn/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi