Kini ada terobosan terbaru. Petani dibantu Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara memanfaatkan Drone Sprayer Remote Controlling untuk membasmi gulma tersebut. Penyemprotan racun untuk tumbuhan itu menggunakan alat yang terbang di atas permukaan gulma.
Petani lahan rawa di Babirik, Madi mengaku senang dengan adanya drone yang dapat membasmi tanaman gulma. Menurutnya, jika dibasmi secara manual sangat berat. Jumlah Susupan Laki begitu banyak.
"Jika kemarau dibakar, pertumbuhan Susupan Laki tersebut begitu cepat. Dipotong manual sangat lama. Jadi semoga dengan adanya drone penyemprotan gulma ini bisa mempercepat proses tanam," harapnya.
Kepala Desa Kalumpang Luar, Darmansyah mengakui gulma tumbuh menyebar di lahan pertanian di desanya. Bahkan juga terjadi di desa lainnya di Kecamatan Babirik. "Petani resah Susupan Laki ini. Gulma akhirnya disemprot memakai herbisida dengan teknologi drone yang terbang dikendalikan operator. Jadi semua area dapat dijangkau, dibandingkan dengan cara manual," kata Darmansyah.
Uji coba alat ini dilakukan Rabu (29/6) lalu. "Selain desa kami, ada empat desa yang akan disemprot menggunakan drone. Desa Murung Panti Hulu, Murung Panti Hilir, dan Sungai Luang Hilir. Pembiayaan kegiatan ini bersumber dari Dana Desa pos pertanian," jelas Darmansyah.
Sebelumnya, kelompok tani menggunakan alat berat untuk membersihkan gulma. Secara biaya lebih besar. "Jadi peraturan pemerintah membolehkan penggunaan Dana Desa 20 persen untuk porsi pertanian. Drone ini menjadi solusi," tegasnya.
Proses penyemprotan gulma pakai drone melibatkan pihak swasta di bidang agroindustri untuk menyediakan peralatan dan operator drone. Penyemprotan dengan menggunakan drone DJI MG-1P mampu membawa 10 liter air. Cukup untuk lahan seluas 1 hektare dengan waktu cuma beberapa menit. Jadi sangat efisien dan minim biaya.
Kepala Dinas Pertanian HSU, Masrai Syawfajar Nejar memberi apresiasi pihak Desa Kalumpang Luar dan desa lainnya yang menyisihkan beberapa persen Dana Desa untuk kemajuan sektor pertanian di daerah ini. "Mudahan semakin banyak desa yang mengadopsi anggaran untuk ketahanan pangan, baik untuk pertanian, perikanan, atau peternakan," harap Masrai.(mar/az/dye)
Editor : Muhammad Helmi